Search This Blog

> Belajar Matematika dan Sains Menyenangkan

Sunday, May 31, 2026

Maya Senang Bisa Membantu

 


“Maya, bisakah Ibu minta tolong?” tanya Ibu dari ruang sebelah.

Maya yang sedang asyik membaca buku langsung berdiri dan mendekat ke arah Ibu, “Ada apa, Bu? Apa yang bisa Maya bantu?”

“Ini nih, jahitan pesanan Bu Marmo kainnya kurang, padahal mau diambil nanti malam. Bu Marmo tidak sempat membelikan kain karena harus mengurus persiapan acaranya di rumah. Kalau Ibu berangkat sendiri, pasti jahitan ini tidak bisa selesai tepat waktu. Bisakah Maya membelikannya di toko Pak Tomo?” pinta Ibu.

“Tentu saja, Bu. Maya juga sedang tidak ada kegiatan selain membaca buku. Biar Maya saja yang pergi,” jawab Maya.

“Ini yang harus dibeli. Dua meter kain brokat harganya Rp30.000 per meter, 2,5 meter kain katun harganya Rp18.000 per meter, dan 1,5 meter kain satin harganya Rp35.000 per meter. Jadi total 6 meter kain.” Ibu memberi dua lembar uang seratus ribuan.

“(2 x Rp30.000) + (2,5 x Rp18.000) + (1,5 x Rp35.000) = Rp157.500. Jadi nanti uang kembaliannya = Rp200.000 – Rp157.500 = Rp42.500.” Maya menghitung dengan jarinya.

Setelah menerima contoh kain yang akan dibeli, Maya berpamitan. “Maya pergi dulu, Bu!”

“Terima kasih ya, Nak. Hati-hati!”

***

 “Hai, Maya. Mau kemana? Kok tergesa-gesa?” sapa Nuri di tengah perjalanan Maya ke toko Pak Tomo.

“Hai, Nur. Aku disuruh Ibu membeli kain di toko Pak Tomo. Aku agak tergesa-gesa, soalnya kain itu harus segera dijahit. Sore nanti harus sudah jadi,” Maya menjawab tanpa menghentikan langkah kakinya.

Nuri mengangguk-angguk sambil terus berjalan menyamai langkah kaki Maya.

“Kamu sendiri mau kemana?” tanya Maya.

“Aku baru saja dari rumah Madun. Ibunya sakit. Waktu aku ke rumahnya, dia sedang mengurus dua adiknya yang masih kecil. Waktu kupegang tangannya, ternyata badan Madun juga panas. Dia demam, tapi tidak bilang ibunya. Kasihan!” kata Nuri.

“Ooh, makanya dia nggak masuk sekolah, ya? Lho, bapaknya tidak ada di rumah?” tanya Maya.

“Kata Madun, bapaknya harus tetap bekerja. Kalau sehari saja tidak masuk, bapaknya tidak akan dibayar dan hari itu bisa-bisa mereka tidak makan,jawab Nuri. “Madun juga bilang, kalau aku yang tidak makan, nggak apa-apa. Tapi dua adikku dan Ibu yang sedang sakit kasihan. Makanya dia tidak bilang bapaknya.”

“Kita harus membantu Madun, Nur. Paling tidak sampai dia sehat.” kata Maya.

“Iya, kamu benar, May. Lalu sekarang kita bagaimana?”

“Begini, aku harus menyelesaikan tugas yang disuruh Ibu dulu. Aku akan bergegas membeli kain, lalu segera pulang. Sampai di rumah, aku akan izin Ibu untuk pergi ke rumah Madun. Aku mungkin akan membawa sedikit makanan dari rumah, supaya Madun dan keluarganya bisa mengisi perutnya hari ini. Yah, sedikit-sedikit saja, yang penting Madun dan ibunya bisa segera sehat.”

“Baik kalau begitu. Aku juga akan pulang dulu, aku minta izin ibuku juga untuk membawa sedikit beras dan telur supaya bisa untuk persediaan dua atau tiga hari ke depan. Seandainya terpaksa bapak Madun tidak masuk kerja, mereka masih bisa makan,” kata Nuri lalu bergegas lari ke arah rumahnya.

Baru beberapa langkah berjalan, ada yang menyapa Maya lagi. “Hai Maya, mau kemana? Kenapa kelihatan tergesa-gesa?” sapa Itok, kawan sekolahnya juga.

Maya lalu menjelaskan tentang titipan kain pesanan ibunya dan tidak lupa dia menceritakan soal Madun, karena Maya tahu Madun adalah sahabat dekat Itok.

