Search This Blog

> Belajar Matematika dan Sains Menyenangkan

Sunday, May 31, 2026

Maya Senang Bisa Membantu

 


“Maya, bisakah Ibu minta tolong?” tanya Ibu dari ruang sebelah.

Maya yang sedang asyik membaca buku langsung berdiri dan mendekat ke arah Ibu, “Ada apa, Bu? Apa yang bisa Maya bantu?”

“Ini nih, jahitan pesanan Bu Marmo kainnya kurang, padahal mau diambil nanti malam. Bu Marmo tidak sempat membelikan kain karena harus mengurus persiapan acaranya di rumah. Kalau Ibu berangkat sendiri, pasti jahitan ini tidak bisa selesai tepat waktu. Bisakah Maya membelikannya di toko Pak Tomo?” pinta Ibu.

“Tentu saja, Bu. Maya juga sedang tidak ada kegiatan selain membaca buku. Biar Maya saja yang pergi,” jawab Maya.

“Ini yang harus dibeli. Dua meter kain brokat harganya Rp30.000 per meter, 2,5 meter kain katun harganya Rp18.000 per meter, dan 1,5 meter kain satin harganya Rp35.000 per meter. Jadi total 6 meter kain.” Ibu memberi dua lembar uang seratus ribuan.

“(2 x Rp30.000) + (2,5 x Rp18.000) + (1,5 x Rp35.000) = Rp157.500. Jadi nanti uang kembaliannya = Rp200.000 – Rp157.500 = Rp42.500.” Maya menghitung dengan jarinya.

Setelah menerima contoh kain yang akan dibeli, Maya berpamitan. “Maya pergi dulu, Bu!”

“Terima kasih ya, Nak. Hati-hati!”

***

 “Hai, Maya. Mau kemana? Kok tergesa-gesa?” sapa Nuri di tengah perjalanan Maya ke toko Pak Tomo.

“Hai, Nur. Aku disuruh Ibu membeli kain di toko Pak Tomo. Aku agak tergesa-gesa, soalnya kain itu harus segera dijahit. Sore nanti harus sudah jadi,” Maya menjawab tanpa menghentikan langkah kakinya.

Nuri mengangguk-angguk sambil terus berjalan menyamai langkah kaki Maya.

“Kamu sendiri mau kemana?” tanya Maya.

“Aku baru saja dari rumah Madun. Ibunya sakit. Waktu aku ke rumahnya, dia sedang mengurus dua adiknya yang masih kecil. Waktu kupegang tangannya, ternyata badan Madun juga panas. Dia demam, tapi tidak bilang ibunya. Kasihan!” kata Nuri.

“Ooh, makanya dia nggak masuk sekolah, ya? Lho, bapaknya tidak ada di rumah?” tanya Maya.

“Kata Madun, bapaknya harus tetap bekerja. Kalau sehari saja tidak masuk, bapaknya tidak akan dibayar dan hari itu bisa-bisa mereka tidak makan,jawab Nuri. “Madun juga bilang, kalau aku yang tidak makan, nggak apa-apa. Tapi dua adikku dan Ibu yang sedang sakit kasihan. Makanya dia tidak bilang bapaknya.”

“Kita harus membantu Madun, Nur. Paling tidak sampai dia sehat.” kata Maya.

“Iya, kamu benar, May. Lalu sekarang kita bagaimana?”

“Begini, aku harus menyelesaikan tugas yang disuruh Ibu dulu. Aku akan bergegas membeli kain, lalu segera pulang. Sampai di rumah, aku akan izin Ibu untuk pergi ke rumah Madun. Aku mungkin akan membawa sedikit makanan dari rumah, supaya Madun dan keluarganya bisa mengisi perutnya hari ini. Yah, sedikit-sedikit saja, yang penting Madun dan ibunya bisa segera sehat.”

“Baik kalau begitu. Aku juga akan pulang dulu, aku minta izin ibuku juga untuk membawa sedikit beras dan telur supaya bisa untuk persediaan dua atau tiga hari ke depan. Seandainya terpaksa bapak Madun tidak masuk kerja, mereka masih bisa makan,” kata Nuri lalu bergegas lari ke arah rumahnya.

