Mia menutup buku cerita
yang baru selesai dibacanya. “Hmmm, kue keberuntungan, ya. Aku jadi ingin
membuatnya, lalu akan kujual di acara pameran sekolah pekan depan. Pasti akan
laris manis,” gumam Mia sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku ajak Ajeng
juga ah, kayaknya lebih asyik membuat kue berdua.” Mia segera mencari ibunya
dan berpamitan. “Bu, aku ke rumah Ajeng, ya.”
Mia menceritakan idenya
pada Ajeng untuk menjual kue keberuntungan yang resepnya diperoleh dari buku
cerita yang baru selesai dibacanya.
“Nanti kita masukkan
sejumput harapan dan sehelai semangat supaya kue itu benar-benar manjur. Lalu
secangkir coklat kasih sayang dan segenggam benih persahabatan supaya lebih
melekat di hati anak-anak yang membelinya. Bagaimana? Seru sekali, kan!” Mia
bersemangat sekali menceritakan rencananya.
Ajeng menanggapi dengan
tidak kalah semangat, “Bagaimana kalau kita tambahkan taburan kata maaf, supaya
mereka yang sedang bermusuhan bisa segera berbaikan?” usul Ajeng.
“Iya iya, seru sekali!”
kata Mia senang. “Sekarang, ayo kita tanyakan bahan-bahan pokok pembuat kuenya
pada Ibu Peri.”
Ajeng mengangguk, lalu
berdua mereka menuju ke rumah Mia.
“Ibu Peri, kami
memutuskan untuk membuat kue keberuntungan untuk pameran minggu depan. Ajari
kami membuatnya ya, Ibu Peri,” rengek Mia.
Ibu yang sudah terbiasa
dengan permainan peran Mia tersenyum geli melihat tingkah Mia dan Ajeng. Kemudian
segera beranjak dari tempat duduknya, mengambil buku resep, lalu membacakannya.
“Ada tiga bahan dasar yang
harus disiapkan.
·
Bahan A, terdiri dari ½ kg
tepung terigu, 200 gram gula pasir, 3
butir telur.
·
Bahan B, terdiri dari 200 gram
tepung terigu, 50 gram gula pasir, 1 butir telur.
·
Bahan C, terdiri dari 50 gram
tepung terigu, 25 gram gula pasir, 1 butir telur.” Ibu menuliskan di selembar
kertas, lalu menyerahkan pada Mia.
Mia membaca catatan Ibu,
lalu berkata, “Supaya mudah menghitung bahan yang dibutuhkan, kita kelompokkan
jenis yang sama:
·
Tepung terigu = ½ kg + 200 gram
+ 50 gram = 500 gram + 200 gram + 50 gram = 750 gram.
·
Gula pasir = 200 gram + 50 gram
+ 25 gram = 275 gram.
·
Telur = 3 + 1 + 1 = 5 butir.”
Satu jam kemudian, bau
kue yang semerbak tercium dari dapur. Mia dan Ajeng sedang menghias kue-kue
keberuntungan, ketika kakak Mia menghampiri mereka.
“Hmmm, harum sekali baunya,
sepertinya enak. Kue apa ini?”
“Ini namanya Kue Keberuntungan,
Kak. Rencananya kami akan berjualan di pameran sekolah pekan depan. Kakak mau
mencicipi? Pasti nanti akan ada keberuntungan yang terjadi.” Ajeng menyodorkan
piring dengan kue yang sudah ditata rapi.
“Oh, tentu saja aku mau.
Dan karena ini Kue Keberuntungan, aku akan memberikan kalian… ini!” Kakak Mia
mengeluarkan sepasang bando cantik berwarna biru muda lalu memberikannnya pada
Mia dan Ajeng.
“Wah, cantik sekali,
Kak. Terima kasih,” sambut Mia dan Ajeng bersamaan, lalu memeluk kakak Mia.
“Wah wah, benar-benar kue
keberuntungan, ya. Lalu mana nih hadiah buat Ibu Peri?” sahut Ibu sambil
membawa seloyang lagi kue yang baru saja matang.
Sambil menikmati kue
keberuntungan, mereka tertawa-tawa menikmati permainan sandiwara sore itu.
**Selesai**

No comments:
Post a Comment