“Oh, tentu saja aku mau datang dan ikut membantu. Kebetulan tadi pagi bapakku pulang memancing dan mendapat banyak ikan. Tentu tidak akan keberatan kalau aku minta sedikit untuk kuberikan pada Madun,” kata Itok bersemangat. Baru berjalan beberapa langkah, Itok berbalik. “Kira-kira berapa lama kamu sampai ke rumah Madun?”

Maya mengernyitkan dahinya, “Jalan ke toko 5 menit, di toko memilih dan menghitung pembayaran 10 menit, kembali ke rumah 5 menit, pamit Ibu dan menyiapkan barang 10 menit, ke rumah Madun 5 menit. Jadi kurang lebih 35 menit aku sudah sampai di rumah Madun,” jelas Maya.

Itok mengacungkan dua jempolnya sambil berlari kecil meninggalkan Maya. Maya bergegas ke toko Pak Tomo, segera membelikan kain pesanan Ibu, lalu kembali ke rumah.

“Ini Bu, kain pesanan Ibu. Benar yang ini, kan?” Maya memastikan.

“Iya, betul. Terima kasih ya, Nak!” kata Ibu.

“Bu, tadi Maya bertemu dengan Nuri. Dia bilang, Madun dan ibunya sakit. Kalau sudah tidak ada yang Maya kerjakan untuk Ibu, Maya mau ke rumah Madun, ya. Mungkin ada yang bisa Maya bantu untuk Madun dan ibunya.” Kata Maya pada Ibu.

“Tentu saja boleh, Nak. Sebentar lagi juga Ibu sudah selesai. Maya bisa bawa beberapa kue lapis yang ada di meja untuk Madun dan adiknya. Ada teh dan gula yang masih utuh di lemari penyimpanan, Maya bisa bawa juga. Sampaikan salam Ibu untuk ibunya Madun, ya. Semoga lekas sembuh,” kata Ibu.

“Siap Bu. Terima kasih.”

“Terima kasih juga sudah membelikan kain pesanan Ibu, ya.”

Maya tersenyum, lalu bergegas menyiapkan beberapa barang untuk dibawa ke rumah Madun. Hari ini dia senang bisa membantu banyak orang.

 

**Selesai**

Jam Digital Yang Diinginkan Tomi

 


Jam digital yang diinginkan Tomi itu dipajang di toko milik Pak Hari, teman Ayah. Warnanya biru tua, ada lis kuning di tepinya yang berbentuk persegi. Kalepnya berbahan plastik tebal berwarna hitam.

Jam itu dilihat Tomi kemarin, sewaktu ikut Ibu dan Ayah berbelanja. Ketika lewat di depan toko Pak Hari, Ayah berhenti untuk menyapa Pak Hari yang sedang membersihkan kaca etalase tokonya.

Sambil menunggu Ayah, Tomi melihat-lihat barang yang dipajang di etalase. Mata Tomi tertumbuk pada sebuah jam digital. Sudah lama Tomi ingin mempunyai jam digital, tapi jam analognya yang lama masih bisa dipakai. Kemungkinan kalau minta Ayah atau Ibu pasti tidak boleh. Apalagi ketika melihat harga jam yang tertera di label kalepnya, Rp300.000. Mahal sekali.

“Aku pamit dulu, ya! Lain kali aku mampir lebih lama,” suara Ayah berpamitan membuyarkan lamunan Tomi.

Sampai di rumah, Tomi bertanya pada Ayah, “Ayah, bolehkah aku membeli jam digital di toko Pak Hari? Ada satu yang aku suka sekali. Tapi harganya Rp300.000. Bolehkah?”

Dahi Ayah berkerut. Ibu yang duduk di sebelah Ayah terdiam, menunggu Ayah menjawab pertanyaan Tomi.

“Tom, jam tanganmu masih bisa dipakai?” tanya Ayah mengawali ucapannya.

Tomi mengangguk perlahan. Sudah tahu kalau Ayah pasti akan menanyakan hal itu. “Masih, Yah. Masih bagus,” jawab Tomi jujur.

Sekarang Ayah tidak bisa membelikanmu jam tangan digital yang kamu inginkan. Karena selain jam lamamu masih bisa dipakai, membeli barang mahal yang bukan kebutuhan utama tidak bisa seketika itu juga. Masih ada kebutuhan lain yang lebih mendesak daripada jam tangan yang kamu inginkan,” kata Ayah pada Tomi.

Tomi menunduk sedih meski dia sudah bisa menebak kalau Ayah akan menolak permintaannya.

“Tapi,” Ayah melanjutkan perkataannya. “Ada cara supaya kamu bisa membeli jam tangan itu.”

Bagaimana caranya, Yah?” Wajah Tomi langsung berbinar mendengar ucapan Ayah.