Baru beberapa langkah berjalan, ada yang menyapa Maya lagi. “Hai Maya, mau kemana? Kenapa kelihatan tergesa-gesa?” sapa Itok, kawan sekolahnya juga.

Maya lalu menjelaskan tentang titipan kain pesanan ibunya dan tidak lupa dia menceritakan soal Madun, karena Maya tahu Madun adalah sahabat dekat Itok.

“Oh, tentu saja aku mau datang dan ikut membantu. Kebetulan tadi pagi bapakku pulang memancing dan mendapat banyak ikan. Tentu tidak akan keberatan kalau aku minta sedikit untuk kuberikan pada Madun,” kata Itok bersemangat. Baru berjalan beberapa langkah, Itok berbalik. “Kira-kira berapa lama kamu sampai ke rumah Madun?”

Maya mengernyitkan dahinya, “Jalan ke toko 5 menit, di toko memilih dan menghitung pembayaran 10 menit, kembali ke rumah 5 menit, pamit Ibu dan menyiapkan barang 10 menit, ke rumah Madun 5 menit. Jadi kurang lebih 35 menit aku sudah sampai di rumah Madun,” jelas Maya.

Itok mengacungkan dua jempolnya sambil berlari kecil meninggalkan Maya. Maya bergegas ke toko Pak Tomo, segera membelikan kain pesanan Ibu, lalu kembali ke rumah.

“Ini Bu, kain pesanan Ibu. Benar yang ini, kan?” Maya memastikan.

“Iya, betul. Terima kasih ya, Nak!” kata Ibu.

“Bu, tadi Maya bertemu dengan Nuri. Dia bilang, Madun dan ibunya sakit. Kalau sudah tidak ada yang Maya kerjakan untuk Ibu, Maya mau ke rumah Madun, ya. Mungkin ada yang bisa Maya bantu untuk Madun dan ibunya.” Kata Maya pada Ibu.

“Tentu saja boleh, Nak. Sebentar lagi juga Ibu sudah selesai. Maya bisa bawa beberapa kue lapis yang ada di meja untuk Madun dan adiknya. Ada teh dan gula yang masih utuh di lemari penyimpanan, Maya bisa bawa juga. Sampaikan salam Ibu untuk ibunya Madun, ya. Semoga lekas sembuh,” kata Ibu.

“Siap Bu. Terima kasih.”

“Terima kasih juga sudah membelikan kain pesanan Ibu, ya.”

Maya tersenyum, lalu bergegas menyiapkan beberapa barang untuk dibawa ke rumah Madun. Hari ini dia senang bisa membantu banyak orang.

 

**Selesai**

Jam Digital Yang Diinginkan Tomi

 


Jam digital yang diinginkan Tomi itu dipajang di toko milik Pak Hari, teman Ayah. Warnanya biru tua, ada lis kuning di tepinya yang berbentuk persegi. Kalepnya berbahan plastik tebal berwarna hitam.

Jam itu dilihat Tomi kemarin, sewaktu ikut Ibu dan Ayah berbelanja. Ketika lewat di depan toko Pak Hari, Ayah berhenti untuk menyapa Pak Hari yang sedang membersihkan kaca etalase tokonya.

Sambil menunggu Ayah, Tomi melihat-lihat barang yang dipajang di etalase. Mata Tomi tertumbuk pada sebuah jam digital. Sudah lama Tomi ingin mempunyai jam digital, tapi jam analognya yang lama masih bisa dipakai. Kemungkinan kalau minta Ayah atau Ibu pasti tidak boleh. Apalagi ketika melihat harga jam yang tertera di label kalepnya, Rp300.000. Mahal sekali.

“Aku pamit dulu, ya! Lain kali aku mampir lebih lama,” suara Ayah berpamitan membuyarkan lamunan Tomi.

Sampai di rumah, Tomi bertanya pada Ayah, “Ayah, bolehkah aku membeli jam digital di toko Pak Hari? Ada satu yang aku suka sekali. Tapi harganya Rp300.000. Bolehkah?”

Dahi Ayah berkerut. Ibu yang duduk di sebelah Ayah terdiam, menunggu Ayah menjawab pertanyaan Tomi.

“Tom, jam tanganmu masih bisa dipakai?” tanya Ayah mengawali ucapannya.

Tomi mengangguk perlahan. Sudah tahu kalau Ayah pasti akan menanyakan hal itu. “Masih, Yah. Masih bagus,” jawab Tomi jujur.

