Search This Blog

> Belajar Matematika dan Sains Menyenangkan
Showing posts with label Percobaan Seru. Show all posts
Showing posts with label Percobaan Seru. Show all posts

Thursday, July 30, 2026

Kotak Bekas

 


“Ibu, kotak-kotak ini untuk apa?” Mia bertanya pada ibunya yang sedang membereskan dapur. Dia melihat banyak kotak bekas susu, kotak bekas kue, dan kotak bekas sereal berserakan di lantai.

“Oh, itu mau dibuang. Tidak terpakai,” jawab Ibu. “Apa Mia mau pakai?”

“Untuk apa ya, Bu? Ini kan cuma kotak bekas,” Mia balik bertanya pada Ibu, merasa tidak ada gunanya menyimpan kotak-kotak itu.

“Entah, barangkali Mia memerlukannya saja,” sahut Ibu. 

*** 

Mia baru saja selesai menyapu lantai, ketika adiknya, Nino datang sambil cemberut.

“Ada apa, Nin? Kok wajahmu kusut seperti baju yang nggak disetrika,” Mia menggoda Nino.

Nino melirik Mia sebentar, lalu berpaling pada Ibu, mendekatinya, dan berkata, “Bu, aku ingin punya mobil-mobilan seperti punya Satrio. Truk besar, rodanya ada delapan, dan bisa ditarik pakai tali yang panjang. Belikan aku ya, Bu,” rengek Nino.

Ibu menghentikan beberesnya, lalu memandang Nino, “Bukannya baru kemarin Nino membeli mainan? Kamu harus menabung lagi kalau mau membeli mainan yang lain.”

Nino yang sudah menduga jawaban Ibu terdiam, kemudian berlalu meninggalkan Ibu dan Mia. Masih dengan wajah yang cemberut.

Mia tiba-tiba punya ide. “Ibu, kotak bekas ini buat aku semua ya,” kata Mia sambil mengumpulkan semua kotak yang sudah siap dibuang, lalu berlari keluar menyusul Nino.

Beberapa kali Mia bolak-balik mengambil gunting, lem, kertas warna-warni, tali, dan alat-alat lain yang biasa dipakainya untuk membuat prakarya.

Ibu hanya geleng-geleng kepala melihat anak perempuannya yang tiba-tiba sibuk.

Mia hendak membuat sesuatu berbentuk balok, yang berukuran panjang 60 cm, lebar 30 cm, dan tinggi 35 cm. Untuk membuat balok tersebut, Mia ingat tugas sekolahnya bulan lalu. Membuat jaring-jaring bangun ruang. Untuk balok, Mia membuat jaring-jaring yang terdiri dari dua persegi panjang berukuran 60 cm x 30 cm, dua persegi panjang berukuran 60 cm x 35 cm, dan dua persegi panjang berukuran 30 cm x 35 cm. Maka Mia membutuhkan kardus dengan luas = 2 (p x l) + 2 (p x t) + 2 (l x t).

Panjang = p = 60 cm; lebar = l = 30 cm; tinggi = t = 35 cm.

Maka luas permukaan balok :

L  = 2 (p x l) + 2 (p x t) + 2 (l x t)

    = 2 (60 x 30) + 2 (60 x 35) + 2 (30 x 35)

    =  3600 + 4200 + 2100 = 9900 cm2.

Setelah mendapat kardus yang dibutuhkan, Mia mulai mengukur dan memotong kardus sesuai dengan jaring-jaring balok yang akan dibuatnya. 

*** 

Tak lama kemudian, dari teras depan terdengar tawa ceria Nino dan Mia. Ibu melihat keluar, penasaran apa yang sedang dikerjakan kedua anaknya.

Ternyata dengan kotak-kotak bekas yang akan dibuang tadi, Mia membuatkan Nino mobil-mobilan besar, berwarna biru tua dengan jendela abu-abu, dihiasi lampu warna-warni, rodanya dua belas dan bisa jalan dengan ditarik tali. Tentu saja Nino senang sekali. 

**Selesai**

Sunday, May 31, 2026

Maya Senang Bisa Membantu

 


“Maya, bisakah Ibu minta tolong?” tanya Ibu dari ruang sebelah.

Maya yang sedang asyik membaca buku langsung berdiri dan mendekat ke arah Ibu, “Ada apa, Bu? Apa yang bisa Maya bantu?”

“Ini nih, jahitan pesanan Bu Marmo kainnya kurang, padahal mau diambil nanti malam. Bu Marmo tidak sempat membelikan kain karena harus mengurus persiapan acaranya di rumah. Kalau Ibu berangkat sendiri, pasti jahitan ini tidak bisa selesai tepat waktu. Bisakah Maya membelikannya di toko Pak Tomo?” pinta Ibu.

