“Maya, bisakah Ibu minta tolong?” tanya Ibu
dari ruang sebelah.
Maya
yang sedang asyik membaca buku langsung berdiri dan mendekat ke arah Ibu, “Ada
apa, Bu? Apa yang bisa Maya bantu?”
“Ini
nih, jahitan pesanan Bu Marmo kainnya kurang, padahal mau diambil nanti malam.
Bu Marmo tidak sempat membelikan kain karena harus mengurus persiapan acaranya
di rumah. Kalau Ibu berangkat sendiri, pasti jahitan ini
tidak bisa selesai tepat waktu. Bisakah Maya membelikannya di toko Pak Tomo?” pinta Ibu.
“Tentu
saja, Bu. Maya juga sedang tidak ada kegiatan selain membaca buku. Biar Maya
saja yang pergi,” jawab Maya.
“Ini yang harus dibeli.
Dua meter kain brokat harganya Rp30.000 per meter, 2,5 meter kain katun
harganya Rp18.000 per meter, dan 1,5 meter kain satin harganya Rp35.000 per
meter. Jadi total 6 meter kain.” Ibu memberi dua lembar uang seratus ribuan.
“(2 x Rp30.000) + (2,5 x Rp18.000)
+ (1,5 x Rp35.000) = Rp157.500. Jadi nanti uang kembaliannya = Rp200.000 – Rp157.500
= Rp42.500.” Maya menghitung dengan jarinya.
Setelah
menerima
contoh kain yang akan dibeli, Maya berpamitan. “Maya
pergi dulu, Bu!”
“Terima kasih ya, Nak. Hati-hati!”
***
“Hai, Nur.
Aku disuruh Ibu membeli kain di toko Pak Tomo. Aku agak tergesa-gesa, soalnya kain
itu harus segera dijahit. Sore nanti harus sudah jadi,” Maya menjawab tanpa
menghentikan langkah kakinya.
Nuri
mengangguk-angguk sambil terus berjalan menyamai langkah kaki Maya.
“Kamu
sendiri mau kemana?” tanya Maya.
“Aku
baru saja dari rumah Madun. Ibunya sakit. Waktu aku ke rumahnya, dia sedang mengurus dua
adiknya yang masih kecil. Waktu kupegang tangannya, ternyata badan Madun juga
panas. Dia demam, tapi tidak bilang ibunya. Kasihan!” kata Nuri.
“Ooh, makanya
dia nggak masuk sekolah, ya? Lho, bapaknya tidak ada di rumah?” tanya Maya.
“Kata
Madun, bapaknya harus tetap bekerja. Kalau sehari saja tidak masuk, bapaknya
tidak akan dibayar dan hari itu bisa-bisa mereka tidak makan,” jawab Nuri. “Madun juga bilang, kalau aku yang tidak makan, nggak
apa-apa. Tapi dua adikku dan Ibu yang sedang sakit kasihan. Makanya dia tidak
bilang bapaknya.”
“Kita
harus membantu Madun, Nur. Paling tidak sampai dia sehat.” kata Maya.
“Iya, kamu
benar, May. Lalu sekarang kita bagaimana?”
“Begini,
aku harus menyelesaikan tugas yang disuruh Ibu dulu. Aku akan bergegas membeli
kain, lalu segera pulang. Sampai di rumah, aku akan izin Ibu untuk pergi ke rumah
Madun. Aku mungkin akan membawa sedikit makanan dari rumah, supaya Madun dan
keluarganya bisa mengisi perutnya hari ini. Yah, sedikit-sedikit saja, yang
penting Madun
dan ibunya bisa
segera sehat.”
“Baik
kalau begitu. Aku juga akan pulang dulu, aku minta izin ibuku juga untuk
membawa sedikit beras dan telur supaya bisa untuk persediaan dua atau tiga hari
ke depan. Seandainya terpaksa bapak Madun tidak masuk kerja, mereka masih bisa
makan,” kata Nuri lalu bergegas lari ke arah rumahnya.
Baru
beberapa langkah berjalan, ada yang menyapa Maya lagi. “Hai Maya, mau kemana?
Kenapa kelihatan tergesa-gesa?” sapa Itok, kawan sekolahnya juga.
Maya
lalu menjelaskan tentang titipan kain pesanan ibunya dan tidak lupa dia
menceritakan soal Madun, karena Maya tahu Madun adalah sahabat dekat Itok.
“Oh,
tentu saja aku mau datang dan ikut membantu. Kebetulan tadi pagi bapakku pulang
memancing dan mendapat banyak ikan. Tentu tidak akan keberatan kalau aku minta
sedikit untuk kuberikan pada Madun,” kata Itok bersemangat. Baru berjalan beberapa langkah, Itok berbalik. “Kira-kira berapa lama kamu sampai ke rumah Madun?”
Maya mengernyitkan
dahinya, “Jalan ke toko 5 menit, di toko memilih dan menghitung pembayaran 10
menit, kembali ke rumah 5 menit, pamit Ibu dan menyiapkan barang 10 menit, ke
rumah Madun 5 menit. Jadi kurang lebih 35 menit aku sudah sampai di rumah
Madun,” jelas Maya.
Itok mengacungkan dua
jempolnya sambil berlari kecil meninggalkan Maya. Maya bergegas ke toko Pak Tomo, segera membelikan kain pesanan Ibu, lalu kembali ke rumah.
“Ini Bu,
kain pesanan Ibu. Benar yang ini, kan?” Maya memastikan.
“Iya, betul.
Terima kasih ya, Nak!” kata Ibu.
“Bu,
tadi Maya bertemu dengan Nuri. Dia bilang, Madun dan ibunya sakit. Kalau sudah
tidak ada yang Maya kerjakan untuk Ibu, Maya mau ke rumah Madun, ya. Mungkin ada yang bisa
Maya bantu untuk Madun dan ibunya.” Kata Maya pada Ibu.
“Tentu
saja boleh, Nak. Sebentar lagi juga Ibu sudah selesai. Maya bisa bawa beberapa kue lapis yang ada di meja
untuk Madun dan adiknya. Ada teh dan gula yang masih utuh di lemari
penyimpanan, Maya bisa bawa juga. Sampaikan salam Ibu untuk ibunya Madun, ya. Semoga lekas
sembuh,” kata Ibu.
“Siap
Bu. Terima kasih.”
“Terima
kasih juga sudah membelikan kain pesanan Ibu, ya.”
Maya
tersenyum, lalu bergegas menyiapkan beberapa barang untuk dibawa ke rumah
Madun. Hari ini dia senang bisa membantu banyak orang.
**Selesai**
No comments:
Post a Comment