Sekarang Ayah tidak bisa membelikanmu jam tangan digital yang kamu inginkan. Karena selain jam lamamu masih bisa dipakai, membeli barang mahal yang bukan kebutuhan utama tidak bisa seketika itu juga. Masih ada kebutuhan lain yang lebih mendesak daripada jam tangan yang kamu inginkan,” kata Ayah pada Tomi.

Tomi menunduk sedih meski dia sudah bisa menebak kalau Ayah akan menolak permintaannya.

“Tapi,” Ayah melanjutkan perkataannya. “Ada cara supaya kamu bisa membeli jam tangan itu.”

Bagaimana caranya, Yah?” Wajah Tomi langsung berbinar mendengar ucapan Ayah.

“Kamu bisa mengumpulkan uang sendiri,” jawab Ayah. “Ada beberapa pekerjaan yang bisa kamu lakukan, meski kamu masih anak-anak. Misalnya, menawarkan jasa potong rumput kepada Pak Badrun, Bu Asih dan tetangga yang lainnya. Kamu juga bisa menawarkan bantuan untuk berbelanja ke warung Mbok Siti, dan lain sebagainya. Tapi sebelum menawarkan jasa, kamu harus bilang dulu maksud dan tujuanmu. Menjelaskan kalau kamu memang sedang mengumpulkan uang untuk membeli jam tangan,” jelas Ayah.

“Oh, bisa begitu ya, Yah,” Tomi mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa ide langsung terlintas di kepalanya. “Kalau aku jualan kue bikinan Ibu di sekolah, boleh nggak?” tanya Tomi lagi.

“Tentu saja boleh, Tom. Ibu bersedia membuat kue, tapi kamu yang harus berbelanja bahan-bahan kuenya, dan membantu Ibu sewaktu membuatnya. Bagaimana?” Ibu menimpali dengan lembut.

“Wah, tentu saja, Bu. Ini kan jualan Tomi. Malah Tomi yang harus berterima kasih karena Ibu mau membantu Tomi.”

“Oke, mulai kapan kamu akan membuat kue? Nanti untuk membeli bahan-bahannya Ibu dulu yang bayar. Jangan lupa harus kamu ganti. Karena itu dihitung pinjaman,” jelas Ibu.

“Mulai besok ya, Bu. Sepulang sekolah Tomi akan langsung berbelanja dan sorenya kita membuat kue. Nah, pagi harinya Tomi bisa jual ke teman-teman Tomi.”

“Nah, begitu dong. Ayah bangga karena kamu tidak putus asa ketika Ayah menolak permintaanmu. Akan lebih baik kalau kamu mengerti dari mana datangnya uang dan bagaimana caranya mencari uang,kata Ayah sambil mengusap kepala Tomi.

***

Dua minggu berlalu sejak Tomi mulai berjualan kue. Semua hasil yang didapat sementara dikelola Ibu, karena sebagian digunakan kembali untuk membeli bahan-bahan kue untuk hari berikutnya. Selain berjualan kue, dalam dua minggu belakangan, Tomi sudah membantu Bu Asih, Pak Badrun, dan Nek Ami membersihkan halaman rumah mereka. Tomi mendapat upah Rp25.000 untuk setiap halaman.

“Tom, sini sebentar,” panggil Ibu sepulang Tomi berbelanja bahan kue.

Tomi mendekati Ibu yang sedang menjejerkan beberapa lembar uang di depan meja. “Wah, banyak betul uang Ibu,” kata Tomi.

“Ini semua uangmu. Hasil keuntungan berjualan kue,” sahut Ibu sambil tersenyum bangga.

“Sebanyak ini?” tukas Tomi takjub.

“Iya. Coba kita hitung semuanya, ya.” Ibu menata lembaran uang sesuai nominalnya.

“Oke, Bu.

(2 x Rp50.000) + (3 x Rp20.000) + (5 x Rp10.000) + (10 x Rp5.000) + (20 x Rp2.000) + (10 x Rp1.000) = Rp100.000 + Rp60.000 + Rp50.000 + Rp50.000 + Rp40.000 + Rp10.000 = Rp310.000.”

“Betul sekali. Apa sudah cukup?” tanya Ibu.