“Tentu saja, Bu. Maya juga sedang tidak ada kegiatan selain membaca buku. Biar Maya saja yang pergi,” jawab Maya.

“Ini yang harus dibeli. Dua meter kain brokat harganya Rp30.000 per meter, 2,5 meter kain katun harganya Rp18.000 per meter, dan 1,5 meter kain satin harganya Rp35.000 per meter. Jadi total 6 meter kain.” Ibu memberi dua lembar uang seratus ribuan.

“(2 x Rp30.000) + (2,5 x Rp18.000) + (1,5 x Rp35.000) = Rp157.500. Jadi nanti uang kembaliannya = Rp200.000 – Rp157.500 = Rp42.500.” Maya menghitung dengan jarinya.

Setelah menerima contoh kain yang akan dibeli, Maya berpamitan. “Maya pergi dulu, Bu!”

“Terima kasih ya, Nak. Hati-hati!”

***

 “Hai, Maya. Mau kemana? Kok tergesa-gesa?” sapa Nuri di tengah perjalanan Maya ke toko Pak Tomo.

“Hai, Nur. Aku disuruh Ibu membeli kain di toko Pak Tomo. Aku agak tergesa-gesa, soalnya kain itu harus segera dijahit. Sore nanti harus sudah jadi,” Maya menjawab tanpa menghentikan langkah kakinya.

Nuri mengangguk-angguk sambil terus berjalan menyamai langkah kaki Maya.

“Kamu sendiri mau kemana?” tanya Maya.

“Aku baru saja dari rumah Madun. Ibunya sakit. Waktu aku ke rumahnya, dia sedang mengurus dua adiknya yang masih kecil. Waktu kupegang tangannya, ternyata badan Madun juga panas. Dia demam, tapi tidak bilang ibunya. Kasihan!” kata Nuri.

“Ooh, makanya dia nggak masuk sekolah, ya? Lho, bapaknya tidak ada di rumah?” tanya Maya.

“Kata Madun, bapaknya harus tetap bekerja. Kalau sehari saja tidak masuk, bapaknya tidak akan dibayar dan hari itu bisa-bisa mereka tidak makan,” jawab Nuri. “Madun juga bilang, kalau aku yang tidak makan, nggak apa-apa. Tapi dua adikku dan Ibu yang sedang sakit kasihan. Makanya dia tidak bilang bapaknya.”

“Kita harus membantu Madun, Nur. Paling tidak sampai dia sehat.” kata Maya.

“Iya, kamu benar, May. Lalu sekarang kita bagaimana?”

“Begini, aku harus menyelesaikan tugas yang disuruh Ibu dulu. Aku akan bergegas membeli kain, lalu segera pulang. Sampai di rumah, aku akan izin Ibu untuk pergi ke rumah Madun. Aku mungkin akan membawa sedikit makanan dari rumah, supaya Madun dan keluarganya bisa mengisi perutnya hari ini. Yah, sedikit-sedikit saja, yang penting Madun dan ibunya bisa segera sehat.”

“Baik kalau begitu. Aku juga akan pulang dulu, aku minta izin ibuku juga untuk membawa sedikit beras dan telur supaya bisa untuk persediaan dua atau tiga hari ke depan. Seandainya terpaksa bapak Madun tidak masuk kerja, mereka masih bisa makan,” kata Nuri lalu bergegas lari ke arah rumahnya.

Baru beberapa langkah berjalan, ada yang menyapa Maya lagi. “Hai Maya, mau kemana? Kenapa kelihatan tergesa-gesa?” sapa Itok, kawan sekolahnya juga.

Maya lalu menjelaskan tentang titipan kain pesanan ibunya dan tidak lupa dia menceritakan soal Madun, karena Maya tahu Madun adalah sahabat dekat Itok.

“Oh, tentu saja aku mau datang dan ikut membantu. Kebetulan tadi pagi bapakku pulang memancing dan mendapat banyak ikan. Tentu tidak akan keberatan kalau aku minta sedikit untuk kuberikan pada Madun,” kata Itok bersemangat. Baru berjalan beberapa langkah, Itok berbalik. “Kira-kira berapa lama kamu sampai ke rumah Madun?”

Maya mengernyitkan dahinya, “Jalan ke toko 5 menit, di toko memilih dan menghitung pembayaran 10 menit, kembali ke rumah 5 menit, pamit Ibu dan menyiapkan barang 10 menit, ke rumah Madun 5 menit. Jadi kurang lebih 35 menit aku sudah sampai di rumah Madun,” jelas Maya.

