Search This Blog

> Belajar Matematika dan Sains Menyenangkan

Thursday, July 30, 2026

Gang Kenang


“Ugh, panas sekali!” Seno menghela napas sambil menyeka keringat di dahinya.

Cuaca siang itu memang panas menyengat. Malas betul harus jalan pulang lewat Gang Kenang. Timbunan material sepanjang tepi jalan membuat aliran debu tiap ada angin yang bertiup. Kering, rasanya menyesakkan.

“Kapan selesainya perbaikan jalan ini?” Seno bergumam sebal.

“Coba pepohonan di sepanjang gang nggak ditebang, ya. Pasti masih lumayan sejuk,” sambung Wisang ikut mengeluh.

“Betul. Padahal sebelumnya, ini gang favoritku kalau pulang sekolah. Pohon-pohon besar yang rimbun, sejuk, udara yang bersih,” timpal Seno. 

*** 

“Bu, kenapa pohon-pohon di Gang Kenang ditebangi? Jalan jadi panas, bikin bete.” Seno mengeluh pada Ibu ketika sampai di rumah.

Ibu yang sedang asyik merawat tanaman mawarnya terkejut melihat Seno yang tiba-tiba ada di sebelahnya.

“Ealah, Seno, mengagetkan Ibu saja. Datang kok nggak ada suaranya. Pulang sekolah itu ya masuk dulu, cuci tangan dan kaki, lalu makan, baru duduk-duduk di sini.” Ibu menimpali ucapan Seno.

“Seno sudah kulonuwun tadi. Ibu saja yang keasyikan merawat tanaman,” jawab Seno sambil mendudukkan pantatnya di bangku bambu, di sebelah Ibu. “Itu lho Bu, pohon besar di Gang Kenang kok ditebangi semua.”

“Kata Bapak, waktu rapat RT, awalnya pohon-pohon itu nggak akan ditebang. Tapi ternyata, ada warga yang lapor kalau pohon-pohon itu sudah terlalu tua dan rapuh. Nanti kalau datang musim hujan, malah berbahaya. Bisa ambruk.” Ibu menjelaskan pada Seno.

“Tapi kenapa ditebang sekarang, nggak waktu dekat musim hujan aja, Bu? Jadi kita yang sering lewat jalan itu nggak kepanasan tiap hari.”

“Mumpung ada perbaikan jalan, dibereskan pohon-pohonnya. Mungkin begitu,” tebak Ibu sambil melanjutkan memotong ranting mawar yang kering.

“Ah, bikin sebel. Ya sudah, Bu. Seno ke dalam dulu, mau makan siang.”

Ibu cuma menggeleng-gelengkan kepala melihat Seno yang berlalu sambil terus menggerutu.

*** 

“Kamu sudah tahu ceritanya kenapa pohon-pohon di Gang Kenang ditebang?” tanya Wisang sambil mengeluarkan PR-nya. Berdua mereka janjian mengerjakan tugas matematika bersama.

“Iya, kemarin Ibu cerita,” jawab Seno. “Ya, kita harus bersabar sampai musim hujan. Paling enggak, jalanan basah jadi sejuk.”

“Aku punya usul nih. Gimana kalau kita bilang Pak RT, lalu ajak teman-teman buat mulai menanam pohon di sepanjang gang itu. Daripada tiap hari kita menggerutu, lebih baik membantu menghijaukan lagi. Jadi musim panas yang akan datang gang sudah nggak kering lagi,” ajak Wisang.

“Wah, ide bagus itu, Wis. Tapi kan jalannya masih dalam perbaikan. Bagaimana kita bisa mulai menanam?” tanya Seno.

“Ya, kita bisa mulai sedikit demi sedikit. Dari bagian jalan yang sudah selesai diperbaiki, Sen.”

“Wah, kamu benar, Wis. Kalo begitu, ayo kita ke Pak RT sekarang,” Seno berdiri, sudah tidak sabar.

“Nanti sore, Sen. Sekarang Pak RT belum pulang. Masih di kantor. Kamu itu, nggak sabaran,” Wisang menimpali sambil tertawa.

“Iya, ya,” Seno mengiyakan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kalau gitu sekarang kita makan singkong goreng bikinan ibuku dulu saja, yuk.”