“Cukup untuk membeli jam digital yang Tomi inginkan, Bu. Masih ditambah lagi uang membersihkan halaman = (3 x Rp25.000) + Rp310.000 = Rp75.000 + Rp310.000 = Rp385.000.” Tomi menjelaskan dengan mata berbinar. “Kalau Tomi terus berjualan kue, boleh, Bu? Tomi janji tidak akan mengganggu waktu belajar di rumah.” Tomi meminta persetujuan Ibu.

“Tentu saja, Tom. Ibu senang kamu belajar bekerja dan menabung, asalkan tetap giat belajar,” pesan Ibu yang disambut senyum Tomi.

Tomi senang sekali karena akhirnya dia punya cara untuk membeli jam digital yang diinginkannya. Belajar bagaimana berusaha menghasilkan uang dan bisa menabung. Dan senangnya lagi, Tomi tidak menyusahkan kedua orang tuanya untuk membeli keperluannya sendiri.


**Selesai**

Thursday, April 30, 2026

Membuat Bingkai Foto

 


“Uh, dari tadi kok nggak bisa pas, sih,” Anis menggerutu sambil meremas kertas karton di depannya.

“Ada apa sih, Nis. Kok marah-marah sendiri gitu,” tegur Kak Ima sambil melongokkan kepalanya, melihat kamar Anis. “Astaga, apa salah kertas-kertas ini, kauremas-remas sampai tak berbentuk.”

Mendengar candaan Kak Ima, Anis meringis. “Ini, Kak. Aku mau bikin bingkai foto, tapi nggak bisa pas kanan, kiri, atas, dan bawahnya. Kata Bu Guru harus sebangun dengan fotonya.”

Ima mendekati adiknya. Dia bisa mengerti, karena adiknya yang super perfeksionis ini memang tidak bisa melihat barang yang dibuat dengan ukuran yang tidak presisi. Selalu ada yang mengganjal meski hanya ada beda sedikit.

“Coba mana fotomu?” tanya Kak Ima mencoba membantu.

Anis menunjukkan foto berukuran alas 16 cm dan tinggi 24 cm, lalu sebuah karton berbentuk persegi panjang. “Foto dan karton harus dibuat sebangun. Lebar karton di sebelah kiri, kanan, dan atas foto adalah 2 cm. Aku harus mencari lebar bagian bawahnya, supaya bisa sebangun.”

“Kamu tahu cara mengukur dua bangun yang sebangun, kan?” tanya Kak Ima.

“Iya, Kak. Ada dua bangun persegi panjang. Foto dan bingkai. Foto mempunyai alas 16 cm dan tinggi 24 cm. Sedangkan bingkai, setelah ditambah 2 cm di kiri dan kanannya, maka mempunyai alas (16 + 2 + 2) cm = 20 cm. Tinggal tingginya yang harus dicari. Untuk mendapatkan tinggi bingkai, supaya sebangun, maka: 

 

Selanjutnya dikali silang, menjadi:

Tinggi bingkai x 16 = 24 x 20

Tinggi bingkai = 480 / 16 = 30 cm.”

“Nah, kan. Itu sudah betul. Sekarang buat bingkai sesuai ukuran, lalu pelan-pelan saja waktu menempelnya. Ukur lagi, kiri, kanan, dan atas harus 2 cm.” Kak Ima membantu membuat ukuran yang tepat. “Nanti sisa lebar bagian bawah seharusnya jadi (30 – 24 – 2) = 4 cm. Ini lebih lebar, ya. Tapi bisa ditambahkan tulisan supaya cantik bingkainya. Iya, kan?”

“Iya, Kak. Wah, kenapa kalau ditemani Kak Ima pasti kerjaanku beres. Lain kali bantuin lagi, ya Kak.” Anis tersenyum nakal sebelum cubitan sayang mendarat di pipinya.

 

*Selesai*

Mengukur Lebar Sungai

Rumah Malik letaknya agak jauh dari desa terdekat. Untuk pergi ke sekolah, Malik harus menyeberangi sebuah sungai yang cukup lebar. Sebelum ada pembangunan masuk desa, Malik dan beberapa anak yang berdekatan rumahnya, harus berangkat pagi-pagi sekali kalau mau ke sekolah. Satu per satu mereka akan menyeberang dengan menggunakan dua utas tali yang dibentangkan kuat-kuat dari ujung tepi sungai yang satu ke ujung tepi sungai seberangnya.