Itok mengacungkan dua jempolnya sambil berlari kecil meninggalkan Maya. Maya bergegas ke toko Pak Tomo, segera membelikan kain pesanan Ibu, lalu kembali ke rumah.

“Ini Bu, kain pesanan Ibu. Benar yang ini, kan?” Maya memastikan.

“Iya, betul. Terima kasih ya, Nak!” kata Ibu.

“Bu, tadi Maya bertemu dengan Nuri. Dia bilang, Madun dan ibunya sakit. Kalau sudah tidak ada yang Maya kerjakan untuk Ibu, Maya mau ke rumah Madun, ya. Mungkin ada yang bisa Maya bantu untuk Madun dan ibunya.” Kata Maya pada Ibu.

“Tentu saja boleh, Nak. Sebentar lagi juga Ibu sudah selesai. Maya bisa bawa beberapa kue lapis yang ada di meja untuk Madun dan adiknya. Ada teh dan gula yang masih utuh di lemari penyimpanan, Maya bisa bawa juga. Sampaikan salam Ibu untuk ibunya Madun, ya. Semoga lekas sembuh,” kata Ibu.

“Siap Bu. Terima kasih.”

“Terima kasih juga sudah membelikan kain pesanan Ibu, ya.”

Maya tersenyum, lalu bergegas menyiapkan beberapa barang untuk dibawa ke rumah Madun. Hari ini dia senang bisa membantu banyak orang.

 

**Selesai**

Thursday, April 30, 2026

Membuat Bingkai Foto

 


“Uh, dari tadi kok nggak bisa pas, sih,” Anis menggerutu sambil meremas kertas karton di depannya.

“Ada apa sih, Nis. Kok marah-marah sendiri gitu,” tegur Kak Ima sambil melongokkan kepalanya, melihat kamar Anis. “Astaga, apa salah kertas-kertas ini, kauremas-remas sampai tak berbentuk.”

Mendengar candaan Kak Ima, Anis meringis. “Ini, Kak. Aku mau bikin bingkai foto, tapi nggak bisa pas kanan, kiri, atas, dan bawahnya. Kata Bu Guru harus sebangun dengan fotonya.”

Ima mendekati adiknya. Dia bisa mengerti, karena adiknya yang super perfeksionis ini memang tidak bisa melihat barang yang dibuat dengan ukuran yang tidak presisi. Selalu ada yang mengganjal meski hanya ada beda sedikit.

“Coba mana fotomu?” tanya Kak Ima mencoba membantu.

Anis menunjukkan foto berukuran alas 16 cm dan tinggi 24 cm, lalu sebuah karton berbentuk persegi panjang. “Foto dan karton harus dibuat sebangun. Lebar karton di sebelah kiri, kanan, dan atas foto adalah 2 cm. Aku harus mencari lebar bagian bawahnya, supaya bisa sebangun.”

“Kamu tahu cara mengukur dua bangun yang sebangun, kan?” tanya Kak Ima.

“Iya, Kak. Ada dua bangun persegi panjang. Foto dan bingkai. Foto mempunyai alas 16 cm dan tinggi 24 cm. Sedangkan bingkai, setelah ditambah 2 cm di kiri dan kanannya, maka mempunyai alas (16 + 2 + 2) cm = 20 cm. Tinggal tingginya yang harus dicari. Untuk mendapatkan tinggi bingkai, supaya sebangun, maka: 

 

Selanjutnya dikali silang, menjadi:

Tinggi bingkai x 16 = 24 x 20

Tinggi bingkai = 480 / 16 = 30 cm.”

“Nah, kan. Itu sudah betul. Sekarang buat bingkai sesuai ukuran, lalu pelan-pelan saja waktu menempelnya. Ukur lagi, kiri, kanan, dan atas harus 2 cm.” Kak Ima membantu membuat ukuran yang tepat. “Nanti sisa lebar bagian bawah seharusnya jadi (30 – 24 – 2) = 4 cm. Ini lebih lebar, ya. Tapi bisa ditambahkan tulisan supaya cantik bingkainya. Iya, kan?”

“Iya, Kak. Wah, kenapa kalau ditemani Kak Ima pasti kerjaanku beres. Lain kali bantuin lagi, ya Kak.” Anis tersenyum nakal sebelum cubitan sayang mendarat di pipinya.

 

*Selesai*

Mengukur Lebar Sungai

Rumah Malik letaknya agak jauh dari desa terdekat. Untuk pergi ke sekolah, Malik harus menyeberangi sebuah sungai yang cukup lebar. Sebelum ada pembangunan masuk desa, Malik dan beberapa anak yang berdekatan rumahnya, harus berangkat pagi-pagi sekali kalau mau ke sekolah. Satu per satu mereka akan menyeberang dengan menggunakan dua utas tali yang dibentangkan kuat-kuat dari ujung tepi sungai yang satu ke ujung tepi sungai seberangnya.

