“Uh, dari tadi kok nggak bisa pas, sih,” Anis
menggerutu sambil meremas kertas karton di depannya.
“Ada apa sih,
Nis. Kok marah-marah sendiri gitu,” tegur Kak Ima sambil melongokkan kepalanya,
melihat kamar Anis. “Astaga, apa salah kertas-kertas ini, kauremas-remas sampai
tak berbentuk.”
Mendengar
candaan Kak Ima, Anis meringis. “Ini, Kak. Aku mau bikin bingkai foto, tapi
nggak bisa pas kanan, kiri, atas, dan bawahnya. Kata Bu Guru harus sebangun
dengan fotonya.”
Ima mendekati
adiknya. Dia bisa mengerti, karena adiknya yang super perfeksionis ini memang tidak
bisa melihat barang yang dibuat dengan ukuran yang tidak presisi. Selalu ada
yang mengganjal meski hanya ada beda sedikit.
“Coba mana
fotomu?” tanya Kak Ima mencoba membantu.
Anis
menunjukkan foto berukuran alas 16 cm dan tinggi 24 cm, lalu sebuah karton
berbentuk persegi panjang. “Foto dan karton harus dibuat sebangun. Lebar karton
di sebelah kiri, kanan, dan atas foto adalah 2 cm. Aku harus mencari lebar bagian
bawahnya, supaya bisa sebangun.”
“Kamu tahu
cara mengukur dua bangun yang sebangun, kan?” tanya Kak Ima.
“Iya, Kak. Ada dua bangun persegi panjang. Foto dan bingkai. Foto mempunyai alas 16 cm dan tinggi 24 cm. Sedangkan bingkai, setelah ditambah 2 cm di kiri dan kanannya, maka mempunyai alas (16 + 2 + 2) cm = 20 cm. Tinggal tingginya yang harus dicari. Untuk mendapatkan tinggi bingkai, supaya sebangun, maka:
Selanjutnya
dikali silang, menjadi:
Tinggi bingkai
x 16 = 24 x 20
Tinggi bingkai
= 480 / 16 = 30 cm.”
“Nah, kan. Itu
sudah betul. Sekarang buat bingkai sesuai ukuran, lalu pelan-pelan saja waktu
menempelnya. Ukur lagi, kiri, kanan, dan atas harus 2 cm.” Kak Ima membantu
membuat ukuran yang tepat. “Nanti sisa lebar bagian bawah seharusnya jadi (30 –
24 – 2) = 4 cm. Ini lebih lebar, ya. Tapi bisa ditambahkan tulisan supaya
cantik bingkainya. Iya, kan?”
“Iya, Kak. Wah,
kenapa kalau ditemani Kak Ima pasti kerjaanku beres. Lain kali bantuin lagi, ya
Kak.” Anis tersenyum nakal sebelum cubitan sayang mendarat di pipinya.
*Selesai*