Cring... dengan sekali
ayun saja, Peri Biru berhasil membuat tanaman layu menjadi segar kembali.
Cring
cring... dua kali ayun, Peri Biru menjadikan mobil-mobilan Mumu yang patah
kembali seperti semula.
Tuktuktuk...
dan dengan ketukan lembut, Peri Biru menyediakan berbagai makanan lezat untuk
para kurcaci pekerja yang sedang kelelahan.
***
“Pokoknya
aku harus punya tongkat sakti seperti milik Peri Biru! Kalau Ibu tidak
membelikanku, aku tidak mau melakukan pekerjaanku,” ujar
Lulu, si kurcaci kecil pada ibunya. “Tongkat itu bisa
memberikan segalanya, Bu. Coba bayangkan, kalau aku punya tongkat itu, aku bisa
duduk santai sementara semua pekerjaanku selesai. Bahkan Ibu tidak perlu bekerja, makan siang dan malam akan
aku sediakan. Pokoknya, aku harus punya tongkat seperti itu. Ayolah Bu, kita
beli di Toko Serba Lengkap.” Lulu terus saja merengek.
“Tidak
bisa, Lulu! Tongkat itu bukan sembarang tongkat yang bisa dimiliki siapa saja.
Tongkat itu hanya milik Peri Biru yang memang bertugas membantu semua yang
sedang kesulitan,” kata ibu Lulu. “Dan lagi, tidak ada yang menjualnya.”
“Ah,
Ibu pelit! Bilang saja Ibu tidak punya uang untuk membelikanku, seperti
biasanya. Kita kan memang harus berhemat, kita tidak boleh boros, kita harus
menabung dan bersabar kalau menginginkan sesuatu. Pasti nanti Ibu akan bilang
seperti itu,” Lulu terus saja marah-marah tanpa mendengarkan apa kata ibunya.
“Lulu,”
tegur Ibunya lembut. “Memang benar kita harus hemat, karena kita tidak punya
uang lebih. Tapi meskipun kita punya, kita tidak akan bisa membeli tongkat itu,
karena memang tidak ada yang menjualnya.”
“Ah,
Ibu! Pokoknya, hari ini aku malas mengerjakan pekerjaan rumahku!” Lulu masuk ke
kamarnya sambil membanting pintu.
Ibu
Lulu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena kelakuan Lulu yang pemarah.
Entah sudah beberapa kali dinasihati, Lulu tetap saja tidak bisa menghilangkan
sifat buruknya. Suka marah-marah, harus selalu mendapatkan apa yang
diinginkannya, sering menginginkan barang yang dimiliki kurcaci lain. Ibunya yang sabar hanya berusaha terus bersikap lembut
dan menyayanginya. Berharap suatu hari nanti Lulu sadar dan berubah.
Di
dalam kamarnya, Lulu sedang memandangi wajah marahnya di depan cermin. Tampak
jelek sekali, ada kerutan di dahinya, mulutnya berbentuk bulan sabit yang
menghadap ke bawah. Dia sendiri kadang enggan melihat wajahnya yang seperti
itu. “Tapi mau bagaimana lagi, aku marah karena keinginanku tidak terpenuhi,”
gumam Lulu di depan cermin.
Tiba-tiba,
sebuah cahaya muncul dari dalam cermin. Cahaya itu memunculkan sesuatu di hadapannya. Setelah cahaya itu hilang, Lulu melihat sebuah
kacang sebesar telapak tangannya.
“Apa
ini?” gumamnya sambil mengangkat kacang itu.
“Kacang
harapan!” Tiba-tiba
sebuah suara terdengar dari dalam cermin. “Kalau kamu memakan habis kacang itu, semua
harapanmu akan terkabul.”
Mendengar
itu, Lulu langsung memakan kacang yang ada di hadapannya.
“Tapi...,” ternyata suara itu
belum selesai berbicara. “Setiap kali permohonanmu terpenuhi, badanmu akan
mengecil setengah dari ukuran badanmu sebelumnya. Semakin banyak permintaanmu, tentu saja akan semakin
kecil juga badanmu.” Lalu suara itu hilang.
“Ah, badanku
saja sudah kecil, tinggiku cuma 60 cm. Tak apa-apa lah kalau mengecil sedikit
lagi,” ujar Lulu sambil terus menghabiskan kacang di tangannya. “Baiklah, aku langsung coba. Aku mau
tongkat sakti
seperti milik Peri Biru,” kata Lulu keras-keras.
Cring!
Di depannya ada sebuah tongkat yang mirip sekali dengan milik Peri Biru. Lulu
senang sekali. Dia segera mengayunkan tongkat itu. Tapi, diayun atau diketuk
berapa kali pun tidak ada apa-apa yang terjadi.
“Ah,
ternyata hanya tongkat bohongan,” kata Lulu marah sambil melempar tongkat itu
ke lantai. Sebelum menyentuh lantai, tongkat itu menghilang. Dan bersamaan
dengan itu, syuuut... badan Lulu mengecil. Tingginya
sekarang hanya separuh dari tinggi sebelumnya = ½ x 60 cm = 30 cm.
Tapi
karena Lulu merasa tidak ada yang berbeda, dia mulai meminta lagi. “Kali ini,
aku minta makanan yang lezat.”
Di
depannya, langsung muncul kue, es krim, dan permen kegemarannya. Lulu langsung
memakan habis semuanya.
Syuuut...
sama seperti
sebelumnya, Lulu tiba-tiba mengecil lagi. Sekarang
tingginya = ½ x 30 cm = 15 cm. Kali
ini Lulu menjadi sebesar bayi kurcaci. Dia hanya bisa duduk dan merangkak. Setiap Lulu berusaha berdiri dan
berjalan, dia terjatuh kembali. Menyadari itu, Lulu mulai menangis ketakutan.
“Bagaimana caranya kembali? Ibu tolong aku. Maafkan aku, aku janji tidak akan
marah-marah lagi, aku janji tidak akan serakah lagi,” Lulu menangis
merengek-rengek.
“Lulu!
Bangun!” seru Ibu membangunkannya.
Ketika
sadar tidak ada yang berubah dari tubuhnya, Lulu langsung memeluk ibunya.
“Maafkan Lulu ya, Bu!”
Sejak
saat itu Lulu berubah menjadi kurcaci baik. Yah, kadang-kadang masih suka marah jika
keinginannya tidak dipenuhi, tapi ketika diingatnya tentang mimpi kacang
harapan, dia langsung berusaha mengendalikan keinginan marahnya.
**Selesai**