“Hati-hati, pegang kuat-kuat talinya. Jangan lihat ke bawah,” kata Pak Muin yang sering membantu menyeberangkan anak-anak.

Menyeberang menggunakan dua tali, satu untuk pegangan dan satu di bawahnya untuk pijakan, benar-benar harus konsentrasi. Awalnya menakutkan, tapi selanjutnya jadi menantang.

“Memang berbahaya, tapi kalau tidak begitu, tidak bisa sekolah,” jawab Malik ketika ada salah satu orang tua murid yang bertanya.

Sampai akhirnya ada program pembangunan desa, yang menargetkan pembangunan jembatan di sungai yang sering dilewati Malik.

Suatu hari Pak Guru bertanya, “Adakah yang tahu berapa lebar sungai yang diseberangi Malik?”

Malik mengangkat tangannya. “Saya belum menghitung, Pak. Tapi saya pernah lihat Pak Muin dan teman-temannya mengukur lebar sungai ketika akan membangun jembatan.”

“Bagaimana caranya, Lik?” Ucup penasaran.

“Waktu itu Pak Muin menancapkan tongkat di empat titik, yang nantinya akan membentuk dua segitiga sebangun jika dihubungkan dengan sebuah pohon di seberang sungai.” Malik berdiri lalu bertanya pada Pak Guru, “Saya izin maju untuk menggambar di papan tulis boleh, Pak?”

“Tentu saja, Lik!” Pak Guru tersenyum senang karena muridnya berani dan bisa menjelaskan apa yang tadi ditanyakannya.

Di papan tulis Malik menggambar sebuah pohon sebagai ujung segitiga, lalu dua sisi sejajar di bawahnya. Di antara pohon dan sisi terdekatnya ada sebuah sungai yang akan diukur lebarnya. Malik memberi nama keempat titik tersebut, A, B, C, dan D.

“Kalau tidak salah dengar, jarak AB, AD, DC, berturut-turut adalah 8 m, 4 m, dan 6 m.”

Malik menuliskan semuanya di papan tulis. “Dengan dua segitiga yang sebangun ini, kita bisa menghitung lebar sungai, yaitu dengan membuat perbandingan :

Dari perbandingan tersebut, selanjutnya dikali silang:

8 x PD = 6 x (PD + 4)

8 PD = 6 PD + 24

8 PD – 6 PD = 24

2 PD = 24

PD = 24/2 = 12 m.

Jadi jarak antara pohon dengan titik D = lebar sungai = 12 meter.”

Malik meletakkan kapur tulisnya lalu melihat ke arah Pak Guru, meminta untuk dikoreksi jika ada yang salah.

Pak Guru tersenyum sambil mengangkat kedua ibu jarinya, lalu menyilakan Malik duduk kembali.

“Betul sekali pendekatan matematika seperti yang dijelaskan Malik. Dengan memanfaatkan teori kesebangunan, kita bisa mengukur lebar sungai terlebih dulu untuk memperkirakan panjang jembatan yang akan dibuat.” Pak Guru mengangkat jempolnya sekali lagi ke arah Malik. “Nanti pulang sekolah bawa pulang empat buah durian di samping sekolah itu, ya. Makan ramai-ramai dengan teman-temanmu!”

Hore… semua anak berteriak senang.

 

*Selesai*

Tuesday, March 31, 2026

Tumpukan Setrikaan yang Menggunung

 


Liburan sudah selesai, besok sudah masuk sekolah. Mia menemani Ibu yang sedang menata meja untuk alas menyetrika. Seminggu ditinggal mudik, tumpukan pakaian sudah segunung. Karena butuh seragam yang rapi, mau tidak mau, Ibu harus menyetrika.

Dengan cekatan Ibu menyetrika satu per satu seragam sekolah Mia. Lalu baju kerja Ayah, lalu seragam Adik. Seragam Mia lagi, baju Ayah, daster Ibu, lalu celana Adik. Diulang-ulang, agak membosankan. Mia menguap. Setelah membetulkan posisi duduknya, Mia sekarang mengamati gerakan tangan Ibu.

“Mulai dari kerahnya, kemudian sisi yang ada sakunya, kemudian sisi lainnya. Dibalik, dikancingkan, lalu setrika bagian belakangnya. Kalau sudah licin, dilipat dengan rapi.” Sambil memperhatikan Ibu, Mia bergumam mengulangi langkah menyetrika yang dilakukan Ibu.

Ibu tersenyum melihat Mia. Sesekali Mia diajari menyetrika, tapi tetap sambil diawasi, karena terkadang Mia masih meletakkan sisi panas setrika terlalu lama. Setelah bosan belajar menyetrika, Mia kembali duduk manis di sebelah Ibu.