“Kamu bisa mengumpulkan uang sendiri,” jawab Ayah. “Ada beberapa pekerjaan yang bisa kamu lakukan, meski kamu masih anak-anak. Misalnya, menawarkan jasa potong rumput kepada Pak Badrun, Bu Asih dan tetangga yang lainnya. Kamu juga bisa menawarkan bantuan untuk berbelanja ke warung Mbok Siti, dan lain sebagainya. Tapi sebelum menawarkan jasa, kamu harus bilang dulu maksud dan tujuanmu. Menjelaskan kalau kamu memang sedang mengumpulkan uang untuk membeli jam tangan,” jelas Ayah.

“Oh, bisa begitu ya, Yah,” Tomi mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa ide langsung terlintas di kepalanya. “Kalau aku jualan kue bikinan Ibu di sekolah, boleh nggak?” tanya Tomi lagi.

“Tentu saja boleh, Tom. Ibu bersedia membuat kue, tapi kamu yang harus berbelanja bahan-bahan kuenya, dan membantu Ibu sewaktu membuatnya. Bagaimana?” Ibu menimpali dengan lembut.

“Wah, tentu saja, Bu. Ini kan jualan Tomi. Malah Tomi yang harus berterima kasih karena Ibu mau membantu Tomi.”

“Oke, mulai kapan kamu akan membuat kue? Nanti untuk membeli bahan-bahannya Ibu dulu yang bayar. Jangan lupa harus kamu ganti. Karena itu dihitung pinjaman,” jelas Ibu.

“Mulai besok ya, Bu. Sepulang sekolah Tomi akan langsung berbelanja dan sorenya kita membuat kue. Nah, pagi harinya Tomi bisa jual ke teman-teman Tomi.”

“Nah, begitu dong. Ayah bangga karena kamu tidak putus asa ketika Ayah menolak permintaanmu. Akan lebih baik kalau kamu mengerti dari mana datangnya uang dan bagaimana caranya mencari uang,kata Ayah sambil mengusap kepala Tomi.

***

Dua minggu berlalu sejak Tomi mulai berjualan kue. Semua hasil yang didapat sementara dikelola Ibu, karena sebagian digunakan kembali untuk membeli bahan-bahan kue untuk hari berikutnya. Selain berjualan kue, dalam dua minggu belakangan, Tomi sudah membantu Bu Asih, Pak Badrun, dan Nek Ami membersihkan halaman rumah mereka. Tomi mendapat upah Rp25.000 untuk setiap halaman.

“Tom, sini sebentar,” panggil Ibu sepulang Tomi berbelanja bahan kue.

Tomi mendekati Ibu yang sedang menjejerkan beberapa lembar uang di depan meja. “Wah, banyak betul uang Ibu,” kata Tomi.

“Ini semua uangmu. Hasil keuntungan berjualan kue,” sahut Ibu sambil tersenyum bangga.

“Sebanyak ini?” tukas Tomi takjub.

“Iya. Coba kita hitung semuanya, ya.” Ibu menata lembaran uang sesuai nominalnya.

“Oke, Bu.

(2 x Rp50.000) + (3 x Rp20.000) + (5 x Rp10.000) + (10 x Rp5.000) + (20 x Rp2.000) + (10 x Rp1.000) = Rp100.000 + Rp60.000 + Rp50.000 + Rp50.000 + Rp40.000 + Rp10.000 = Rp310.000.”

“Betul sekali. Apa sudah cukup?” tanya Ibu.

“Cukup untuk membeli jam digital yang Tomi inginkan, Bu. Masih ditambah lagi uang membersihkan halaman = (3 x Rp25.000) + Rp310.000 = Rp75.000 + Rp310.000 = Rp385.000.” Tomi menjelaskan dengan mata berbinar. “Kalau Tomi terus berjualan kue, boleh, Bu? Tomi janji tidak akan mengganggu waktu belajar di rumah.” Tomi meminta persetujuan Ibu.

“Tentu saja, Tom. Ibu senang kamu belajar bekerja dan menabung, asalkan tetap giat belajar,” pesan Ibu yang disambut senyum Tomi.

Tomi senang sekali karena akhirnya dia punya cara untuk membeli jam digital yang diinginkannya. Belajar bagaimana berusaha menghasilkan uang dan bisa menabung. Dan senangnya lagi, Tomi tidak menyusahkan kedua orang tuanya untuk membeli keperluannya sendiri.


**Selesai**

Maya Senang Bisa Membantu

  “Maya, bisakah Ibu mi nta tolong?” tanya Ibu dari ruang sebelah. Maya yang sedang asyik membaca buku langsung berdiri dan mendekat ke arah...