Search This Blog

> Belajar Matematika dan Sains Menyenangkan

Saturday, February 28, 2026

Aduh, Itu Saya!

 


Siang itu, kabut tipis terbang rendah. Di daerah dataran tinggi seperti Dieng, Wonosobo, hampir setiap waktu panasnya siang bercampur dengan udara sejuk.

Ujo dan Ali sedang bermain kelereng di halaman rumah mereka. “Giliranku ya, Jo!” Ali mulai membidik kelereng Ujo. “Wah pasti kena, nih!”

Ali memicingkan sebelah matanya, dengan penuh konsentrasi membidik kelereng Ujo. Thak! Bunyi kelereng yang dilepaskan Ali tepat mengenai kelereng Ujo dengan keras.

“Hore, berhasil! Kelereng itu jadi milikku!” teriak Ali.

“Yah, habis sudah kelerengku,” keluh Ujo. “Lho, mana kelerengnya, Li?

Mereka berdua lalu mencari-cari. Ternyata menggelinding masuk sampai ke kandang ayam Pak Din.

“Ada di dalam, Li!” kata Ujo.

“Biar aku ambil, sepertinya pintu kandang tidak dikunci,” kata Ali.

Ali segera masuk ke kandang, mengambil kelereng, kemudian bergegas keluar.

“Wah, sudah siang! Kita pulang dulu, yuk! Lagipula kelerengku sudah habis,” ajak Ujo.

Ali mengangguk, lalu bergegas memasukkan kelereng-kelerengnya ke dalam kaleng. Berdua mereka meninggalkan tempat itu.

Belum sampai masuk rumah, Ali mendengar Pak Din berteriak-teriak, “Ayam-ayamku lepas! Tolong bantu siapa saja yang bisa menangkapnya! Aduh, siapa tadi yang lupa menutup pintu kandang?”

Ali yang mendengar teriakan Pak Din langsung merasa bersalah. Dia yang terakhir masuk ke kandang ayam Pak Din untuk mengambil kelereng. “Duh, aku harus bagaimana ini? Aku takut dimarahi!” batin Ali.

Sambil memikirkan itu, Ali bergegas menghampiri Pak Din dan membantunya menangkap ayam-ayam yang lepas.

“Itu, ada dua yang lari ke sana, Li!” Pak Din menunjuk ke bawah pohon jambu. “Lalu di sana juga ada tiga,” tunjuk Pak Din ketika melihat kelebatan ekor ayam di dekat tanaman serai.

Ali berlari ke sana-sini mengikuti arahan Pak Din.

“Masih kurang berapa, Pak?” tanya Ali sambil mengatur napas.

Pak Din mulai menghitung. Yang di dalam kandang tadi ada 11, ditambah 2 di pohon jambu, ditambah 3 di pohon serai, ditambah 2 di dekat pagar, ditambah 1 di samping gudang, jadi totalnya = 11 + 2 + 3 + 2 + 1 =  19 ekor. Padahal seharusnya 20 ekor. Jadi masih kurang seekor, Li,” sahut Pak Din sambil celingukan mencari satu ayamnya yang belum ketemu.

Tiba-tiba ada sekelebat makhluk yang terbang rendah melintas di depan Ali dan Pak Din. Dengan sigap Pak Din menangkapnya.

“Nah, ini ayam terakhir!” kata Pak Din sambil memasukkannya ke dalam kandang. “Terima kasih sudah membantu menangkap ayam-ayam ini, Li.”

Ali tidak berani memandang mata Pak Din. Tapi tak berapa lama kemudian, dia membuka mulut dengan agak tergagap. “Sebenarnya, Pak! Tadi saya yang lupa menutup pintu kandang.” Lalu Ali menjelaskan bagaimana dia masuk, lalu keluar tanpa menutup pintu kandang ayam Pak Din.

Sambil memandangi Ali, Pak Din menghela napas. “Bapak hargai kejujuran dan bantuan kamu. Tapi lain kali jangan diulangi, ya! Masuk ke tempat milik orang lain tanpa izin saja sudah salah, apalagi lalai dan hampir merugikan orang lain.”

“Maaf, Pak!” kata Ali lirih.

“Sudah tidak apa-apa,” kata Pak Din sambil merangkul Ali. “Nah sekarang, kita masuk dulu. Bu Din sudah membuatkan es jeruk dan tempe kemul.”

Ali senang karena memutuskan untuk bersikap jujur. Meskipun awalnya takut, tapi dia lega sudah berani jujur dan bertanggung jawab.

 

**Selesai**

No comments:

Post a Comment

Aduh, Itu Saya!

  Siang itu, kabut tipis terbang rendah . Di daerah dataran tinggi seperti Dieng, Wonosobo, hampir setiap waktu panasnya siang bercampur den...