Rumah Malik letaknya agak jauh dari desa terdekat.
Untuk pergi ke sekolah, Malik harus menyeberangi sebuah sungai yang cukup
lebar. Sebelum ada pembangunan masuk desa, Malik dan beberapa anak yang
berdekatan rumahnya, harus berangkat pagi-pagi sekali kalau mau ke sekolah. Satu
per satu mereka akan menyeberang dengan menggunakan dua utas tali yang
dibentangkan kuat-kuat dari ujung tepi sungai yang satu ke ujung tepi sungai
seberangnya.
“Hati-hati,
pegang kuat-kuat talinya. Jangan lihat ke bawah,” kata Pak Muin yang sering membantu
menyeberangkan anak-anak.
Menyeberang
menggunakan dua tali, satu untuk pegangan dan satu di bawahnya untuk pijakan,
benar-benar harus konsentrasi. Awalnya menakutkan, tapi selanjutnya jadi
menantang.
“Memang
berbahaya, tapi kalau tidak begitu, tidak bisa sekolah,” jawab Malik ketika ada
salah satu orang tua murid yang bertanya.
Sampai
akhirnya ada program pembangunan desa, yang menargetkan pembangunan jembatan di
sungai yang sering dilewati Malik.
Suatu hari Pak
Guru bertanya, “Adakah yang tahu berapa lebar sungai yang diseberangi Malik?”
Malik
mengangkat tangannya. “Saya belum menghitung, Pak. Tapi saya pernah lihat Pak
Muin dan teman-temannya mengukur lebar sungai ketika akan membangun jembatan.”
“Bagaimana
caranya, Lik?” Ucup penasaran.
“Waktu itu Pak
Muin menancapkan tongkat di empat titik, yang nantinya akan membentuk dua
segitiga sebangun jika dihubungkan dengan sebuah pohon di seberang sungai.”
Malik berdiri lalu bertanya pada Pak Guru, “Saya izin maju untuk menggambar di
papan tulis boleh, Pak?”
“Tentu saja,
Lik!” Pak Guru tersenyum senang karena muridnya berani dan bisa menjelaskan apa
yang tadi ditanyakannya.
Di papan tulis
Malik menggambar sebuah pohon sebagai ujung segitiga, lalu dua sisi sejajar di
bawahnya. Di antara pohon dan sisi terdekatnya ada sebuah sungai yang akan
diukur lebarnya. Malik memberi nama keempat titik tersebut, A, B, C, dan D.
“Kalau tidak salah dengar, jarak AB, AD, DC, berturut-turut adalah 8 m, 4 m, dan 6 m.”
Malik menuliskan semuanya di papan tulis. “Dengan dua
segitiga yang sebangun ini, kita bisa menghitung lebar sungai, yaitu dengan
membuat perbandingan :
Dari
perbandingan tersebut, selanjutnya dikali silang:
8 x PD = 6 x
(PD + 4)
8 PD = 6 PD +
24
8 PD – 6 PD =
24
2 PD = 24
PD = 24/2 = 12
m.
Jadi jarak
antara pohon dengan titik D = lebar sungai = 12 meter.”
Malik
meletakkan kapur tulisnya lalu melihat ke arah Pak Guru, meminta untuk
dikoreksi jika ada yang salah.
Pak Guru tersenyum
sambil mengangkat kedua ibu jarinya, lalu menyilakan Malik duduk kembali.
“Betul sekali
pendekatan matematika seperti yang dijelaskan Malik. Dengan memanfaatkan teori
kesebangunan, kita bisa mengukur lebar sungai terlebih dulu untuk memperkirakan
panjang jembatan yang akan dibuat.” Pak Guru mengangkat jempolnya sekali lagi
ke arah Malik. “Nanti pulang sekolah bawa pulang empat buah durian di samping
sekolah itu, ya. Makan ramai-ramai dengan teman-temanmu!”
Hore… semua
anak berteriak senang.
*Selesai*
No comments:
Post a Comment