“Hati-hati, pegang kuat-kuat talinya. Jangan lihat ke bawah,” kata Pak Muin yang sering membantu menyeberangkan anak-anak.

Menyeberang menggunakan dua tali, satu untuk pegangan dan satu di bawahnya untuk pijakan, benar-benar harus konsentrasi. Awalnya menakutkan, tapi selanjutnya jadi menantang.

“Memang berbahaya, tapi kalau tidak begitu, tidak bisa sekolah,” jawab Malik ketika ada salah satu orang tua murid yang bertanya.

Sampai akhirnya ada program pembangunan desa, yang menargetkan pembangunan jembatan di sungai yang sering dilewati Malik.

Suatu hari Pak Guru bertanya, “Adakah yang tahu berapa lebar sungai yang diseberangi Malik?”

Malik mengangkat tangannya. “Saya belum menghitung, Pak. Tapi saya pernah lihat Pak Muin dan teman-temannya mengukur lebar sungai ketika akan membangun jembatan.”

“Bagaimana caranya, Lik?” Ucup penasaran.

“Waktu itu Pak Muin menancapkan tongkat di empat titik, yang nantinya akan membentuk dua segitiga sebangun jika dihubungkan dengan sebuah pohon di seberang sungai.” Malik berdiri lalu bertanya pada Pak Guru, “Saya izin maju untuk menggambar di papan tulis boleh, Pak?”

“Tentu saja, Lik!” Pak Guru tersenyum senang karena muridnya berani dan bisa menjelaskan apa yang tadi ditanyakannya.

Di papan tulis Malik menggambar sebuah pohon sebagai ujung segitiga, lalu dua sisi sejajar di bawahnya. Di antara pohon dan sisi terdekatnya ada sebuah sungai yang akan diukur lebarnya. Malik memberi nama keempat titik tersebut, A, B, C, dan D.

“Kalau tidak salah dengar, jarak AB, AD, DC, berturut-turut adalah 8 m, 4 m, dan 6 m.”

Malik menuliskan semuanya di papan tulis. “Dengan dua segitiga yang sebangun ini, kita bisa menghitung lebar sungai, yaitu dengan membuat perbandingan :

Dari perbandingan tersebut, selanjutnya dikali silang:

8 x PD = 6 x (PD + 4)

8 PD = 6 PD + 24

8 PD – 6 PD = 24

2 PD = 24

PD = 24/2 = 12 m.

Jadi jarak antara pohon dengan titik D = lebar sungai = 12 meter.”

Malik meletakkan kapur tulisnya lalu melihat ke arah Pak Guru, meminta untuk dikoreksi jika ada yang salah.

Pak Guru tersenyum sambil mengangkat kedua ibu jarinya, lalu menyilakan Malik duduk kembali.

“Betul sekali pendekatan matematika seperti yang dijelaskan Malik. Dengan memanfaatkan teori kesebangunan, kita bisa mengukur lebar sungai terlebih dulu untuk memperkirakan panjang jembatan yang akan dibuat.” Pak Guru mengangkat jempolnya sekali lagi ke arah Malik. “Nanti pulang sekolah bawa pulang empat buah durian di samping sekolah itu, ya. Makan ramai-ramai dengan teman-temanmu!”

Hore… semua anak berteriak senang.

 

*Selesai*

Tuesday, March 31, 2026

Tumpukan Setrikaan yang Menggunung

 


Liburan sudah selesai, besok sudah masuk sekolah. Mia menemani Ibu yang sedang menata meja untuk alas menyetrika. Seminggu ditinggal mudik, tumpukan pakaian sudah segunung. Karena butuh seragam yang rapi, mau tidak mau, Ibu harus menyetrika.

Dengan cekatan Ibu menyetrika satu per satu seragam sekolah Mia. Lalu baju kerja Ayah, lalu seragam Adik. Seragam Mia lagi, baju Ayah, daster Ibu, lalu celana Adik. Diulang-ulang, agak membosankan. Mia menguap. Setelah membetulkan posisi duduknya, Mia sekarang mengamati gerakan tangan Ibu.

