Search This Blog

> Belajar Matematika dan Sains Menyenangkan

Monday, January 29, 2024

Toko Kukis Bibi Estella

 

Bibi Estella suka sekali membuat kue, terutama kukis. Setiap ada kegiatan di Desa Merona, pasti dia membawa berbagai macam kukis. Kukis buatan Bibi Estella sangat disukai.

“Bibi Estella, kenapa tidak berjualan kukis? Kalau tidak ada acara seperti ini, kami jadi tidak bisa makan kukis buatan Bibi,” kata Ola, ketika sedang membantu Bibi Estella menata kukis di acara Kumpul Warga.

“Iya, Bi. Kukis Bibi enak sekali. Kalau Bibi Estella membuka toko kukis, pasti akan laris manis,” sahut Rara.

Bibi Estella yang sedang menata kukis buatannya jadi merona. “Apakah benar enak?” tanyanya. “Sebetulnya Bibi pernah terpikir untuk menjualnya, tapi kurang percaya diri.”

“Ah, Bibi terlalu merendah. Ini enak sekali, Bi! Ayo mulai besok Bibi Estella harus mulai membuka pesanan kukis, ya. Saya daftar pertama,” Ola memberi semangat pada Bibi Estella.

“Baiklah, nanti Bibi pikirkan dulu,” kata Bibi Estella. Dan tentu saja disambut hangat oleh teman-teman kecilnya.

 

***

 

“Selamat Sore, Bibi Estella. Ini ada surat undangan dari Ibu,” sapa Astra di pintu dapur Bibi Estella.

Tapi kelihatannya Bibi Estella sedang melamun, tidak mendengar sapaan Astra. “Selamat Sore, Bi!” Astra memanggil dengan suara lebih keras.

“Oh, Astra. Maafkan, Bibi melamun. Ada apa?” tanya Bibi Estella terkejut.

“Saya mengantarkan undangan dari Ibu. Untuk pertemuan besok. Dan Ibu bertanya, apakah Bibi bisa datang lebih awal untuk membantu Ibu?”

“Oh, tentu saja bisa. Kebetulan besok Bibi tidak ada kegiatan apa-apa,” sahut Bibi Estella.

“Baiklah, Bi. Terima kasih sebelumnya. Kalau begitu saya pamit dulu,” kata Astra yang disambut anggukan Bibi Estella. Astra yang sudah membalikkan badan, tiba-tiba kembali lagi, “O iya, kok tumben sore-sore begini Bibi melamun?”

“Ini, Ola dan Rara menyarankan Bibi untuk menjual kukis-kukis buatan Bibi. Tapi Bibi bingung menentukan harga kukis untuk dijual. Apa kamu bisa bantu Bibi untuk menghitung?” tanya Bibi Estella.

“Oh, tentu, Bi. Saya coba bantu, ya. Semoga masih ingat yang diajarkan Pak Ridwan,” kata Astra. “Pertama, Bibi harus menentukan dulu modal untuk membuat satu resep kukis. Apakah ingat harga bahan-bahannya, Bi?”

Bibi Estella mengambil selembar kertas, lalu mulai menuliskan bahan-bahan kukis beserta harganya. “Ini! Untuk satu resep total belanja delapan puluh ribu rupiah,” kata Bibi Estella sambil menunjukkan hasil hitungannya.

“Lalu, untuk satu resep ini, Bibi rencananya akan mengambil keuntungan berapa persen?” tanya Astra lagi.

“Dua puluh persen.”

“Oke, jadi keuntungan yang akan diperoleh Bibi jika kukis dari satu resep terjual habis adalah

20/100 x 80.000 = 16.000,

enam belas ribu rupiah,” jelas Astra. “Lalu untuk satu resep bisa jadi berapa kukis?”

Bibi Estella berpikir sebentar. “Satu resep jadi tiga puluh dua kukis.”


“Total modal dan keuntungan adalah

80.000 + 16. 000 = 96.000.

Jadi harga jual untuk satu kukis adalah

96.000 : 32 = 3.000,

tiga ribu rupiah.”

“Oh, begitu ya cara menghitungnya. Wah, terima kasih ya, Astra. Besok Bibi bawakan kamu setoples kukis,” kata Bibi Estella senang.

“Hehe, senang bisa membantu, Bi. Tapi lebih senang lagi makan kukis buatan Bibi yang enak,” sahut Astra bergurau. “Kalau begitu saya pamit dulu ya, Bi. Masih harus menghantarkan beberapa undangan ini.”

Bibi Estella mengantar Astra sampai ke depan pintu. Di kepalanya sudah terbayang sebuah papan nama yang akan dipasang di atas pintu rumahnya. “TOKO KUKIS BIBI ESTELLA”.


***Selesai***

Berkemah Seru dan Kesebangunan

  Bis yang ditumpangi siswa-siswi kelas enam SD Tegalrejo berhenti di Bumi Perkemahan Mandala. Anak-anak berebutan keluar, ingin segera meni...