Siang itu, kabut tipis terbang rendah. Di daerah dataran tinggi seperti Dieng, Wonosobo,
hampir setiap waktu panasnya siang
bercampur dengan udara sejuk.
Ujo dan
Ali sedang bermain kelereng di halaman rumah mereka. “Giliranku ya, Jo!” Ali
mulai membidik kelereng Ujo. “Wah pasti kena, nih!”
Ali
memicingkan sebelah matanya, dengan penuh konsentrasi membidik kelereng Ujo. Thak! Bunyi
kelereng yang dilepaskan Ali tepat mengenai kelereng Ujo dengan keras.
“Hore, berhasil!
Kelereng itu jadi milikku!” teriak Ali.
“Yah,
habis sudah kelerengku,” keluh Ujo. “Lho, mana kelerengnya, Li?
Mereka
berdua lalu mencari-cari. Ternyata menggelinding masuk sampai ke kandang ayam
Pak Din.
“Ada di
dalam, Li!” kata Ujo.
“Biar
aku ambil, sepertinya pintu kandang tidak dikunci,” kata Ali.
Ali
segera masuk ke kandang, mengambil kelereng, kemudian bergegas keluar.
“Wah,
sudah siang! Kita pulang dulu, yuk! Lagipula kelerengku sudah habis,” ajak Ujo.
Ali
mengangguk, lalu bergegas memasukkan kelereng-kelerengnya ke dalam kaleng.
Berdua mereka meninggalkan tempat itu.
Belum
sampai masuk rumah, Ali mendengar Pak Din berteriak-teriak, “Ayam-ayamku lepas!
Tolong bantu siapa saja yang bisa menangkapnya! Aduh, siapa tadi yang lupa
menutup pintu kandang?”
Ali
yang mendengar teriakan Pak Din langsung merasa bersalah. Dia yang terakhir
masuk ke kandang ayam Pak Din untuk mengambil kelereng. “Duh, aku harus
bagaimana ini? Aku takut dimarahi!” batin Ali.
Sambil memikirkan
itu, Ali bergegas menghampiri Pak Din dan membantunya menangkap ayam-ayam yang
lepas.
“Itu, ada dua yang lari
ke sana, Li!” Pak Din menunjuk ke bawah pohon jambu. “Lalu di sana juga ada
tiga,” tunjuk Pak Din ketika melihat kelebatan ekor ayam di dekat tanaman
serai.
Ali berlari ke sana-sini
mengikuti arahan Pak Din.
“Masih kurang berapa,
Pak?” tanya Ali sambil mengatur napas.
Pak Din mulai menghitung.
Yang di dalam kandang tadi ada 11, ditambah 2 di pohon jambu, ditambah 3 di
pohon serai, ditambah 2 di dekat pagar, ditambah 1 di samping gudang, jadi
totalnya = 11 + 2 + 3 + 2 + 1 = 19 ekor.
Padahal seharusnya 20 ekor. Jadi masih kurang seekor, Li,” sahut Pak Din sambil
celingukan mencari satu ayamnya yang belum ketemu.
Tiba-tiba ada sekelebat
makhluk yang terbang rendah melintas di depan Ali dan Pak Din. Dengan sigap Pak
Din menangkapnya.
“Nah,
ini ayam terakhir!” kata Pak Din sambil memasukkannya ke dalam kandang. “Terima
kasih sudah membantu menangkap ayam-ayam ini, Li.”
Ali
tidak berani memandang mata Pak Din. Tapi tak berapa lama kemudian, dia membuka
mulut dengan agak tergagap. “Sebenarnya, Pak! Tadi saya yang lupa menutup pintu
kandang.” Lalu Ali menjelaskan bagaimana dia masuk, lalu keluar tanpa menutup pintu kandang ayam Pak Din.
Sambil
memandangi Ali, Pak Din menghela napas. “Bapak hargai kejujuran dan bantuan
kamu. Tapi lain kali jangan diulangi, ya! Masuk ke tempat milik orang lain tanpa izin
saja sudah salah, apalagi lalai dan hampir merugikan orang lain.”
“Maaf,
Pak!” kata Ali lirih.
“Sudah
tidak apa-apa,” kata Pak Din sambil merangkul Ali. “Nah sekarang, kita masuk
dulu. Bu Din sudah membuatkan es jeruk dan tempe kemul.”
Ali
senang karena memutuskan untuk bersikap jujur. Meskipun awalnya takut, tapi dia
lega sudah
berani jujur dan bertanggung jawab.
**Selesai**