“Bikin PR dulu, Sen.” Jawaban Wisang tidak terdengar Seno yang sudah berlari ke dalam rumah.

Tak lama, Seno keluar lagi dengan tangan kosong. “Singkong gorengnya belum matang, Wis.” Sambil cengengesan Seno kembali menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Baru selesai dikupas, kata Ibu.” sahut Seno yang disambut gelak tawa Wisang.

Selesai mengerjakan PR, Wisang menyeletuk, “Sen, kita coba hitung, yuk. Kira-kira berapa pohon yang akan kita tanam sepanjang jalan Gang Kenang,” usul Wisang. “Ini sama seperti PR matematika kita.”

“Bisa kita hitung seperti di PR?” Seno kembali menggaruk kepalanya.

Wisang menganggukkan kepalanya. “Kira-kira panjang Gang Kenang 180 meter. Butuh berapa pohon, kalau kita mau menanami gang dengan jarak antarpohon 9 meter?” Wisang memberi contoh pertanyaan.

“Oiya betul. Kalau gitu, jawabannya = 180 : 9 = 20 pohon. Kalau kita mau menanam di seberangnya juga, maka 20 x 2 = 40 pohon. Begitu, ya?” tukas Seno.

“Iya, betul sekali. Nanti waktu kita ke rumah Pak RT, sekalian kita tanyakan berapa tepatnya panjang Gang Kenang.”

“Nah, karena sudah selesai berhitung, sekarang kalian makan singkong goreng sambil menyeruput teh panas. Pasti enak sekali.” Tiba-tiba Ibu sudah ada di belakang mereka.

Seno dan Wisang tertawa girang. Tanpa banyak basa-basi, mereka segera menyerbu singkong goreng yang aromanya sangat menggoda itu.

“Awas masih panas,” seru Ibu. Tapi terlambat, Seno sudah memegang singkong di depannya. Kepanasan, dijatuhkan lagi. Untung terjatuh kembali ke piringnya.

“Seno, nih. Nggak sabaran betul,” tukas Ibu sambil mencubit lembut pipi tembem anak kesayangannya. 

**Selesai**

Kotak Bekas

 


“Ibu, kotak-kotak ini untuk apa?” Mia bertanya pada ibunya yang sedang membereskan dapur. Dia melihat banyak kotak bekas susu, kotak bekas kue, dan kotak bekas sereal berserakan di lantai.

“Oh, itu mau dibuang. Tidak terpakai,” jawab Ibu. “Apa Mia mau pakai?”

“Untuk apa ya, Bu? Ini kan cuma kotak bekas,” Mia balik bertanya pada Ibu, merasa tidak ada gunanya menyimpan kotak-kotak itu.

“Entah, barangkali Mia memerlukannya saja,” sahut Ibu. 

*** 

Mia baru saja selesai menyapu lantai, ketika adiknya, Nino datang sambil cemberut.

“Ada apa, Nin? Kok wajahmu kusut seperti baju yang nggak disetrika,” Mia menggoda Nino.

Nino melirik Mia sebentar, lalu berpaling pada Ibu, mendekatinya, dan berkata, “Bu, aku ingin punya mobil-mobilan seperti punya Satrio. Truk besar, rodanya ada delapan, dan bisa ditarik pakai tali yang panjang. Belikan aku ya, Bu,” rengek Nino.

Ibu menghentikan beberesnya, lalu memandang Nino, “Bukannya baru kemarin Nino membeli mainan? Kamu harus menabung lagi kalau mau membeli mainan yang lain.”

Nino yang sudah menduga jawaban Ibu terdiam, kemudian berlalu meninggalkan Ibu dan Mia. Masih dengan wajah yang cemberut.

Mia tiba-tiba punya ide. “Ibu, kotak bekas ini buat aku semua ya,” kata Mia sambil mengumpulkan semua kotak yang sudah siap dibuang, lalu berlari keluar menyusul Nino.

Beberapa kali Mia bolak-balik mengambil gunting, lem, kertas warna-warni, tali, dan alat-alat lain yang biasa dipakainya untuk membuat prakarya.

Ibu hanya geleng-geleng kepala melihat anak perempuannya yang tiba-tiba sibuk.

