Search This Blog

> Belajar Matematika dan Sains Menyenangkan

Monday, August 31, 2026

Kacang Harapan

 


Cring... dengan sekali ayun saja, Peri Biru berhasil membuat tanaman layu menjadi segar kembali.

Cring cring... dua kali ayun, Peri Biru menjadikan mobil-mobilan Mumu yang patah kembali seperti semula.

Tuktuktuk... dan dengan ketukan lembut, Peri Biru menyediakan berbagai makanan lezat untuk para kurcaci pekerja yang sedang kelelahan.

 

***

 

“Pokoknya aku harus punya tongkat sakti seperti milik Peri Biru! Kalau Ibu tidak membelikanku, aku tidak mau melakukan pekerjaanku,” ujar Lulu, si kurcaci kecil pada ibunya. “Tongkat itu bisa memberikan segalanya, Bu. Coba bayangkan, kalau aku punya tongkat itu, aku bisa duduk santai sementara semua pekerjaanku selesai. Bahkan Ibu tidak perlu bekerja, makan siang dan malam akan aku sediakan. Pokoknya, aku harus punya tongkat seperti itu. Ayolah Bu, kita beli di Toko Serba Lengkap.” Lulu terus saja merengek.

“Tidak bisa, Lulu! Tongkat itu bukan sembarang tongkat yang bisa dimiliki siapa saja. Tongkat itu hanya milik Peri Biru yang memang bertugas membantu semua yang sedang kesulitan,” kata ibu Lulu. “Dan lagi, tidak ada yang menjualnya.”

“Ah, Ibu pelit! Bilang saja Ibu tidak punya uang untuk membelikanku, seperti biasanya. Kita kan memang harus berhemat, kita tidak boleh boros, kita harus menabung dan bersabar kalau menginginkan sesuatu. Pasti nanti Ibu akan bilang seperti itu,” Lulu terus saja marah-marah tanpa mendengarkan apa kata ibunya.

“Lulu,” tegur Ibunya lembut. “Memang benar kita harus hemat, karena kita tidak punya uang lebih. Tapi meskipun kita punya, kita tidak akan bisa membeli tongkat itu, karena memang tidak ada yang menjualnya.”

“Ah, Ibu! Pokoknya, hari ini aku malas mengerjakan pekerjaan rumahku!” Lulu masuk ke kamarnya sambil membanting pintu.

Ibu Lulu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena kelakuan Lulu yang pemarah. Entah sudah beberapa kali dinasihati, Lulu tetap saja tidak bisa menghilangkan sifat buruknya. Suka marah-marah, harus selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, sering menginginkan barang yang dimiliki kurcaci lain. Ibunya yang sabar hanya berusaha terus bersikap lembut dan menyayanginya. Berharap suatu hari nanti Lulu sadar dan berubah.

Di dalam kamarnya, Lulu sedang memandangi wajah marahnya di depan cermin. Tampak jelek sekali, ada kerutan di dahinya, mulutnya berbentuk bulan sabit yang menghadap ke bawah. Dia sendiri kadang enggan melihat wajahnya yang seperti itu. “Tapi mau bagaimana lagi, aku marah karena keinginanku tidak terpenuhi,” gumam Lulu di depan cermin.

Tiba-tiba, sebuah cahaya muncul dari dalam cermin. Cahaya itu memunculkan sesuatu di hadapannya. Setelah cahaya itu hilang, Lulu melihat sebuah kacang sebesar telapak tangannya.

“Apa ini?” gumamnya sambil mengangkat kacang itu.

“Kacang harapan!” Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari dalam cermin. “Kalau kamu memakan habis kacang itu, semua harapanmu akan terkabul.”

Mendengar itu, Lulu langsung memakan kacang yang ada di hadapannya.

“Tapi...,” ternyata suara itu belum selesai berbicara. “Setiap kali permohonanmu terpenuhi, badanmu akan mengecil setengah dari ukuran badanmu sebelumnya. Semakin banyak permintaanmu, tentu saja akan semakin kecil juga badanmu.” Lalu suara itu hilang.

“Ah, badanku saja sudah kecil, tinggiku cuma 60 cm. Tak apa-apa lah kalau mengecil sedikit lagi,” ujar Lulu sambil terus menghabiskan kacang di tangannya. “Baiklah, aku langsung coba. Aku mau tongkat sakti seperti milik Peri Biru,” kata Lulu keras-keras.

Cring! Di depannya ada sebuah tongkat yang mirip sekali dengan milik Peri Biru. Lulu senang sekali. Dia segera mengayunkan tongkat itu. Tapi, diayun atau diketuk berapa kali pun tidak ada apa-apa yang terjadi.

“Ah, ternyata hanya tongkat bohongan,” kata Lulu marah sambil melempar tongkat itu ke lantai. Sebelum menyentuh lantai, tongkat itu menghilang. Dan bersamaan dengan itu, syuuut... badan Lulu mengecil. Tingginya sekarang hanya separuh dari tinggi sebelumnya = ½ x 60 cm = 30 cm.

Tapi karena Lulu merasa tidak ada yang berbeda, dia mulai meminta lagi. “Kali ini, aku minta makanan yang lezat.”

Di depannya, langsung muncul kue, es krim, dan permen kegemarannya. Lulu langsung memakan habis semuanya.

Syuuut... sama seperti sebelumnya, Lulu tiba-tiba mengecil lagi. Sekarang tingginya = ½ x 30 cm = 15 cm. Kali ini Lulu menjadi sebesar bayi kurcaci. Dia hanya bisa duduk dan merangkak. Setiap Lulu berusaha berdiri dan berjalan, dia terjatuh kembali. Menyadari itu, Lulu mulai menangis ketakutan. “Bagaimana caranya kembali? Ibu tolong aku. Maafkan aku, aku janji tidak akan marah-marah lagi, aku janji tidak akan serakah lagi,” Lulu menangis merengek-rengek.

“Lulu! Bangun!” seru Ibu membangunkannya.

Ketika sadar tidak ada yang berubah dari tubuhnya, Lulu langsung memeluk ibunya. “Maafkan Lulu ya, Bu!”

Sejak saat itu Lulu berubah menjadi kurcaci baik. Yah, kadang-kadang masih suka marah jika keinginannya tidak dipenuhi, tapi ketika diingatnya tentang mimpi kacang harapan, dia langsung berusaha mengendalikan keinginan marahnya.

 

**Selesai**

No comments:

Post a Comment

Kacang Harapan

  Cring... dengan sekali ayun saja, Peri Biru berhasil membuat tanaman layu menjadi segar kembali. Cring cring... dua kali ayun, Peri Biru m...