Beberapa
waktu yang lalu saya mengirim sebuah cerpen anak ke Festival Cerita Anak
Nusantara yang berjudul “Kuluk Drumblek Buat Seto”. Asih dan Seto adalah dua tokoh
anak yang ada di dalam cerita tersebut. Tokoh yang sama dengan Asih – Seto
dalam cerita “Rumah-rumahan Buat Seto”, yang dimuat di Nusantara Bertutur, 25
April 2021. ^^
“Yang di nampan
ini juga dibungkus ya, Bu?” tanya Asih yang disambut anggukan Ibu. Di tangannya
ada satu nampan berisi enting-enting gepuk dan ampyang kacang buatan ibunya.
Makanan khas Salatiga, Jawa Tengah ini, pesanan Bu Yayuk, kawan Ibu.
Asih
selesai memasukkan ampyang terakhir ke dalam plastik, ketika adiknya, Seto,
masuk ke dalam rumah sambil menangis.
“Ibu,
Seto ingin rumah-rumahan seperti milik Arga. Belikan ya, Bu!” pinta Seto.
“Rumah-rumahan
apa, to?” tanya Ibu seraya mengampiri
Seto yang masih menangis sesenggukan.
“Itu!
Mainan baru Arga,” tunjuk Seto ke arah rumah Arga. “Rumah-rumahan yang untuk
piknik. Setinggi ini, jadi Seto bisa bermain dan tidur di dalamnya,” lanjut
Seto sambil mengangkat tangan setinggi dadanya.
“Oh,
tenda maksudnya, Bu,” sahut Asih. “Yang dijual Pak Badu di pinggir jalan itu.”
Ibu
menghela napas panjang, lalu mengelus kepala Seto. “Nanti tunggu Bapak pulang,
ya. Kita tanya Bapak dulu,” kata Ibu menenangkan Seto.
Seto
mengangguk perlahan. Tangisnya sudah reda, tapi bibirnya masih tampak cemberut.
Ibu
tersenyum pada Seto, lalu berdiri dan melanjutkan pekerjaannya. Sinar mata Ibu
menunjukkan kemurungan. Asih melihatnya sekilas. Wajah Ibu yang tampak sedih.
Sejak
pandemi, Bapak diberhentikan dari pekerjaannya di pabrik sepatu. Beruntung
Bapak diajak kawannya untuk menarik ojek. Setiap hari masih mendapat penghasilan,
meskipun tidak sebanyak sebelumnya. Ibu yang cukup mahir membuat makanan kecil
juga mulai menerima pesanan. Hasilnya lumayan untuk menambah pemasukan.
Bapak
dan Ibu mengajari Asih dan Seto untuk berhemat. Barang yang tidak benar-benar
diperlukan sebaiknya tidak dibeli. “Pasti nanti Bapak tidak mengizinkan Seto
membeli tenda seperti milik Arga. Mahal harganya,” batin Asih.
Tiba-tiba
terlintas sebuah ide di kepala Asih. Dia segera mengampiri Seto dan mengajaknya
ke kamar Ibu. Mengambil beberapa kain dan selimut tipis, lalu membawanya ke
ruang tengah.
“Kain
dan selimut ini buat apa, Mbak?” tanya Seto.
“Ayo,
kita buat rumah-rumahan yang besar. Yang bisa buat main dan tidur Seto,” ajak
Asih.
Mata
Seto langsung berbinar senang. Dia dengan girang membantu menyiapkan segala
yang dibutuhkan untuk membuat rumah-rumahannya. Ibu yang awalnya tampak
kebingungan pun ikut senang. Berusaha membantu jika Asih dan Seto membutuhkan.
Tak
berapa lama kemudian, di ruang tengah, tampak sebuah rumah-rumahan milik Seto.
Bagian bawah meja makan yang cukup luas ditutup kain melingkar. Kanan kirinya
dibatasi kursi kayu. Satu bagian dibiarkan agak terbuka untuk pintu. Di
lantainya diberi tikar, lalu dilapisi karpet. Seto membawa bantal gulingnya ke
dalam rumah-rumahan. Siang itu, dia ingin bermain dan tidur di rumahnya.
Sebelum
beranjak tidur, Seto memeluk Asih dan berkata, “Terima kasih, Mbak. Rumahku
bagus.”
**SELESAI**
No comments:
Post a Comment