Mia hendak membuat sesuatu berbentuk balok, yang berukuran panjang 60 cm, lebar 30 cm, dan tinggi 35 cm. Untuk membuat balok tersebut, Mia ingat tugas sekolahnya bulan lalu. Membuat jaring-jaring bangun ruang. Untuk balok, Mia membuat jaring-jaring yang terdiri dari dua persegi panjang berukuran 60 cm x 30 cm, dua persegi panjang berukuran 60 cm x 35 cm, dan dua persegi panjang berukuran 30 cm x 35 cm. Maka Mia membutuhkan kardus dengan luas = 2 (p x l) + 2 (p x t) + 2 (l x t).

Panjang = p = 60 cm; lebar = l = 30 cm; tinggi = t = 35 cm.

Maka luas permukaan balok :

L  = 2 (p x l) + 2 (p x t) + 2 (l x t)

    = 2 (60 x 30) + 2 (60 x 35) + 2 (30 x 35)

    =  3600 + 4200 + 2100 = 9900 cm2.

Setelah mendapat kardus yang dibutuhkan, Mia mulai mengukur dan memotong kardus sesuai dengan jaring-jaring balok yang akan dibuatnya. 

*** 

Tak lama kemudian, dari teras depan terdengar tawa ceria Nino dan Mia. Ibu melihat keluar, penasaran apa yang sedang dikerjakan kedua anaknya.

Ternyata dengan kotak-kotak bekas yang akan dibuang tadi, Mia membuatkan Nino mobil-mobilan besar, berwarna biru tua dengan jendela abu-abu, dihiasi lampu warna-warni, rodanya dua belas dan bisa jalan dengan ditarik tali. Tentu saja Nino senang sekali. 

**Selesai**

Sunday, May 31, 2026

Maya Senang Bisa Membantu

 


“Maya, bisakah Ibu minta tolong?” tanya Ibu dari ruang sebelah.

Maya yang sedang asyik membaca buku langsung berdiri dan mendekat ke arah Ibu, “Ada apa, Bu? Apa yang bisa Maya bantu?”

“Ini nih, jahitan pesanan Bu Marmo kainnya kurang, padahal mau diambil nanti malam. Bu Marmo tidak sempat membelikan kain karena harus mengurus persiapan acaranya di rumah. Kalau Ibu berangkat sendiri, pasti jahitan ini tidak bisa selesai tepat waktu. Bisakah Maya membelikannya di toko Pak Tomo?” pinta Ibu.

“Tentu saja, Bu. Maya juga sedang tidak ada kegiatan selain membaca buku. Biar Maya saja yang pergi,” jawab Maya.

“Ini yang harus dibeli. Dua meter kain brokat harganya Rp30.000 per meter, 2,5 meter kain katun harganya Rp18.000 per meter, dan 1,5 meter kain satin harganya Rp35.000 per meter. Jadi total 6 meter kain.” Ibu memberi dua lembar uang seratus ribuan.

“(2 x Rp30.000) + (2,5 x Rp18.000) + (1,5 x Rp35.000) = Rp157.500. Jadi nanti uang kembaliannya = Rp200.000 – Rp157.500 = Rp42.500.” Maya menghitung dengan jarinya.

Setelah menerima contoh kain yang akan dibeli, Maya berpamitan. “Maya pergi dulu, Bu!”

“Terima kasih ya, Nak. Hati-hati!”

***

 “Hai, Maya. Mau kemana? Kok tergesa-gesa?” sapa Nuri di tengah perjalanan Maya ke toko Pak Tomo.

“Hai, Nur. Aku disuruh Ibu membeli kain di toko Pak Tomo. Aku agak tergesa-gesa, soalnya kain itu harus segera dijahit. Sore nanti harus sudah jadi,” Maya menjawab tanpa menghentikan langkah kakinya.

Nuri mengangguk-angguk sambil terus berjalan menyamai langkah kaki Maya.

“Kamu sendiri mau kemana?” tanya Maya.

“Aku baru saja dari rumah Madun. Ibunya sakit. Waktu aku ke rumahnya, dia sedang mengurus dua adiknya yang masih kecil. Waktu kupegang tangannya, ternyata badan Madun juga panas. Dia demam, tapi tidak bilang ibunya. Kasihan!” kata Nuri.