Mia mengamati sambil sesekali mengernyitkan dahinya. “Untuk menyetrika satu baju, kira-kira Ibu membutuhkan waktu 1 menit 30 detik.”

”Oya, sempat juga Mia menghitung,” sahut Ibu.

Mia menjawab sahutan Ibu dengan tersenyum. Dia masih mengagumi tangan Ibu yang terus bergerak cekatan meski sambil berbicara dan memandang ke arahnya.

“Oiya, karena nanti jam 4.10 Ibu ada arisan, Ibu harus selesai menyetrika jam 4.00. Kira-kira Ibu bisa menyelesaikan berapa potong baju?” tanya Ibu tiba-tiba.

Mia melirik tumpukan pakaian yang menuggu untuk disetrika, lalu melihat ke arah jam dinding. Jam menunjukkan pukul dua.

“Sekarang jam 2.00. Kalau Ibu hanya bisa menyetrika sampai jam 4.00, maka Ibu punya waktu 2 jam saja. Karena untuk menyetrika satu baju kira-kira butuh 1 menit 30 detik, maka…

Waktu menyetrika = 2 jam = 2 x 60 x 60 = 7200 detik.

Satu baju = 1 menit 30 detik = 90 detik.

Maka baju yang mungkin disetrika Ibu = 7200 : 90 = 80 potong baju.” Mia menjelaskan sambil memainkan jari-jari untuk membantunya berhitung.

“Wah lumayan banyak. Bisa selesai menyetrika hari ini, nih,” kata Ibu.

“Dengan tangan Ibu yang cekatan pasti bisa, Bu. Mia bantu sambil nonton Doraemon, ya.” Sambil tersenyum menggoda Mia beranjak menyalakan televisi.

 

*Selesai*


Saturday, January 31, 2026

Kue Putu Ayu Buatan Gendhis

 


“Uh, aku capek!” Gendhis meletakkan cetakan kue putu ayu dengan kasar.

“Kenapa, Ndhis? Biasanya kamu membuat kue dengan gembira,” tanya Mbak Nawang sambil mendekati Gendhis.

“Ini, Mbak. Pesanan kue Gendhis banyak sekali,” sahut Gendhis sambil memonyongkan bibirnya. “Padahal Gendhis masih ada PR Matematika. Duh, pusing!”

Kesibukan Gendhis ini berawal sejak bulan lalu. Ketika ada acara Saparan di desanya, Gendhis mencoba membuat kue putu ayu, kue tradisional Jawa Tengah yang sering disajikan ketika ada kegiatan kearifan lokal atau tradisi budaya Jawa.

Sebetulnya membuat kue putu ayu sangat mudah, tapi kata Ibu-Ibu yang mencicipi, kue putu ayu buatan Gendhis istimewa. Sejak saat itu, Gendhis sering menerima pesanan kue dari tetangga sekitar rumahnya.

“Mau Mbak bantu?” tanya Mbak Nawang.

Gendhis memikirkan tawaran Mbak Nawang.

“Ehm, sepertinya tidak usah, Mbak,” sahut Gendhis menolak dengan halus. “Minggu lalu, ketika adonan kue dibuatkan Ibu, kata Bu Puji rasanya kok agak beda, lain dari biasanya.”

“Oya? Bedanya apa?” tanya Mbak Nawang.

“Entahlah, padahal resepnya sama persis. Dan Ibu lebih jago membuat kue. Karena itu, Gendhis berusaha sebisa mungkin membuat sendiri kue-kue ini. Terima kasih sudah menawarkan bantuan, Mbak.”

Mbak Nawang mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. “Mbak bisa mengerti, kok. Mungkin karena Gendhis selalu mengadon kue sambil bersenandung dengan hati gembira, kuenya jadi istimewa,” ucap Mbak Nawang.

Gendhis merasa lega, karena Mbak Nawang bisa mengerti.

Mbak Nawang memperhatikan ketika Gendhis mulai menimbang tepung terigu untuk satu resep adonan. “Sebetulnya pesananmu berapa, Ndhis?” tanya Mbak Nawang.

“Seratus dua puluh lima, Mbak!” sahut Gendhis sambil menakar dengan teliti.

“Satu resep bisa jadi berapa buah?”

“Tiga puluh.”

“Kenapa kamu tidak menakar untuk dua atau tiga resep sekaligus. Kan bisa menghemat waktu untuk mengadon. Nanti tinggal mengukusnya saja,” usul Mbak Nawang.

“Wah, kenapa tidak terpikirkan seperti itu, ya! Mbak jenius!” katanya sambil memeluk kakak kesayangannya. “Baiklah kalau begitu! Mari berhitung!”

