“Ugh, panas sekali!” Seno menghela napas
sambil menyeka keringat di dahinya.
Cuaca siang itu memang
panas menyengat. Malas betul harus jalan pulang lewat Gang Kenang. Timbunan
material sepanjang tepi jalan membuat aliran debu tiap ada angin yang bertiup.
Kering, rasanya menyesakkan.
“Kapan selesainya
perbaikan jalan ini?” Seno bergumam sebal.
“Coba pepohonan di
sepanjang gang nggak ditebang, ya. Pasti masih lumayan sejuk,” sambung Wisang
ikut mengeluh.
“Betul. Padahal sebelumnya, ini gang favoritku kalau pulang sekolah. Pohon-pohon besar yang rimbun, sejuk, udara yang bersih,” timpal Seno.
***
“Bu, kenapa pohon-pohon
di Gang Kenang ditebangi? Jalan jadi panas, bikin bete.” Seno mengeluh pada Ibu
ketika sampai di rumah.
Ibu yang sedang asyik merawat
tanaman mawarnya terkejut melihat Seno yang tiba-tiba ada di sebelahnya.
“Ealah, Seno, mengagetkan
Ibu saja. Datang kok nggak ada suaranya. Pulang sekolah itu ya masuk dulu, cuci
tangan dan kaki, lalu makan, baru duduk-duduk di sini.” Ibu menimpali ucapan
Seno.
“Seno sudah kulonuwun
tadi. Ibu saja yang keasyikan merawat tanaman,” jawab Seno sambil mendudukkan
pantatnya di bangku bambu, di sebelah Ibu. “Itu lho Bu, pohon besar di Gang
Kenang kok ditebangi semua.”
“Kata Bapak, waktu rapat
RT, awalnya pohon-pohon itu nggak akan ditebang. Tapi ternyata, ada warga yang
lapor kalau pohon-pohon itu sudah terlalu tua dan rapuh. Nanti kalau datang
musim hujan, malah berbahaya. Bisa ambruk.” Ibu menjelaskan pada Seno.
“Tapi kenapa ditebang
sekarang, nggak waktu dekat musim hujan aja, Bu? Jadi kita yang sering lewat
jalan itu nggak kepanasan tiap hari.”
“Mumpung ada perbaikan
jalan, dibereskan pohon-pohonnya. Mungkin begitu,” tebak Ibu sambil melanjutkan
memotong ranting mawar yang kering.
“Ah, bikin sebel. Ya sudah,
Bu. Seno ke dalam dulu, mau makan siang.”
Ibu cuma menggeleng-gelengkan kepala melihat Seno yang berlalu sambil terus menggerutu.
***
“Kamu sudah tahu
ceritanya kenapa pohon-pohon di Gang Kenang ditebang?” tanya Wisang sambil
mengeluarkan PR-nya. Berdua mereka janjian mengerjakan tugas matematika
bersama.
“Iya, kemarin Ibu cerita,”
jawab Seno. “Ya, kita harus bersabar sampai musim hujan. Paling enggak, jalanan
basah jadi sejuk.”
“Aku punya usul nih. Gimana
kalau kita bilang Pak RT, lalu ajak teman-teman buat mulai menanam pohon di
sepanjang gang itu. Daripada tiap hari kita menggerutu, lebih baik membantu
menghijaukan lagi. Jadi musim panas yang akan datang gang sudah nggak kering
lagi,” ajak Wisang.
“Wah, ide bagus itu, Wis.
Tapi kan jalannya masih dalam perbaikan. Bagaimana kita bisa mulai menanam?”
tanya Seno.
“Ya, kita bisa mulai
sedikit demi sedikit. Dari bagian jalan yang sudah selesai diperbaiki, Sen.”
“Wah, kamu benar, Wis.
Kalo begitu, ayo kita ke Pak RT sekarang,” Seno berdiri, sudah tidak sabar.
“Nanti sore, Sen.
Sekarang Pak RT belum pulang. Masih di kantor. Kamu itu, nggak sabaran,” Wisang
menimpali sambil tertawa.
“Iya, ya,” Seno
mengiyakan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kalau gitu sekarang
kita makan singkong goreng bikinan ibuku dulu saja, yuk.”
“Bikin PR dulu, Sen.” Jawaban
Wisang tidak terdengar Seno yang sudah berlari ke dalam rumah.
Tak lama, Seno keluar
lagi dengan tangan kosong. “Singkong gorengnya belum matang, Wis.” Sambil
cengengesan Seno kembali menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Baru selesai
dikupas, kata Ibu.” sahut Seno yang disambut gelak tawa Wisang.
Selesai mengerjakan PR,
Wisang menyeletuk, “Sen, kita coba hitung, yuk. Kira-kira berapa pohon yang
akan kita tanam sepanjang jalan Gang Kenang,” usul Wisang. “Ini sama seperti PR
matematika kita.”
“Bisa kita hitung seperti
di PR?” Seno kembali menggaruk kepalanya.
Wisang menganggukkan
kepalanya. “Kira-kira panjang Gang Kenang 180 meter. Butuh berapa pohon, kalau
kita mau menanami gang dengan jarak antarpohon 9 meter?” Wisang memberi contoh
pertanyaan.
“Oiya betul. Kalau gitu,
jawabannya = 180 : 9 = 20 pohon. Kalau kita mau menanam di seberangnya juga,
maka 20 x 2 = 40 pohon. Begitu, ya?” tukas Seno.
“Iya, betul sekali. Nanti
waktu kita ke rumah Pak RT, sekalian kita tanyakan berapa tepatnya panjang Gang
Kenang.”
“Nah, karena sudah
selesai berhitung, sekarang kalian makan singkong goreng sambil menyeruput teh
panas. Pasti enak sekali.” Tiba-tiba Ibu sudah ada di belakang mereka.
Seno dan Wisang tertawa
girang. Tanpa banyak basa-basi, mereka segera menyerbu singkong goreng yang
aromanya sangat menggoda itu.
“Awas masih panas,” seru
Ibu. Tapi terlambat, Seno sudah memegang singkong di depannya. Kepanasan,
dijatuhkan lagi. Untung terjatuh kembali ke piringnya.
“Seno, nih. Nggak sabaran betul,” tukas Ibu sambil mencubit lembut pipi tembem anak kesayangannya.
**Selesai**