“Ooh, makanya dia nggak masuk sekolah, ya? Lho, bapaknya tidak ada di rumah?” tanya Maya.

“Kata Madun, bapaknya harus tetap bekerja. Kalau sehari saja tidak masuk, bapaknya tidak akan dibayar dan hari itu bisa-bisa mereka tidak makan,jawab Nuri. “Madun juga bilang, kalau aku yang tidak makan, nggak apa-apa. Tapi dua adikku dan Ibu yang sedang sakit kasihan. Makanya dia tidak bilang bapaknya.”

“Kita harus membantu Madun, Nur. Paling tidak sampai dia sehat.” kata Maya.

“Iya, kamu benar, May. Lalu sekarang kita bagaimana?”

“Begini, aku harus menyelesaikan tugas yang disuruh Ibu dulu. Aku akan bergegas membeli kain, lalu segera pulang. Sampai di rumah, aku akan izin Ibu untuk pergi ke rumah Madun. Aku mungkin akan membawa sedikit makanan dari rumah, supaya Madun dan keluarganya bisa mengisi perutnya hari ini. Yah, sedikit-sedikit saja, yang penting Madun dan ibunya bisa segera sehat.”

“Baik kalau begitu. Aku juga akan pulang dulu, aku minta izin ibuku juga untuk membawa sedikit beras dan telur supaya bisa untuk persediaan dua atau tiga hari ke depan. Seandainya terpaksa bapak Madun tidak masuk kerja, mereka masih bisa makan,” kata Nuri lalu bergegas lari ke arah rumahnya.

Baru beberapa langkah berjalan, ada yang menyapa Maya lagi. “Hai Maya, mau kemana? Kenapa kelihatan tergesa-gesa?” sapa Itok, kawan sekolahnya juga.

Maya lalu menjelaskan tentang titipan kain pesanan ibunya dan tidak lupa dia menceritakan soal Madun, karena Maya tahu Madun adalah sahabat dekat Itok.

“Oh, tentu saja aku mau datang dan ikut membantu. Kebetulan tadi pagi bapakku pulang memancing dan mendapat banyak ikan. Tentu tidak akan keberatan kalau aku minta sedikit untuk kuberikan pada Madun,” kata Itok bersemangat. Baru berjalan beberapa langkah, Itok berbalik. “Kira-kira berapa lama kamu sampai ke rumah Madun?”

Maya mengernyitkan dahinya, “Jalan ke toko 5 menit, di toko memilih dan menghitung pembayaran 10 menit, kembali ke rumah 5 menit, pamit Ibu dan menyiapkan barang 10 menit, ke rumah Madun 5 menit. Jadi kurang lebih 35 menit aku sudah sampai di rumah Madun,” jelas Maya.

Itok mengacungkan dua jempolnya sambil berlari kecil meninggalkan Maya. Maya bergegas ke toko Pak Tomo, segera membelikan kain pesanan Ibu, lalu kembali ke rumah.

“Ini Bu, kain pesanan Ibu. Benar yang ini, kan?” Maya memastikan.

“Iya, betul. Terima kasih ya, Nak!” kata Ibu.

“Bu, tadi Maya bertemu dengan Nuri. Dia bilang, Madun dan ibunya sakit. Kalau sudah tidak ada yang Maya kerjakan untuk Ibu, Maya mau ke rumah Madun, ya. Mungkin ada yang bisa Maya bantu untuk Madun dan ibunya.” Kata Maya pada Ibu.

“Tentu saja boleh, Nak. Sebentar lagi juga Ibu sudah selesai. Maya bisa bawa beberapa kue lapis yang ada di meja untuk Madun dan adiknya. Ada teh dan gula yang masih utuh di lemari penyimpanan, Maya bisa bawa juga. Sampaikan salam Ibu untuk ibunya Madun, ya. Semoga lekas sembuh,” kata Ibu.

“Siap Bu. Terima kasih.”

“Terima kasih juga sudah membelikan kain pesanan Ibu, ya.”

Maya tersenyum, lalu bergegas menyiapkan beberapa barang untuk dibawa ke rumah Madun. Hari ini dia senang bisa membantu banyak orang.

