Search This Blog

> Belajar Matematika dan Sains Menyenangkan

Monday, March 30, 2026

Ember Kuning Yangti

 



Lebaran kemarin Sunu menginap di rumah Yangti, di Payaman, Magelang. Hampir semua paman, bibi dan keluarganya datang menginap. Tradisi keluarga setiap hari raya. Tak ada kamar tak apa, yang penting semua ramai berkumpul. Anak-anak kecil akan menggelar kasur berjejer-jejer di depan televisi dan tidur seperti pindang. Orang-orang dewasa akan mengobrol sampai malam. Hangat sekali.

Sunu, Nurul, Remi, dan Dani adalah sepupu seumuran. Sama-sama kelas lima SD, hanya selisih dua sampai lima bulan saja umurnya. Karena itulah setiap kali berkumpul selalu sangat ramai mereka berempat.

“Dani aja yang manjat, jangan kamu. Mosok cewek polah-nya kayak cowok,” tegur Remi ketika Nurul mau memanjat pohon jambu di halaman rumah Yangti.

“Ah, aku bisa, kok. Zaman sekarang nggak boleh ngeremehin cewek, ya!” balas Nurul sambil cemberut. Sebelah kakinya sudah siap di batang pohon.

“Sudah! Kalau Nurul bisa, ya nggak apa,” sahut Dani. “Aku mau diambilkan yang sudah kekuningan itu, ya!” Dani menunjuk sebuah jambu yang kelihatan sudah matang.

Langsung dengan sigap Nurul memanjat dan mengambilkan jambu yang diminta Dani. “Tuh, kan. Gampang!” seru Nurul sambil melemparkan jambu ke arah Dani.

“Oh, maaf sudah meremehkan. Ternyata kamu jago banget,” kata Remi. “Kalau gitu ambilkan aku juga, ya!” Dari bawah Remi berteriak yang disambut acungan jempol Nurul.

Tak lama kemudian, datang Sunu membawa sebuah keranjang kosong. “Ini untuk tempat jambunya. Kata Yangti, selesai panen jambu, kita disuruh bantuin menimba air untuk mandi bocil-bocil.”

Keranjang sudah penuh dengan jambu yang sudah matang. Sunu dan Dani sudah ada di depan sumur, sedangkan Nurul dan Remi mengambil sebuah ember kuning besar dari kamar mandi.

Semua sudah terbiasa, di rumah Yangti kalau mau mandi harus mengisi ember kuning besar. Air diambil dari sumur di belakang rumah. Yang menimba dari sumur harus orang dewasa, sedang anak-anak yang sudah bisa berhati-hati akan ikut membantu sambil bermain air. Seru sekali.

Sore itu Sunu sengaja membawa sebuah meteran dari kotak perkakas Bapak. Dia penasaran ingin mengukur ember kuning besar milik Yangti.

Ketika Nurul dan Remi datang, Sunu mulai mengukur. “Ember kuning Yangti berbentuk tabung dengan diameter 70 cm dan tinggi 80 cm. Sedangkan air dari sumur diambil menggunakan ember kecil yang berdiameter 35 cm dan tinggi 40 cm. Butuh berapa kali menimba air dari sumur untuk memenuhi ember kuning Yangti?” tanya Sunu.

“Kita harus penuhin dululah, baru bisa kita jawab,” sahut Dani.

“Jangan diisi dulu! Coba tebak saja butuh berapa ember kecil! Atau ada yang bisa menghitung dengan tepat? Nanti Paman kasih coklat.” Tiba-tiba Paman Doli sudah ada di belakang mereka.

“Enam kali,” teriak Remi.

“Lima kali kayaknya cukup,” jawab Nurul.

“Enam setengah,” kata Dani.

“Oke. Dikunci jawabannya. Sunu?” tanya Paman Doli ketika melihat Sunu komat-kamit sendiri di pinggir sumur.

“Ehm, delapan,” sahut Sunu.

“Oke. Ada yang punya alasan buat jawabannya?” Paman Doli bertanya lagi.

Nurul, Remi, dan Dani saling berpandangan, lalu menggelengkan kepala bersamaan.

“Aku pake hitungan matematika, Paman,” sahut Sunu bersiap menjelaskan.

“Oke, baik. Mari kita dengarkan apa kata Sunu,” kata Paman Doli dengan nada seperti reporter televisi.

“Ember kuning diameternya 70 cm, maka jari-jari r = 35 cm; tinggi t = 80 cm; p = 22/7.

Volume ember kuning = p x r2 x t = 22/7 x 35 x 35 x 80 = 308.000 cm3.

Ember sumur diameternya 35 cm; t = 40 cm.

Volume ember sumur = ¼ x p x d2 x t = ¼ x 22/7 x 35 x 35 x 40 = 38.500 cm3.

Untuk memenuhi ember kuning Yangti, maka harus mengambil air dari sumur sebanyak = 308.000 : 38.500 = 8 kali,” jelas Sunu.

“Wah, keren banget liburan tapi masih belajar matematika,” celetuk Dani sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Emang kamu, libur ato enggak, nggak pernah kepikiran matematika,” tukas Nurul yang disambut gelak tawa yang lainnya.

“Baiklah, memang benar jawabnya delapan kali. Dan seperti yang dijelaskan Sunu, bisa pakai rumus volume tabung untuk menghitungnya. Nah, karena tepat menjawab, Sunu dapat tiga coklat, sementara yang lain tetap dapat dua coklat.” Paman Doli mulai membagikan coklat dari kantongnya.

“Ember kuning Yangti sudah penuh, belum? Bocil-bocil sudah nungguin, nih!” teriak Bibi Titi dari dalam kamar mandi.

“Ah, iyaaaaa…” Bersamaan Paman Doli dan keempat keponakannya berteriak panik. Sambil cekikikan mereka segera menimba dan mengisi ember kuning Yangti.

 

*Selesai*


No comments:

Post a Comment

Tumpukan Setrikaan yang Menggunung

  Liburan sudah selesai, besok sudah masuk sekolah. Mia menemani Ibu yang sedang menata meja untuk alas menyetrika. Seminggu ditinggal mudik...