Mbak Nawang tertawa geli melihat tingkah Gendhis.

“Kue yang sudah jadi tiga puluh, yang sedang dikukus tiga puluh juga. Jadi aku harus membuat tiga resep lagi. Nanti jadi seratus lima puluh. Sisanya bisa dimakan ramai-ramai.”

“Wah, asyik!” seru Mbak Nawang menyambut ucapan Gendhis.

“Kita bisa pakai perkalian atau kelipatan seperti yang sudah Gendhis pelajari di sekolah kan, Mbak!” kata Gendhis bersemangat.

Mbak Nawang menganggukkan kepala sambil tersenyum lebar, karena jawaban Gendhis tepat sekali.

“Karena akan langsung membuat tiga resep, berarti semua bahan dikalikan tiga,” gumam Gendhis sambil mulai berhitung.

“Dua butir telur x 3 = 6 butir,

75 gram gula pasir x 3 = 225 gram,

125 gram tepung terigu x 3 = 375 gram,

1 sendok teh SP x 3 = 3 sendok teh,

1 sendok teh garam x 3 = 3 sendok teh,

1 sendok teh vanili bubuk x 3 = 3 sendok teh,

100 ml santan cair yang sudah direbus x 3 = 300 ml,

1 sendok makan pasta pandan x 3 = 3 sendok makan.

Kelapa muda parut untuk topping, beri garam sedikit, lalu dikukus.

Pewarna hijau secukupnya.”

“Yes, betul banget, Ndhis!” puji Mbak Nawang.

Gendhis langsung bergerak cepat. Mengambil wadah yang berukuran lebih besar, lalu mulai menimbang satu per satu bahan yang sudah disiapkan. Semuanya dikalikan tiga.

Setelah semua bahan selesai ditakar, Gendhis mengambil mixer. Pertama-tama dia mengocok telur, gula, garam, SP dan vanili sampai mengembang. Lalu, satu per satu bahan yang tersisa dimasukkan ke dalam adonan. Semangat Gendhis kembali seketika. Dia membuat adonan kue putu ayu sambil bersenandung gembira.

“Wah, adonan kali ini pasti hasilnya sangat luar biasa!” puji Mbak Nawang merasakan keceriaan adiknya.

Gendhis tersenyum senang. Setelah adonan jadi, dia memasukkan pewarna makanan dengan hati-hati. “Satu tetes saja, supaya warnanya lembut dan cantik.”

Adonan berwarna hijau muda sudah tercampur sempurna, Gendhis lalu memasukkannya ke masing-masing cetakan putu ayu, yang di dalamnya sudah diberi sejumput parutan kelapa muda. Tidak lupa sebelumnya cetakan harus dioles sedikit minyak, supaya tidak lengket.

“Nah, sekarang sudah siap dikukus,” gumam Gendhis sambil memandangi adonan dalam cetakan yang sudah berjajar rapi. “Benar, Mbak Nawang. Aku jadi menghemat waktu banyak sekali. Sekarang sambil menunggu kue dikukus, aku bisa mengerjakan PR Matematikaku.”

Mbak Nawang tersenyum senang karena bisa membantu adik kesayangannya.

Gendhis memasukkan tiga puluh kue ke dalam kukusan, lalu memasang alarm. “Sekarang tinggal menunggu dua puluh lima menit ke depan.” Gendhis memeriksa besar nyala api, lalu dia meninggalkan dapur. Tak lama kemudian kembali dengan beberapa buku di tangannya.

“Yakin tidak perlu bantuan Mbak?” tanya Mbak Nawang ketika lewat dapur lagi.

“Iya, Mbak. Kalau tinggal menunggu matang, bisa dilakukan sambil mengerjakan PR,” jawab Gendhis sambil tersenyum.

“Baiklah. Kalau begitu Mbak mau ke rumah Mbak Ira dulu, ya!” kata Mbak Nawang sambil berlalu. “Jangan lupa, nanti Mbak harus mencicip kue putu ayunya lho!” gurau Mbak Nawang dari balik pintu.

“Siap, Mbak! Terima kasih. Mbak Nawang memang kakak terbaik,” balas Gendhis sambil membentuk hati dengan jarinya.

 

***SELESAI***


Monday, March 11, 2024

Berkemah Seru dan Kesebangunan

 


Bis yang ditumpangi siswa-siswi kelas enam SD Tegalrejo berhenti di Bumi Perkemahan Mandala. Anak-anak berebutan keluar, ingin segera menikmati pemandangan alam.