 

**Selesai**

Jam Digital Yang Diinginkan Tomi

 


Jam digital yang diinginkan Tomi itu dipajang di toko milik Pak Hari, teman Ayah. Warnanya biru tua, ada lis kuning di tepinya yang berbentuk persegi. Kalepnya berbahan plastik tebal berwarna hitam.

Jam itu dilihat Tomi kemarin, sewaktu ikut Ibu dan Ayah berbelanja. Ketika lewat di depan toko Pak Hari, Ayah berhenti untuk menyapa Pak Hari yang sedang membersihkan kaca etalase tokonya.

Sambil menunggu Ayah, Tomi melihat-lihat barang yang dipajang di etalase. Mata Tomi tertumbuk pada sebuah jam digital. Sudah lama Tomi ingin mempunyai jam digital, tapi jam analognya yang lama masih bisa dipakai. Kemungkinan kalau minta Ayah atau Ibu pasti tidak boleh. Apalagi ketika melihat harga jam yang tertera di label kalepnya, Rp300.000. Mahal sekali.

“Aku pamit dulu, ya! Lain kali aku mampir lebih lama,” suara Ayah berpamitan membuyarkan lamunan Tomi.

Sampai di rumah, Tomi bertanya pada Ayah, “Ayah, bolehkah aku membeli jam digital di toko Pak Hari? Ada satu yang aku suka sekali. Tapi harganya Rp300.000. Bolehkah?”

Dahi Ayah berkerut. Ibu yang duduk di sebelah Ayah terdiam, menunggu Ayah menjawab pertanyaan Tomi.

“Tom, jam tanganmu masih bisa dipakai?” tanya Ayah mengawali ucapannya.

Tomi mengangguk perlahan. Sudah tahu kalau Ayah pasti akan menanyakan hal itu. “Masih, Yah. Masih bagus,” jawab Tomi jujur.

Sekarang Ayah tidak bisa membelikanmu jam tangan digital yang kamu inginkan. Karena selain jam lamamu masih bisa dipakai, membeli barang mahal yang bukan kebutuhan utama tidak bisa seketika itu juga. Masih ada kebutuhan lain yang lebih mendesak daripada jam tangan yang kamu inginkan,” kata Ayah pada Tomi.

Tomi menunduk sedih meski dia sudah bisa menebak kalau Ayah akan menolak permintaannya.

“Tapi,” Ayah melanjutkan perkataannya. “Ada cara supaya kamu bisa membeli jam tangan itu.”

Bagaimana caranya, Yah?” Wajah Tomi langsung berbinar mendengar ucapan Ayah.

“Kamu bisa mengumpulkan uang sendiri,” jawab Ayah. “Ada beberapa pekerjaan yang bisa kamu lakukan, meski kamu masih anak-anak. Misalnya, menawarkan jasa potong rumput kepada Pak Badrun, Bu Asih dan tetangga yang lainnya. Kamu juga bisa menawarkan bantuan untuk berbelanja ke warung Mbok Siti, dan lain sebagainya. Tapi sebelum menawarkan jasa, kamu harus bilang dulu maksud dan tujuanmu. Menjelaskan kalau kamu memang sedang mengumpulkan uang untuk membeli jam tangan,” jelas Ayah.

“Oh, bisa begitu ya, Yah,” Tomi mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa ide langsung terlintas di kepalanya. “Kalau aku jualan kue bikinan Ibu di sekolah, boleh nggak?” tanya Tomi lagi.

“Tentu saja boleh, Tom. Ibu bersedia membuat kue, tapi kamu yang harus berbelanja bahan-bahan kuenya, dan membantu Ibu sewaktu membuatnya. Bagaimana?” Ibu menimpali dengan lembut.

“Wah, tentu saja, Bu. Ini kan jualan Tomi. Malah Tomi yang harus berterima kasih karena Ibu mau membantu Tomi.”

“Oke, mulai kapan kamu akan membuat kue? Nanti untuk membeli bahan-bahannya Ibu dulu yang bayar. Jangan lupa harus kamu ganti. Karena itu dihitung pinjaman,” jelas Ibu.

“Mulai besok ya, Bu. Sepulang sekolah Tomi akan langsung berbelanja dan sorenya kita membuat kue. Nah, pagi harinya Tomi bisa jual ke teman-teman Tomi.”

