Lebaran
kemarin Sunu menginap di rumah Yangti, di Payaman, Magelang. Hampir semua paman,
bibi dan keluarganya datang menginap. Tradisi keluarga setiap hari raya. Tak
ada kamar tak apa, yang penting semua ramai berkumpul. Anak-anak kecil akan
menggelar kasur berjejer-jejer di depan televisi dan tidur seperti pindang.
Orang-orang dewasa akan mengobrol sampai malam. Hangat sekali.
Sunu, Nurul, Remi, dan Dani adalah sepupu seumuran.
Sama-sama kelas lima SD, hanya selisih dua sampai lima bulan saja umurnya.
Karena itulah setiap kali berkumpul selalu sangat ramai mereka berempat.
“Dani aja yang manjat, jangan kamu. Mosok cewek polah-nya kayak cowok,” tegur Remi
ketika Nurul mau memanjat pohon jambu di halaman rumah Yangti.
“Ah, aku bisa, kok. Zaman sekarang nggak boleh
ngeremehin cewek, ya!” balas Nurul sambil cemberut. Sebelah kakinya sudah siap
di batang pohon.
“Sudah! Kalau Nurul bisa, ya nggak apa,” sahut Dani.
“Aku mau diambilkan yang sudah kekuningan itu, ya!” Dani menunjuk sebuah jambu
yang kelihatan sudah matang.
Langsung dengan sigap Nurul memanjat dan mengambilkan
jambu yang diminta Dani. “Tuh, kan. Gampang!” seru Nurul sambil melemparkan
jambu ke arah Dani.
“Oh, maaf sudah meremehkan. Ternyata kamu jago
banget,” kata Remi. “Kalau gitu ambilkan aku juga, ya!” Dari bawah Remi
berteriak yang disambut acungan jempol Nurul.
Tak lama kemudian, datang Sunu membawa sebuah
keranjang kosong. “Ini untuk tempat jambunya. Kata Yangti, selesai panen jambu,
kita disuruh bantuin menimba air untuk mandi bocil-bocil.”
Keranjang sudah penuh dengan jambu yang sudah matang.
Sunu dan Dani sudah ada di depan sumur, sedangkan Nurul dan Remi mengambil sebuah
ember kuning besar dari kamar mandi.
Semua sudah terbiasa, di rumah Yangti kalau mau mandi
harus mengisi ember kuning besar. Air diambil dari sumur di belakang rumah.
Yang menimba dari sumur harus orang dewasa, sedang anak-anak yang sudah bisa
berhati-hati akan ikut membantu sambil bermain air. Seru sekali.
Sore itu Sunu sengaja membawa sebuah meteran dari
kotak perkakas Bapak. Dia penasaran ingin mengukur ember kuning besar milik
Yangti.
Ketika Nurul dan Remi datang, Sunu mulai mengukur. “Ember
kuning Yangti berbentuk tabung dengan diameter 70 cm dan tinggi 80 cm. Sedangkan
air dari sumur diambil menggunakan ember kecil yang berdiameter 35 cm dan
tinggi 40 cm. Butuh berapa kali menimba air dari sumur untuk memenuhi ember
kuning Yangti?” tanya Sunu.
“Kita harus penuhin dululah, baru bisa kita jawab,”
sahut Dani.
“Jangan diisi dulu! Coba tebak saja butuh berapa ember
kecil! Atau ada yang bisa menghitung dengan tepat? Nanti Paman kasih coklat.”
Tiba-tiba Paman Doli sudah ada di belakang mereka.
“Enam kali,” teriak Remi.
“Lima kali kayaknya cukup,” jawab Nurul.
“Enam setengah,” kata Dani.
“Oke. Dikunci jawabannya. Sunu?” tanya Paman Doli
ketika melihat Sunu komat-kamit sendiri di pinggir sumur.
“Ehm, delapan,” sahut Sunu.
“Oke. Ada yang punya alasan buat jawabannya?” Paman
Doli bertanya lagi.
Nurul, Remi, dan Dani saling berpandangan, lalu
menggelengkan kepala bersamaan.
“Aku pake hitungan matematika, Paman,” sahut Sunu
bersiap menjelaskan.
“Oke, baik. Mari kita dengarkan apa kata Sunu,” kata
Paman Doli dengan nada seperti reporter televisi.
“Ember kuning diameternya 70 cm, maka jari-jari r = 35
cm; tinggi t = 80 cm; p = 22/7.
Volume ember kuning = p x r2 x t = 22/7 x 35 x 35 x 80 = 308.000
cm3.
Ember sumur diameternya 35 cm; t = 40 cm.
Volume ember sumur = ¼ x p x d2 x t = ¼ x 22/7 x 35 x 35 x 40 = 38.500
cm3.
Untuk memenuhi ember kuning Yangti, maka harus
mengambil air dari sumur sebanyak = 308.000 : 38.500 = 8 kali,” jelas Sunu.
“Wah, keren banget liburan tapi masih belajar
matematika,” celetuk Dani sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Emang kamu, libur ato enggak, nggak pernah kepikiran
matematika,” tukas Nurul yang disambut gelak tawa yang lainnya.
“Baiklah, memang benar jawabnya delapan kali. Dan
seperti yang dijelaskan Sunu, bisa pakai rumus volume tabung untuk
menghitungnya. Nah, karena tepat menjawab, Sunu dapat tiga coklat, sementara yang
lain tetap dapat dua coklat.” Paman Doli mulai membagikan coklat dari
kantongnya.
“Ember kuning Yangti sudah penuh, belum? Bocil-bocil
sudah nungguin, nih!” teriak Bibi Titi dari dalam kamar mandi.
“Ah, iyaaaaa…” Bersamaan Paman Doli dan keempat keponakannya
berteriak panik. Sambil cekikikan mereka segera menimba dan mengisi ember
kuning Yangti.
*Selesai*
No comments:
Post a Comment