Jam digital yang
diinginkan Tomi itu dipajang di toko milik Pak Hari, teman Ayah. Warnanya biru tua, ada lis kuning di tepinya
yang berbentuk persegi. Kalepnya berbahan plastik tebal berwarna hitam.
Jam
itu dilihat Tomi kemarin, sewaktu ikut Ibu dan
Ayah berbelanja. Ketika lewat di
depan toko Pak Hari, Ayah berhenti untuk menyapa Pak Hari yang sedang membersihkan kaca etalase
tokonya.
Sambil
menunggu Ayah,
Tomi melihat-lihat barang yang dipajang di etalase. Mata Tomi tertumbuk pada sebuah jam digital.
Sudah lama Tomi ingin mempunyai jam digital, tapi jam analognya yang lama masih
bisa dipakai. Kemungkinan kalau minta Ayah atau Ibu pasti tidak boleh. Apalagi ketika melihat harga jam yang tertera di label kalepnya, Rp300.000. Mahal sekali.
“Aku
pamit dulu,
ya! Lain kali aku mampir lebih lama,” suara Ayah berpamitan membuyarkan lamunan Tomi.
Sampai di rumah, Tomi bertanya pada Ayah, “Ayah, bolehkah aku membeli
jam digital di toko Pak Hari? Ada satu yang aku suka sekali. Tapi harganya Rp300.000. Bolehkah?”
Dahi Ayah berkerut. Ibu yang duduk di sebelah
Ayah terdiam, menunggu Ayah menjawab
pertanyaan Tomi.
“Tom,
jam tanganmu masih bisa dipakai?” tanya Ayah mengawali ucapannya.
Tomi
mengangguk perlahan. Sudah tahu kalau Ayah pasti akan menanyakan hal itu.
“Masih, Yah. Masih bagus,” jawab Tomi jujur.
“Sekarang Ayah tidak bisa membelikanmu jam tangan
digital yang kamu inginkan. Karena selain jam lamamu masih bisa dipakai,
membeli barang mahal yang bukan kebutuhan utama tidak bisa seketika itu juga. Masih ada kebutuhan lain yang lebih mendesak
daripada jam tangan yang kamu inginkan,” kata Ayah pada Tomi.
Tomi
menunduk sedih meski dia sudah bisa menebak kalau Ayah akan menolak
permintaannya.
“Tapi…,” Ayah melanjutkan
perkataannya. “Ada cara supaya kamu bisa membeli jam tangan itu.”
“Bagaimana caranya, Yah?” Wajah Tomi langsung
berbinar mendengar ucapan Ayah.
“Kamu
bisa mengumpulkan uang sendiri,” jawab Ayah. “Ada beberapa
pekerjaan yang bisa kamu lakukan, meski kamu masih anak-anak. Misalnya,
menawarkan jasa potong rumput kepada Pak Badrun, Bu Asih dan tetangga yang
lainnya. Kamu juga bisa menawarkan bantuan untuk berbelanja ke warung Mbok Siti, dan lain
sebagainya. Tapi sebelum menawarkan jasa, kamu harus bilang dulu maksud dan
tujuanmu. Menjelaskan kalau kamu memang sedang mengumpulkan uang untuk membeli
jam tangan,” jelas Ayah.
“Oh,
bisa begitu ya, Yah,” Tomi mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa ide
langsung terlintas di kepalanya. “Kalau aku jualan kue bikinan Ibu di sekolah, boleh nggak?”
tanya Tomi lagi.
“Tentu
saja boleh, Tom. Ibu bersedia membuat kue, tapi kamu yang harus berbelanja bahan-bahan kuenya, dan membantu Ibu sewaktu
membuatnya. Bagaimana?” Ibu menimpali dengan lembut.
“Wah,
tentu saja, Bu. Ini kan jualan Tomi. Malah Tomi
yang harus berterima kasih karena Ibu mau membantu Tomi.”
“Oke,
mulai kapan kamu akan membuat kue? Nanti untuk membeli bahan-bahannya Ibu dulu yang bayar.
Jangan lupa harus kamu ganti. Karena itu dihitung
pinjaman,” jelas
Ibu.
“Mulai
besok ya, Bu. Sepulang sekolah Tomi akan langsung berbelanja dan sorenya kita
membuat kue. Nah, pagi harinya Tomi bisa jual ke teman-teman Tomi.”
“Nah, begitu dong. Ayah bangga karena kamu tidak putus asa ketika Ayah menolak permintaanmu. Akan lebih baik kalau kamu mengerti dari mana datangnya uang dan bagaimana caranya mencari uang,” kata Ayah sambil mengusap kepala Tomi.
***
Dua minggu berlalu sejak
Tomi mulai berjualan kue. Semua hasil yang didapat sementara dikelola Ibu,
karena sebagian digunakan kembali untuk membeli bahan-bahan kue untuk hari
berikutnya. Selain berjualan kue, dalam dua minggu belakangan, Tomi sudah membantu
Bu Asih, Pak Badrun, dan Nek Ami membersihkan halaman rumah mereka. Tomi
mendapat upah Rp25.000 untuk setiap halaman.
“Tom, sini sebentar,”
panggil Ibu sepulang Tomi berbelanja bahan kue.
Tomi mendekati Ibu yang
sedang menjejerkan beberapa lembar uang di depan meja. “Wah, banyak betul uang
Ibu,” kata Tomi.
“Ini semua uangmu. Hasil
keuntungan berjualan kue,” sahut Ibu sambil tersenyum bangga.
“Sebanyak ini?” tukas
Tomi takjub.
“Iya. Coba kita hitung
semuanya, ya.” Ibu menata lembaran uang sesuai nominalnya.
“Oke, Bu.
(2 x Rp50.000) + (3 x
Rp20.000) + (5 x Rp10.000) + (10 x Rp5.000) + (20 x Rp2.000) + (10 x Rp1.000) =
Rp100.000 + Rp60.000 + Rp50.000 + Rp50.000 + Rp40.000 + Rp10.000 = Rp310.000.”
“Betul sekali. Apa sudah
cukup?” tanya Ibu.
“Cukup untuk membeli jam
digital yang Tomi inginkan, Bu. Masih ditambah lagi uang membersihkan halaman =
(3 x Rp25.000) + Rp310.000 = Rp75.000 + Rp310.000 = Rp385.000.” Tomi
menjelaskan dengan mata berbinar. “Kalau Tomi terus berjualan kue, boleh, Bu?
Tomi janji tidak akan mengganggu waktu belajar di rumah.” Tomi meminta
persetujuan Ibu.
“Tentu saja, Tom. Ibu
senang kamu belajar bekerja dan menabung, asalkan tetap giat belajar,” pesan
Ibu yang disambut senyum Tomi.
Tomi
senang sekali karena akhirnya dia punya cara untuk membeli jam digital yang
diinginkannya. Belajar bagaimana berusaha menghasilkan
uang dan bisa menabung. Dan senangnya lagi, Tomi tidak
menyusahkan kedua orang tuanya untuk membeli keperluannya sendiri.
**Selesai**
No comments:
Post a Comment