“Nah, begitu dong. Ayah bangga karena kamu tidak putus asa ketika Ayah menolak permintaanmu. Akan lebih baik kalau kamu mengerti dari mana datangnya uang dan bagaimana caranya mencari uang,kata Ayah sambil mengusap kepala Tomi.

***

Dua minggu berlalu sejak Tomi mulai berjualan kue. Semua hasil yang didapat sementara dikelola Ibu, karena sebagian digunakan kembali untuk membeli bahan-bahan kue untuk hari berikutnya. Selain berjualan kue, dalam dua minggu belakangan, Tomi sudah membantu Bu Asih, Pak Badrun, dan Nek Ami membersihkan halaman rumah mereka. Tomi mendapat upah Rp25.000 untuk setiap halaman.

“Tom, sini sebentar,” panggil Ibu sepulang Tomi berbelanja bahan kue.

Tomi mendekati Ibu yang sedang menjejerkan beberapa lembar uang di depan meja. “Wah, banyak betul uang Ibu,” kata Tomi.

“Ini semua uangmu. Hasil keuntungan berjualan kue,” sahut Ibu sambil tersenyum bangga.

“Sebanyak ini?” tukas Tomi takjub.

“Iya. Coba kita hitung semuanya, ya.” Ibu menata lembaran uang sesuai nominalnya.

“Oke, Bu.

(2 x Rp50.000) + (3 x Rp20.000) + (5 x Rp10.000) + (10 x Rp5.000) + (20 x Rp2.000) + (10 x Rp1.000) = Rp100.000 + Rp60.000 + Rp50.000 + Rp50.000 + Rp40.000 + Rp10.000 = Rp310.000.”

“Betul sekali. Apa sudah cukup?” tanya Ibu.

“Cukup untuk membeli jam digital yang Tomi inginkan, Bu. Masih ditambah lagi uang membersihkan halaman = (3 x Rp25.000) + Rp310.000 = Rp75.000 + Rp310.000 = Rp385.000.” Tomi menjelaskan dengan mata berbinar. “Kalau Tomi terus berjualan kue, boleh, Bu? Tomi janji tidak akan mengganggu waktu belajar di rumah.” Tomi meminta persetujuan Ibu.

“Tentu saja, Tom. Ibu senang kamu belajar bekerja dan menabung, asalkan tetap giat belajar,” pesan Ibu yang disambut senyum Tomi.

Tomi senang sekali karena akhirnya dia punya cara untuk membeli jam digital yang diinginkannya. Belajar bagaimana berusaha menghasilkan uang dan bisa menabung. Dan senangnya lagi, Tomi tidak menyusahkan kedua orang tuanya untuk membeli keperluannya sendiri.


**Selesai**

Thursday, April 30, 2026

Membuat Bingkai Foto

 


“Uh, dari tadi kok nggak bisa pas, sih,” Anis menggerutu sambil meremas kertas karton di depannya.

“Ada apa sih, Nis. Kok marah-marah sendiri gitu,” tegur Kak Ima sambil melongokkan kepalanya, melihat kamar Anis. “Astaga, apa salah kertas-kertas ini, kauremas-remas sampai tak berbentuk.”

Mendengar candaan Kak Ima, Anis meringis. “Ini, Kak. Aku mau bikin bingkai foto, tapi nggak bisa pas kanan, kiri, atas, dan bawahnya. Kata Bu Guru harus sebangun dengan fotonya.”

Ima mendekati adiknya. Dia bisa mengerti, karena adiknya yang super perfeksionis ini memang tidak bisa melihat barang yang dibuat dengan ukuran yang tidak presisi. Selalu ada yang mengganjal meski hanya ada beda sedikit.

“Coba mana fotomu?” tanya Kak Ima mencoba membantu.

Anis menunjukkan foto berukuran alas 16 cm dan tinggi 24 cm, lalu sebuah karton berbentuk persegi panjang. “Foto dan karton harus dibuat sebangun. Lebar karton di sebelah kiri, kanan, dan atas foto adalah 2 cm. Aku harus mencari lebar bagian bawahnya, supaya bisa sebangun.”

“Kamu tahu cara mengukur dua bangun yang sebangun, kan?” tanya Kak Ima.