“Mulai dari kerahnya, kemudian sisi yang ada sakunya, kemudian sisi lainnya. Dibalik, dikancingkan, lalu setrika bagian belakangnya. Kalau sudah licin, dilipat dengan rapi.” Sambil memperhatikan Ibu, Mia bergumam mengulangi langkah menyetrika yang dilakukan Ibu.

Ibu tersenyum melihat Mia. Sesekali Mia diajari menyetrika, tapi tetap sambil diawasi, karena terkadang Mia masih meletakkan sisi panas setrika terlalu lama. Setelah bosan belajar menyetrika, Mia kembali duduk manis di sebelah Ibu.

Mia mengamati sambil sesekali mengernyitkan dahinya. “Untuk menyetrika satu baju, kira-kira Ibu membutuhkan waktu 1 menit 30 detik.”

”Oya, sempat juga Mia menghitung,” sahut Ibu.

Mia menjawab sahutan Ibu dengan tersenyum. Dia masih mengagumi tangan Ibu yang terus bergerak cekatan meski sambil berbicara dan memandang ke arahnya.

“Oiya, karena nanti jam 4.10 Ibu ada arisan, Ibu harus selesai menyetrika jam 4.00. Kira-kira Ibu bisa menyelesaikan berapa potong baju?” tanya Ibu tiba-tiba.

Mia melirik tumpukan pakaian yang menuggu untuk disetrika, lalu melihat ke arah jam dinding. Jam menunjukkan pukul dua.

“Sekarang jam 2.00. Kalau Ibu hanya bisa menyetrika sampai jam 4.00, maka Ibu punya waktu 2 jam saja. Karena untuk menyetrika satu baju kira-kira butuh 1 menit 30 detik, maka…

Waktu menyetrika = 2 jam = 2 x 60 x 60 = 7200 detik.

Satu baju = 1 menit 30 detik = 90 detik.

Maka baju yang mungkin disetrika Ibu = 7200 : 90 = 80 potong baju.” Mia menjelaskan sambil memainkan jari-jari untuk membantunya berhitung.

“Wah lumayan banyak. Bisa selesai menyetrika hari ini, nih,” kata Ibu.

“Dengan tangan Ibu yang cekatan pasti bisa, Bu. Mia bantu sambil nonton Doraemon, ya.” Sambil tersenyum menggoda Mia beranjak menyalakan televisi.

 

*Selesai*


Monday, March 30, 2026

Ember Kuning Yangti

 



Lebaran kemarin Sunu menginap di rumah Yangti, di Payaman, Magelang. Hampir semua paman, bibi dan keluarganya datang menginap. Tradisi keluarga setiap hari raya. Tak ada kamar tak apa, yang penting semua ramai berkumpul. Anak-anak kecil akan menggelar kasur berjejer-jejer di depan televisi dan tidur seperti pindang. Orang-orang dewasa akan mengobrol sampai malam. Hangat sekali.

Sunu, Nurul, Remi, dan Dani adalah sepupu seumuran. Sama-sama kelas lima SD, hanya selisih dua sampai lima bulan saja umurnya. Karena itulah setiap kali berkumpul selalu sangat ramai mereka berempat.

“Dani aja yang manjat, jangan kamu. Mosok cewek polah-nya kayak cowok,” tegur Remi ketika Nurul mau memanjat pohon jambu di halaman rumah Yangti.

“Ah, aku bisa, kok. Zaman sekarang nggak boleh ngeremehin cewek, ya!” balas Nurul sambil cemberut. Sebelah kakinya sudah siap di batang pohon.

“Sudah! Kalau Nurul bisa, ya nggak apa,” sahut Dani. “Aku mau diambilkan yang sudah kekuningan itu, ya!” Dani menunjuk sebuah jambu yang kelihatan sudah matang.

Langsung dengan sigap Nurul memanjat dan mengambilkan jambu yang diminta Dani. “Tuh, kan. Gampang!” seru Nurul sambil melemparkan jambu ke arah Dani.

“Oh, maaf sudah meremehkan. Ternyata kamu jago banget,” kata Remi. “Kalau gitu ambilkan aku juga, ya!” Dari bawah Remi berteriak yang disambut acungan jempol Nurul.

Tak lama kemudian, datang Sunu membawa sebuah keranjang kosong. “Ini untuk tempat jambunya. Kata Yangti, selesai panen jambu, kita disuruh bantuin menimba air untuk mandi bocil-bocil.”

