Search This Blog

> Belajar Matematika dan Sains Menyenangkan

Thursday, July 30, 2026

Gang Kenang


“Ugh, panas sekali!” Seno menghela napas sambil menyeka keringat di dahinya.

Cuaca siang itu memang panas menyengat. Malas betul harus jalan pulang lewat Gang Kenang. Timbunan material sepanjang tepi jalan membuat aliran debu tiap ada angin yang bertiup. Kering, rasanya menyesakkan.

“Kapan selesainya perbaikan jalan ini?” Seno bergumam sebal.

“Coba pepohonan di sepanjang gang nggak ditebang, ya. Pasti masih lumayan sejuk,” sambung Wisang ikut mengeluh.

“Betul. Padahal sebelumnya, ini gang favoritku kalau pulang sekolah. Pohon-pohon besar yang rimbun, sejuk, udara yang bersih,” timpal Seno. 

*** 

“Bu, kenapa pohon-pohon di Gang Kenang ditebangi? Jalan jadi panas, bikin bete.” Seno mengeluh pada Ibu ketika sampai di rumah.

Ibu yang sedang asyik merawat tanaman mawarnya terkejut melihat Seno yang tiba-tiba ada di sebelahnya.

“Ealah, Seno, mengagetkan Ibu saja. Datang kok nggak ada suaranya. Pulang sekolah itu ya masuk dulu, cuci tangan dan kaki, lalu makan, baru duduk-duduk di sini.” Ibu menimpali ucapan Seno.

“Seno sudah kulonuwun tadi. Ibu saja yang keasyikan merawat tanaman,” jawab Seno sambil mendudukkan pantatnya di bangku bambu, di sebelah Ibu. “Itu lho Bu, pohon besar di Gang Kenang kok ditebangi semua.”

“Kata Bapak, waktu rapat RT, awalnya pohon-pohon itu nggak akan ditebang. Tapi ternyata, ada warga yang lapor kalau pohon-pohon itu sudah terlalu tua dan rapuh. Nanti kalau datang musim hujan, malah berbahaya. Bisa ambruk.” Ibu menjelaskan pada Seno.

“Tapi kenapa ditebang sekarang, nggak waktu dekat musim hujan aja, Bu? Jadi kita yang sering lewat jalan itu nggak kepanasan tiap hari.”

“Mumpung ada perbaikan jalan, dibereskan pohon-pohonnya. Mungkin begitu,” tebak Ibu sambil melanjutkan memotong ranting mawar yang kering.

“Ah, bikin sebel. Ya sudah, Bu. Seno ke dalam dulu, mau makan siang.”

Ibu cuma menggeleng-gelengkan kepala melihat Seno yang berlalu sambil terus menggerutu.

*** 

“Kamu sudah tahu ceritanya kenapa pohon-pohon di Gang Kenang ditebang?” tanya Wisang sambil mengeluarkan PR-nya. Berdua mereka janjian mengerjakan tugas matematika bersama.

“Iya, kemarin Ibu cerita,” jawab Seno. “Ya, kita harus bersabar sampai musim hujan. Paling enggak, jalanan basah jadi sejuk.”

“Aku punya usul nih. Gimana kalau kita bilang Pak RT, lalu ajak teman-teman buat mulai menanam pohon di sepanjang gang itu. Daripada tiap hari kita menggerutu, lebih baik membantu menghijaukan lagi. Jadi musim panas yang akan datang gang sudah nggak kering lagi,” ajak Wisang.

“Wah, ide bagus itu, Wis. Tapi kan jalannya masih dalam perbaikan. Bagaimana kita bisa mulai menanam?” tanya Seno.

“Ya, kita bisa mulai sedikit demi sedikit. Dari bagian jalan yang sudah selesai diperbaiki, Sen.”

“Wah, kamu benar, Wis. Kalo begitu, ayo kita ke Pak RT sekarang,” Seno berdiri, sudah tidak sabar.

“Nanti sore, Sen. Sekarang Pak RT belum pulang. Masih di kantor. Kamu itu, nggak sabaran,” Wisang menimpali sambil tertawa.

“Iya, ya,” Seno mengiyakan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kalau gitu sekarang kita makan singkong goreng bikinan ibuku dulu saja, yuk.”

“Bikin PR dulu, Sen.” Jawaban Wisang tidak terdengar Seno yang sudah berlari ke dalam rumah.

Tak lama, Seno keluar lagi dengan tangan kosong. “Singkong gorengnya belum matang, Wis.” Sambil cengengesan Seno kembali menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Baru selesai dikupas, kata Ibu.” sahut Seno yang disambut gelak tawa Wisang.

Selesai mengerjakan PR, Wisang menyeletuk, “Sen, kita coba hitung, yuk. Kira-kira berapa pohon yang akan kita tanam sepanjang jalan Gang Kenang,” usul Wisang. “Ini sama seperti PR matematika kita.”

“Bisa kita hitung seperti di PR?” Seno kembali menggaruk kepalanya.

Wisang menganggukkan kepalanya. “Kira-kira panjang Gang Kenang 180 meter. Butuh berapa pohon, kalau kita mau menanami gang dengan jarak antarpohon 9 meter?” Wisang memberi contoh pertanyaan.