“Iya, Kak. Ada dua bangun persegi panjang. Foto dan bingkai. Foto mempunyai alas 16 cm dan tinggi 24 cm. Sedangkan bingkai, setelah ditambah 2 cm di kiri dan kanannya, maka mempunyai alas (16 + 2 + 2) cm = 20 cm. Tinggal tingginya yang harus dicari. Untuk mendapatkan tinggi bingkai, supaya sebangun, maka: 

 

Selanjutnya dikali silang, menjadi:

Tinggi bingkai x 16 = 24 x 20

Tinggi bingkai = 480 / 16 = 30 cm.”

“Nah, kan. Itu sudah betul. Sekarang buat bingkai sesuai ukuran, lalu pelan-pelan saja waktu menempelnya. Ukur lagi, kiri, kanan, dan atas harus 2 cm.” Kak Ima membantu membuat ukuran yang tepat. “Nanti sisa lebar bagian bawah seharusnya jadi (30 – 24 – 2) = 4 cm. Ini lebih lebar, ya. Tapi bisa ditambahkan tulisan supaya cantik bingkainya. Iya, kan?”

“Iya, Kak. Wah, kenapa kalau ditemani Kak Ima pasti kerjaanku beres. Lain kali bantuin lagi, ya Kak.” Anis tersenyum nakal sebelum cubitan sayang mendarat di pipinya.

 

*Selesai*

Mengukur Lebar Sungai

Rumah Malik letaknya agak jauh dari desa terdekat. Untuk pergi ke sekolah, Malik harus menyeberangi sebuah sungai yang cukup lebar. Sebelum ada pembangunan masuk desa, Malik dan beberapa anak yang berdekatan rumahnya, harus berangkat pagi-pagi sekali kalau mau ke sekolah. Satu per satu mereka akan menyeberang dengan menggunakan dua utas tali yang dibentangkan kuat-kuat dari ujung tepi sungai yang satu ke ujung tepi sungai seberangnya.

“Hati-hati, pegang kuat-kuat talinya. Jangan lihat ke bawah,” kata Pak Muin yang sering membantu menyeberangkan anak-anak.

Menyeberang menggunakan dua tali, satu untuk pegangan dan satu di bawahnya untuk pijakan, benar-benar harus konsentrasi. Awalnya menakutkan, tapi selanjutnya jadi menantang.

“Memang berbahaya, tapi kalau tidak begitu, tidak bisa sekolah,” jawab Malik ketika ada salah satu orang tua murid yang bertanya.

Sampai akhirnya ada program pembangunan desa, yang menargetkan pembangunan jembatan di sungai yang sering dilewati Malik.

Suatu hari Pak Guru bertanya, “Adakah yang tahu berapa lebar sungai yang diseberangi Malik?”

Malik mengangkat tangannya. “Saya belum menghitung, Pak. Tapi saya pernah lihat Pak Muin dan teman-temannya mengukur lebar sungai ketika akan membangun jembatan.”

“Bagaimana caranya, Lik?” Ucup penasaran.

“Waktu itu Pak Muin menancapkan tongkat di empat titik, yang nantinya akan membentuk dua segitiga sebangun jika dihubungkan dengan sebuah pohon di seberang sungai.” Malik berdiri lalu bertanya pada Pak Guru, “Saya izin maju untuk menggambar di papan tulis boleh, Pak?”

“Tentu saja, Lik!” Pak Guru tersenyum senang karena muridnya berani dan bisa menjelaskan apa yang tadi ditanyakannya.

Di papan tulis Malik menggambar sebuah pohon sebagai ujung segitiga, lalu dua sisi sejajar di bawahnya. Di antara pohon dan sisi terdekatnya ada sebuah sungai yang akan diukur lebarnya. Malik memberi nama keempat titik tersebut, A, B, C, dan D.

“Kalau tidak salah dengar, jarak AB, AD, DC, berturut-turut adalah 8 m, 4 m, dan 6 m.”

Malik menuliskan semuanya di papan tulis. “Dengan dua segitiga yang sebangun ini, kita bisa menghitung lebar sungai, yaitu dengan membuat perbandingan :

Dari perbandingan tersebut, selanjutnya dikali silang:

8 x PD = 6 x (PD + 4)

8 PD = 6 PD + 24

8 PD – 6 PD = 24

2 PD = 24

PD = 24/2 = 12 m.