Keranjang sudah penuh dengan jambu yang sudah matang. Sunu dan Dani sudah ada di depan sumur, sedangkan Nurul dan Remi mengambil sebuah ember kuning besar dari kamar mandi.

Semua sudah terbiasa, di rumah Yangti kalau mau mandi harus mengisi ember kuning besar. Air diambil dari sumur di belakang rumah. Yang menimba dari sumur harus orang dewasa, sedang anak-anak yang sudah bisa berhati-hati akan ikut membantu sambil bermain air. Seru sekali.

Sore itu Sunu sengaja membawa sebuah meteran dari kotak perkakas Bapak. Dia penasaran ingin mengukur ember kuning besar milik Yangti.

Ketika Nurul dan Remi datang, Sunu mulai mengukur. “Ember kuning Yangti berbentuk tabung dengan diameter 70 cm dan tinggi 80 cm. Sedangkan air dari sumur diambil menggunakan ember kecil yang berdiameter 35 cm dan tinggi 40 cm. Butuh berapa kali menimba air dari sumur untuk memenuhi ember kuning Yangti?” tanya Sunu.

“Kita harus penuhin dululah, baru bisa kita jawab,” sahut Dani.

“Jangan diisi dulu! Coba tebak saja butuh berapa ember kecil! Atau ada yang bisa menghitung dengan tepat? Nanti Paman kasih coklat.” Tiba-tiba Paman Doli sudah ada di belakang mereka.

“Enam kali,” teriak Remi.

“Lima kali kayaknya cukup,” jawab Nurul.

“Enam setengah,” kata Dani.

“Oke. Dikunci jawabannya. Sunu?” tanya Paman Doli ketika melihat Sunu komat-kamit sendiri di pinggir sumur.

“Ehm, delapan,” sahut Sunu.

“Oke. Ada yang punya alasan buat jawabannya?” Paman Doli bertanya lagi.

Nurul, Remi, dan Dani saling berpandangan, lalu menggelengkan kepala bersamaan.

“Aku pake hitungan matematika, Paman,” sahut Sunu bersiap menjelaskan.

“Oke, baik. Mari kita dengarkan apa kata Sunu,” kata Paman Doli dengan nada seperti reporter televisi.

“Ember kuning diameternya 70 cm, maka jari-jari r = 35 cm; tinggi t = 80 cm; p = 22/7.

Volume ember kuning = p x r2 x t = 22/7 x 35 x 35 x 80 = 308.000 cm3.

Ember sumur diameternya 35 cm; t = 40 cm.

Volume ember sumur = ¼ x p x d2 x t = ¼ x 22/7 x 35 x 35 x 40 = 38.500 cm3.

Untuk memenuhi ember kuning Yangti, maka harus mengambil air dari sumur sebanyak = 308.000 : 38.500 = 8 kali,” jelas Sunu.

“Wah, keren banget liburan tapi masih belajar matematika,” celetuk Dani sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Emang kamu, libur ato enggak, nggak pernah kepikiran matematika,” tukas Nurul yang disambut gelak tawa yang lainnya.

“Baiklah, memang benar jawabnya delapan kali. Dan seperti yang dijelaskan Sunu, bisa pakai rumus volume tabung untuk menghitungnya. Nah, karena tepat menjawab, Sunu dapat tiga coklat, sementara yang lain tetap dapat dua coklat.” Paman Doli mulai membagikan coklat dari kantongnya.

“Ember kuning Yangti sudah penuh, belum? Bocil-bocil sudah nungguin, nih!” teriak Bibi Titi dari dalam kamar mandi.

“Ah, iyaaaaa…” Bersamaan Paman Doli dan keempat keponakannya berteriak panik. Sambil cekikikan mereka segera menimba dan mengisi ember kuning Yangti.

 

*Selesai*


Saturday, February 28, 2026

Aduh, Itu Saya!

 


Siang itu, kabut tipis terbang rendah. Di daerah dataran tinggi seperti Dieng, Wonosobo, hampir setiap waktu panasnya siang bercampur dengan udara sejuk.

Ujo dan Ali sedang bermain kelereng di halaman rumah mereka. “Giliranku ya, Jo!” Ali mulai membidik kelereng Ujo. “Wah pasti kena, nih!”