Ara, Beta, dan Caca sangat antusias dengan kegiatan berkemah kali ini. Selain untuk memenuhi syarat untuk jadi pramuka penggalang, berkemah kali ini juga sekaligus perpisahan mereka yang sebentar lagi lulus SD.

“Wah, berkemah sangat menyenangkan, ya!” kata Ara.

“Iya, betul! Menikmati udara sejuk, jauh dari perkotaan. Selain itu bisa semakin akrab dengan teman-teman,” timpal Beta.

Setelah menuju tempat yang telah ditentukan, Ara, Beta dan Caca segera membongkar barang, lalu bersiap mendirikan tenda. Bertiga mereka, satu regu, bersama dengan tujuh anak lainnya. Cara membuat tenda sudah dipelajari ketika kegiatan pramuka di sekolah, maka dengan gesit mereka segera mengerjakannya.

Selesai membereskan tenda dan menata barang, selain anak-anak yang tinggal untuk memasak, yang lainnya bertugas untuk mencari kayu bakar dan air, di tepi hutan. Termasuk Ara, Beta dan Caca.

“Udara di sini bersih sekali,” kata Ara sambil menghirup nafas dalam-dalam.

“Suasananya juga tenang dan sejuk!” sahut Caca.

“Eh, lihat! Ada pohon cemara. Kira-kira berapa tingginya, ya?” Tiba-tiba Beta bertanya.

“Kok aku jadi ingat yang diajarkan Bu Amel, tentang kesebangunan. Bisa nggak ya, kita gunakan teori matematika untuk mengukur tinggi pohon ini?” kata Caca.

“Oiya, betul! Dengan bantuan satu tongkat, kita bisa coba mengukur tingginya,” kata Ara.

“Besok, waktu kegiatan bebas, kita coba hitung, yuk! Aku jadi penasaran, nih!” ajak Beta yang disambut anggukan Ara dan Caca.

Acara hari itu berjalan lancar. Dari mulai kuis tentang kepramukaan, pentas bakat, api unggun, semuanya seru sekali. Acara sebelum tidur juga asyik. Setiap anak sharing impian masing-masing, sehingga mereka bisa saling berbagi dan memberi saran. Semuanya sangat akrab.

Pagi tiba. Setelah berolah raga dan sarapan pagi, Kakak Pembina memberikan waktu bebas selama dua jam untuk menjelajah sekitar. Tidak boleh jauh-jauh dan sendirian. Masing-masing kelompok setidaknya harus ada tiga orang.

Ara, Beta dan Caca memanfaatkan kesempatan ini seperti yang sudah mereka rencanakan kemarin. Bertiga mereka ingin mencoba mempraktekkan teori matematika yang sudah didapat di sekolah untuk menghitung tinggi pohon cemara.

Di depan pohon cemara yang akan diukur, mereka mempersiapkan beberapa peralatan. Tongkat pramuka sisa yang tidak dipakai untuk mendirikan tenda, meteran, kertas, dan pena.

Ara menancapkan tongkat tak jauh dari pohon cemara. Lalu sebuah batu diletakkan tak jauh di belakang tongkat, sejajar dengan tongkat dan pohon cemara.

“Selanjutnya apa?” tanya Caca.

“Kita ukur jarak dari batu ke tongkat, lalu ke pohon,” sahut Beta sambil menarik meteran yang dibawanya. “Nanti mungkin kurang tepat hasilnya, karena kita hanya pakai alat seadanya. Tapi seru juga mencoba menghitung dengan mempraktekkan apa yang sudah kita dapat di sekolah.”

Berdua Ara dan Caca mengangguk setuju. Sama antusiasnya dengan Beta.

“Jarak batu ke tongkat 200 cm. Jarak tongkat ke pohon 300 cm. Sedangkan panjang tongkat pramuka 150 cm. Kalau digambar jadi seperti ini,” kata Caca sambil menunjukkan gambarnya.

 


“Kondisi ini disebut sebangun karena sudut-sudut yang bersesuaian sama besar dan panjang sisi-sisi yang bersesuaian mempunyai perbandingan yang sama,” jelas Beta. “Nah, kita sudah tahu panjang tongkat dan jarak antara batu, tongkat dan pohon. Karena itu, kita akan bisa menghitung tinggi pohon.”

“Yak, betul. Sekarang tinggal kita hitung dengan rumus perbandingan,” sahut Ara mulai mencorat-coret di kertas.

 


“Wah, bisa begitu ya. Seru sekali yang kalian lakukan!” Tiba-tiba Kakak Pembina sudah berdiri di belakang Ara, Beta dan Caca. “Lalu berapa tinggi pohon cemaranya?”

“Tiga ratus tujuh puluh lima sentimeter, Kak!” kata Ara, Beta dan Caca serempak.