Jadi jarak antara pohon dengan titik D = lebar sungai = 12 meter.”

Malik meletakkan kapur tulisnya lalu melihat ke arah Pak Guru, meminta untuk dikoreksi jika ada yang salah.

Pak Guru tersenyum sambil mengangkat kedua ibu jarinya, lalu menyilakan Malik duduk kembali.

“Betul sekali pendekatan matematika seperti yang dijelaskan Malik. Dengan memanfaatkan teori kesebangunan, kita bisa mengukur lebar sungai terlebih dulu untuk memperkirakan panjang jembatan yang akan dibuat.” Pak Guru mengangkat jempolnya sekali lagi ke arah Malik. “Nanti pulang sekolah bawa pulang empat buah durian di samping sekolah itu, ya. Makan ramai-ramai dengan teman-temanmu!”

Hore… semua anak berteriak senang.

 

*Selesai*

Tuesday, March 31, 2026

Tumpukan Setrikaan yang Menggunung

 


Liburan sudah selesai, besok sudah masuk sekolah. Mia menemani Ibu yang sedang menata meja untuk alas menyetrika. Seminggu ditinggal mudik, tumpukan pakaian sudah segunung. Karena butuh seragam yang rapi, mau tidak mau, Ibu harus menyetrika.

Dengan cekatan Ibu menyetrika satu per satu seragam sekolah Mia. Lalu baju kerja Ayah, lalu seragam Adik. Seragam Mia lagi, baju Ayah, daster Ibu, lalu celana Adik. Diulang-ulang, agak membosankan. Mia menguap. Setelah membetulkan posisi duduknya, Mia sekarang mengamati gerakan tangan Ibu.

“Mulai dari kerahnya, kemudian sisi yang ada sakunya, kemudian sisi lainnya. Dibalik, dikancingkan, lalu setrika bagian belakangnya. Kalau sudah licin, dilipat dengan rapi.” Sambil memperhatikan Ibu, Mia bergumam mengulangi langkah menyetrika yang dilakukan Ibu.

Ibu tersenyum melihat Mia. Sesekali Mia diajari menyetrika, tapi tetap sambil diawasi, karena terkadang Mia masih meletakkan sisi panas setrika terlalu lama. Setelah bosan belajar menyetrika, Mia kembali duduk manis di sebelah Ibu.

Mia mengamati sambil sesekali mengernyitkan dahinya. “Untuk menyetrika satu baju, kira-kira Ibu membutuhkan waktu 1 menit 30 detik.”

”Oya, sempat juga Mia menghitung,” sahut Ibu.

Mia menjawab sahutan Ibu dengan tersenyum. Dia masih mengagumi tangan Ibu yang terus bergerak cekatan meski sambil berbicara dan memandang ke arahnya.

“Oiya, karena nanti jam 4.10 Ibu ada arisan, Ibu harus selesai menyetrika jam 4.00. Kira-kira Ibu bisa menyelesaikan berapa potong baju?” tanya Ibu tiba-tiba.

Mia melirik tumpukan pakaian yang menuggu untuk disetrika, lalu melihat ke arah jam dinding. Jam menunjukkan pukul dua.

“Sekarang jam 2.00. Kalau Ibu hanya bisa menyetrika sampai jam 4.00, maka Ibu punya waktu 2 jam saja. Karena untuk menyetrika satu baju kira-kira butuh 1 menit 30 detik, maka…

Waktu menyetrika = 2 jam = 2 x 60 x 60 = 7200 detik.

Satu baju = 1 menit 30 detik = 90 detik.

Maka baju yang mungkin disetrika Ibu = 7200 : 90 = 80 potong baju.” Mia menjelaskan sambil memainkan jari-jari untuk membantunya berhitung.

“Wah lumayan banyak. Bisa selesai menyetrika hari ini, nih,” kata Ibu.

“Dengan tangan Ibu yang cekatan pasti bisa, Bu. Mia bantu sambil nonton Doraemon, ya.” Sambil tersenyum menggoda Mia beranjak menyalakan televisi.

 

*Selesai*


Gang Kenang

“Ugh, panas sekali!” Seno menghela napas sambil menyeka keringat di dahinya. Cuaca siang itu memang panas menyengat. Malas betul harus jalan...