“Oiya betul. Kalau gitu, jawabannya = 180 : 9 = 20 pohon. Kalau kita mau menanam di seberangnya juga, maka 20 x 2 = 40 pohon. Begitu, ya?” tukas Seno.

“Iya, betul sekali. Nanti waktu kita ke rumah Pak RT, sekalian kita tanyakan berapa tepatnya panjang Gang Kenang.”

“Nah, karena sudah selesai berhitung, sekarang kalian makan singkong goreng sambil menyeruput teh panas. Pasti enak sekali.” Tiba-tiba Ibu sudah ada di belakang mereka.

Seno dan Wisang tertawa girang. Tanpa banyak basa-basi, mereka segera menyerbu singkong goreng yang aromanya sangat menggoda itu.

“Awas masih panas,” seru Ibu. Tapi terlambat, Seno sudah memegang singkong di depannya. Kepanasan, dijatuhkan lagi. Untung terjatuh kembali ke piringnya.

“Seno, nih. Nggak sabaran betul,” tukas Ibu sambil mencubit lembut pipi tembem anak kesayangannya. 

**Selesai**

Kotak Bekas

 


“Ibu, kotak-kotak ini untuk apa?” Mia bertanya pada ibunya yang sedang membereskan dapur. Dia melihat banyak kotak bekas susu, kotak bekas kue, dan kotak bekas sereal berserakan di lantai.

“Oh, itu mau dibuang. Tidak terpakai,” jawab Ibu. “Apa Mia mau pakai?”

“Untuk apa ya, Bu? Ini kan cuma kotak bekas,” Mia balik bertanya pada Ibu, merasa tidak ada gunanya menyimpan kotak-kotak itu.

“Entah, barangkali Mia memerlukannya saja,” sahut Ibu. 

*** 

Mia baru saja selesai menyapu lantai, ketika adiknya, Nino datang sambil cemberut.

“Ada apa, Nin? Kok wajahmu kusut seperti baju yang nggak disetrika,” Mia menggoda Nino.

Nino melirik Mia sebentar, lalu berpaling pada Ibu, mendekatinya, dan berkata, “Bu, aku ingin punya mobil-mobilan seperti punya Satrio. Truk besar, rodanya ada delapan, dan bisa ditarik pakai tali yang panjang. Belikan aku ya, Bu,” rengek Nino.

Ibu menghentikan beberesnya, lalu memandang Nino, “Bukannya baru kemarin Nino membeli mainan? Kamu harus menabung lagi kalau mau membeli mainan yang lain.”

Nino yang sudah menduga jawaban Ibu terdiam, kemudian berlalu meninggalkan Ibu dan Mia. Masih dengan wajah yang cemberut.

Mia tiba-tiba punya ide. “Ibu, kotak bekas ini buat aku semua ya,” kata Mia sambil mengumpulkan semua kotak yang sudah siap dibuang, lalu berlari keluar menyusul Nino.

Beberapa kali Mia bolak-balik mengambil gunting, lem, kertas warna-warni, tali, dan alat-alat lain yang biasa dipakainya untuk membuat prakarya.

Ibu hanya geleng-geleng kepala melihat anak perempuannya yang tiba-tiba sibuk.

Mia hendak membuat sesuatu berbentuk balok, yang berukuran panjang 60 cm, lebar 30 cm, dan tinggi 35 cm. Untuk membuat balok tersebut, Mia ingat tugas sekolahnya bulan lalu. Membuat jaring-jaring bangun ruang. Untuk balok, Mia membuat jaring-jaring yang terdiri dari dua persegi panjang berukuran 60 cm x 30 cm, dua persegi panjang berukuran 60 cm x 35 cm, dan dua persegi panjang berukuran 30 cm x 35 cm. Maka Mia membutuhkan kardus dengan luas = 2 (p x l) + 2 (p x t) + 2 (l x t).

Panjang = p = 60 cm; lebar = l = 30 cm; tinggi = t = 35 cm.

Maka luas permukaan balok :

L  = 2 (p x l) + 2 (p x t) + 2 (l x t)

    = 2 (60 x 30) + 2 (60 x 35) + 2 (30 x 35)

    =  3600 + 4200 + 2100 = 9900 cm2.

Setelah mendapat kardus yang dibutuhkan, Mia mulai mengukur dan memotong kardus sesuai dengan jaring-jaring balok yang akan dibuatnya. 

*** 

Tak lama kemudian, dari teras depan terdengar tawa ceria Nino dan Mia. Ibu melihat keluar, penasaran apa yang sedang dikerjakan kedua anaknya.

Ternyata dengan kotak-kotak bekas yang akan dibuang tadi, Mia membuatkan Nino mobil-mobilan besar, berwarna biru tua dengan jendela abu-abu, dihiasi lampu warna-warni, rodanya dua belas dan bisa jalan dengan ditarik tali. Tentu saja Nino senang sekali. 

**Selesai**

Gang Kenang

“Ugh, panas sekali!” Seno menghela napas sambil menyeka keringat di dahinya. Cuaca siang itu memang panas menyengat. Malas betul harus jalan...