“Uh, aku capek!” Gendhis meletakkan cetakan kue putu ayu dengan kasar.
“Kenapa, Ndhis? Biasanya kamu membuat kue dengan gembira,” tanya Mbak Nawang
sambil mendekati Gendhis.
“Ini, Mbak. Pesanan kue Gendhis banyak sekali,” sahut Gendhis sambil
memonyongkan bibirnya. “Padahal Gendhis masih ada PR Matematika. Duh, pusing!”
Kesibukan Gendhis ini berawal sejak bulan lalu. Ketika ada acara Saparan
di desanya, Gendhis mencoba membuat kue putu ayu, kue tradisional Jawa Tengah
yang sering disajikan ketika ada kegiatan kearifan lokal atau tradisi budaya
Jawa.
Sebetulnya membuat kue putu ayu sangat mudah, tapi kata Ibu-Ibu yang
mencicipi, kue putu ayu buatan Gendhis istimewa. Sejak saat itu, Gendhis sering
menerima pesanan kue dari tetangga sekitar rumahnya.
“Mau Mbak bantu?” tanya Mbak Nawang.
Gendhis memikirkan tawaran Mbak Nawang.
“Ehm, sepertinya tidak usah, Mbak,” sahut Gendhis menolak dengan halus. “Minggu
lalu, ketika adonan kue dibuatkan Ibu, kata Bu Puji rasanya kok agak beda, lain
dari biasanya.”
“Oya? Bedanya apa?” tanya Mbak Nawang.
“Entahlah, padahal resepnya sama persis. Dan Ibu lebih jago membuat kue. Karena
itu, Gendhis berusaha sebisa mungkin membuat sendiri kue-kue ini. Terima kasih
sudah menawarkan bantuan, Mbak.”
Mbak Nawang mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. “Mbak bisa
mengerti, kok. Mungkin karena Gendhis selalu mengadon kue sambil bersenandung
dengan hati gembira, kuenya jadi istimewa,” ucap Mbak Nawang.
Gendhis merasa lega, karena Mbak Nawang bisa mengerti.
Mbak Nawang memperhatikan ketika Gendhis mulai menimbang tepung terigu untuk
satu resep adonan. “Sebetulnya pesananmu berapa, Ndhis?” tanya Mbak Nawang.
“Seratus dua puluh lima, Mbak!” sahut Gendhis sambil menakar dengan
teliti.
“Satu resep bisa jadi berapa buah?”
“Tiga puluh.”
“Kenapa kamu tidak menakar untuk dua atau tiga resep sekaligus. Kan bisa
menghemat waktu untuk mengadon. Nanti tinggal mengukusnya saja,” usul Mbak
Nawang.
“Wah, kenapa tidak terpikirkan seperti itu, ya! Mbak jenius!” katanya
sambil memeluk kakak kesayangannya. “Baiklah kalau begitu! Mari berhitung!”
Mbak Nawang tertawa geli melihat tingkah Gendhis.
“Kue yang sudah jadi tiga puluh, yang sedang dikukus tiga puluh juga.
Jadi aku harus membuat tiga resep lagi. Nanti jadi seratus lima puluh. Sisanya
bisa dimakan ramai-ramai.”
“Wah, asyik!” seru Mbak Nawang menyambut ucapan Gendhis.
“Kita bisa pakai perkalian atau kelipatan seperti yang sudah Gendhis pelajari
di sekolah kan, Mbak!” kata Gendhis bersemangat.
Mbak Nawang menganggukkan kepala sambil tersenyum lebar, karena jawaban
Gendhis tepat sekali.
“Karena akan langsung membuat tiga resep, berarti semua bahan dikalikan
tiga,” gumam Gendhis sambil mulai berhitung.
“Dua butir telur x 3 = 6 butir,
75 gram gula pasir x 3 = 225 gram,
125 gram tepung terigu x 3 = 375 gram,
1 sendok teh SP x 3 = 3 sendok teh,
1 sendok teh garam x 3 = 3 sendok teh,
1 sendok teh vanili bubuk x 3 = 3 sendok teh,
100 ml santan cair yang sudah direbus x 3 = 300 ml,
1 sendok makan pasta pandan x 3 = 3 sendok makan.
Kelapa muda parut untuk topping,
beri garam sedikit, lalu dikukus.
Pewarna hijau secukupnya.”
“Yes, betul banget, Ndhis!” puji Mbak Nawang.
Gendhis langsung bergerak cepat. Mengambil wadah yang berukuran lebih
besar, lalu mulai menimbang satu per satu bahan yang sudah disiapkan. Semuanya
dikalikan tiga.
Setelah semua bahan selesai ditakar, Gendhis mengambil mixer. Pertama-tama dia mengocok telur,
gula, garam, SP dan vanili sampai mengembang. Lalu, satu per satu bahan yang
tersisa dimasukkan ke dalam adonan. Semangat Gendhis kembali seketika. Dia
membuat adonan kue putu ayu sambil bersenandung gembira.
“Wah, adonan kali ini pasti hasilnya sangat luar biasa!” puji Mbak Nawang
merasakan keceriaan adiknya.
Gendhis tersenyum senang. Setelah adonan jadi, dia memasukkan pewarna
makanan dengan hati-hati. “Satu tetes saja, supaya warnanya lembut dan cantik.”
Adonan berwarna hijau muda sudah tercampur sempurna, Gendhis lalu memasukkannya
ke masing-masing cetakan putu ayu, yang di dalamnya sudah diberi sejumput
parutan kelapa muda. Tidak lupa sebelumnya cetakan harus dioles sedikit minyak,
supaya tidak lengket.
“Nah, sekarang sudah siap dikukus,” gumam Gendhis sambil memandangi
adonan dalam cetakan yang sudah berjajar rapi. “Benar, Mbak Nawang. Aku jadi menghemat
waktu banyak sekali. Sekarang sambil menunggu kue dikukus, aku bisa mengerjakan
PR Matematikaku.”
Mbak Nawang tersenyum senang karena bisa membantu adik kesayangannya.
Gendhis memasukkan tiga puluh kue ke dalam kukusan, lalu memasang alarm.
“Sekarang tinggal menunggu dua puluh lima menit ke depan.” Gendhis memeriksa
besar nyala api, lalu dia meninggalkan dapur. Tak lama kemudian kembali dengan
beberapa buku di tangannya.
“Yakin tidak perlu bantuan Mbak?” tanya Mbak Nawang ketika lewat dapur
lagi.
“Iya, Mbak. Kalau tinggal menunggu matang, bisa dilakukan sambil
mengerjakan PR,” jawab Gendhis sambil tersenyum.
“Baiklah. Kalau begitu Mbak mau ke rumah Mbak Ira dulu, ya!” kata Mbak
Nawang sambil berlalu. “Jangan lupa, nanti Mbak harus mencicip kue putu ayunya
lho!” gurau Mbak Nawang dari balik pintu.
“Siap, Mbak! Terima kasih. Mbak Nawang memang kakak terbaik,” balas
Gendhis sambil membentuk hati dengan jarinya.
***SELESAI***