“Wah, kompak!” sahut Kakak Pembina sambil tertawa. “Tapi waktu istirahat sudah habis. Ayo kalian harus segera kembali ke tenda untuk berkemas pulang.”

“Siap, Kak!” sahut Ara, Beta dan Caca riang.

 

**Selesai**


Friday, February 9, 2024

7 Langkah Mudah Membuat Yoghurt Rumahan Sendiri

 


Siapa yang tidak tahu yoghurt?

Yoghurt, berasal dari bahasa Turki, yoğurt (dieja yogurt) adalah produk hasil olahan susu yang dibuat melalui proses fermentasi bakteri. Bakteri tersebut dikontrol dalam temperatur tertentu yang disesuaikan dengan suhu optimum pertumbuhannya. Bakteri akan mengubah laktosa (gula susu) menjadi asam laktat yang memproses protein susu sehingga menghasilkan gumpalan dengan tekstur seperti gel dan aroma khas yoghurt.

Bahan dasar pembuatan yoghurt adalah susu sapi segar, susu kambing atau susu domba. Tapi dalam perkembangannya, yoghurt rumahan bisa juga dibuat dari susu UHT.

Yoghurt mengandung vitamin B, mineral, protein, dan lemak. Berikut beberapa manfaat yoghurt untuk tubuh :

1.   Mengatur saluran pencernaan.

2.  Membantu meningkatkan pertumbuhan tubuh.

3.  Membantu mengobati lambung dan usus yang terluka.

4.  Membantu meredakan diare.

5.  Memperlambat pertumbuhan sel kanker.

6.  Membantu menurunkan berat badan dengan pola makan yang disesuaikan.


Dengan banyaknya manfaat yoghurt,  ada baiknya jika kita bisa membuat yoghurt sendiri di rumah.

Bahan dan perlengkapan yang harus dipersiapkan untuk membuat yoghurt rumahan :

1.   Susu sapi segar 1 liter.

2.  Bibit yoghurt untuk susu 1 liter, bisa dibeli di toko bahan kue atau marketplace.

3.  Panci untuk memasak susu.

4.  Termometer untuk mengukur suhu saat memanaskan susu.

5.  Wadah tertutup yang bersih dan sudah disteril dengan air panas.

6.  Yoghurt maker, bisa didapatkan dengan harga yang bervariasi.


Berikut 7 langkah mudah untuk membuat yoghurt :

1.  Panaskan 1 liter susu segar dengan api kecil hingga suhu 85 - 90°C sambil diaduk kurang lebih 30 menit. Jangan biarkan susu mendidih supaya protein susu tidak rusak. Jika menggunakan susu UHT, cukup dipanaskan kurang lebih 15 menit saja.

2. Angkat susu dan dinginkan hingga suhu 40 – 43°C. Lakukan pendinginan dalam wadah tertutup.

3. Setelah suhu mencapai 40 -43°C, masukkan bibit yoghurt, aduk rata sampai tidak ada gumpalan.

4. Pindahkan susu yang sudah mengandung bibit yoghurt ke dalam yoghurt maker, nyalakan, dan biarkan kurang lebih 8 jam.

5.  Setelah 8 jam, cicipi apakah tingkat keasaman dan kekentalannya sudah sesuai yang diinginkan. Jika belum, lanjutkan fermentasi selama 2 – 3 jam.

6.  Jika sudah sesuai selera, pindahkan yoghurt ke dalam wadah tertutup. Diamkan selama 6 jam di dalam kulkas untuk mendapatkan tekstur yang lebih kental dan padat.

7.   Yoghurt siap dinikmati.

 

Nah, untuk membuat yoghurt sendiri di rumah tidak sulit, bukan?

Setelah dipanen, kita bisa menikmatinya dengan menambahkan buah, madu, sirup pada yoghurt. Atau kita bisa membuat makanan dari olahan yoghurt lainnya sesuai selera.

Selamat mencoba.. ^^

 


Catatan penting:

  • ·  Biasakan menggunakan semua peralatan dalam keadaan bersih dan steril, untuk  menghindari atau mengurangi kemungkinan kegagalan membuat yoghurt.
  • ·   Bakteri dalam proses pembuatan yoghurt hanya dapat tumbuh pada suhu 37 - 43°C. Hindari menambahkan bibit yoghurt saat susu masih terlalu panas, atau sudah dingin.
  • ·    Yoghurt tahan di dalam kulkas kurang lebih 10 hari. Menurut beberapa sumber, rasa yang paling enak didapatkan ketika yoghurt berusia 3 hari.

Kacang Harapan

  Cring... dengan sekali ayun saja, Peri Biru berhasil membuat tanaman layu menjadi segar kembali. Cring cring... dua kali ayun, Peri Biru m...