Ali memicingkan sebelah matanya, dengan penuh konsentrasi membidik kelereng Ujo. Thak! Bunyi kelereng yang dilepaskan Ali tepat mengenai kelereng Ujo dengan keras.

“Hore, berhasil! Kelereng itu jadi milikku!” teriak Ali.

“Yah, habis sudah kelerengku,” keluh Ujo. “Lho, mana kelerengnya, Li?

Mereka berdua lalu mencari-cari. Ternyata menggelinding masuk sampai ke kandang ayam Pak Din.

“Ada di dalam, Li!” kata Ujo.

“Biar aku ambil, sepertinya pintu kandang tidak dikunci,” kata Ali.

Ali segera masuk ke kandang, mengambil kelereng, kemudian bergegas keluar.

“Wah, sudah siang! Kita pulang dulu, yuk! Lagipula kelerengku sudah habis,” ajak Ujo.

Ali mengangguk, lalu bergegas memasukkan kelereng-kelerengnya ke dalam kaleng. Berdua mereka meninggalkan tempat itu.

Belum sampai masuk rumah, Ali mendengar Pak Din berteriak-teriak, “Ayam-ayamku lepas! Tolong bantu siapa saja yang bisa menangkapnya! Aduh, siapa tadi yang lupa menutup pintu kandang?”

Ali yang mendengar teriakan Pak Din langsung merasa bersalah. Dia yang terakhir masuk ke kandang ayam Pak Din untuk mengambil kelereng. “Duh, aku harus bagaimana ini? Aku takut dimarahi!” batin Ali.

Sambil memikirkan itu, Ali bergegas menghampiri Pak Din dan membantunya menangkap ayam-ayam yang lepas.

“Itu, ada dua yang lari ke sana, Li!” Pak Din menunjuk ke bawah pohon jambu. “Lalu di sana juga ada tiga,” tunjuk Pak Din ketika melihat kelebatan ekor ayam di dekat tanaman serai.

Ali berlari ke sana-sini mengikuti arahan Pak Din.

“Masih kurang berapa, Pak?” tanya Ali sambil mengatur napas.

Pak Din mulai menghitung. Yang di dalam kandang tadi ada 11, ditambah 2 di pohon jambu, ditambah 3 di pohon serai, ditambah 2 di dekat pagar, ditambah 1 di samping gudang, jadi totalnya = 11 + 2 + 3 + 2 + 1 =  19 ekor. Padahal seharusnya 20 ekor. Jadi masih kurang seekor, Li,” sahut Pak Din sambil celingukan mencari satu ayamnya yang belum ketemu.

Tiba-tiba ada sekelebat makhluk yang terbang rendah melintas di depan Ali dan Pak Din. Dengan sigap Pak Din menangkapnya.

“Nah, ini ayam terakhir!” kata Pak Din sambil memasukkannya ke dalam kandang. “Terima kasih sudah membantu menangkap ayam-ayam ini, Li.”

Ali tidak berani memandang mata Pak Din. Tapi tak berapa lama kemudian, dia membuka mulut dengan agak tergagap. “Sebenarnya, Pak! Tadi saya yang lupa menutup pintu kandang.” Lalu Ali menjelaskan bagaimana dia masuk, lalu keluar tanpa menutup pintu kandang ayam Pak Din.

Sambil memandangi Ali, Pak Din menghela napas. “Bapak hargai kejujuran dan bantuan kamu. Tapi lain kali jangan diulangi, ya! Masuk ke tempat milik orang lain tanpa izin saja sudah salah, apalagi lalai dan hampir merugikan orang lain.”

“Maaf, Pak!” kata Ali lirih.

“Sudah tidak apa-apa,” kata Pak Din sambil merangkul Ali. “Nah sekarang, kita masuk dulu. Bu Din sudah membuatkan es jeruk dan tempe kemul.”

Ali senang karena memutuskan untuk bersikap jujur. Meskipun awalnya takut, tapi dia lega sudah berani jujur dan bertanggung jawab.

 

**Selesai**

Maya Senang Bisa Membantu

  “Maya, bisakah Ibu mi nta tolong?” tanya Ibu dari ruang sebelah. Maya yang sedang asyik membaca buku langsung berdiri dan mendekat ke arah...