Search This Blog

> Belajar Matematika dan Sains Menyenangkan

Saturday, November 29, 2025

Rumah-rumahan Buat Seto

 

Beberapa waktu yang lalu saya mengirim sebuah cerpen anak ke Festival Cerita Anak Nusantara yang berjudul “Kuluk Drumblek Buat Seto”. Asih dan Seto adalah dua tokoh anak yang ada di dalam cerita tersebut. Tokoh yang sama dengan Asih – Seto dalam cerita “Rumah-rumahan Buat Seto”, yang dimuat di Nusantara Bertutur, 25 April 2021. ^^

 


“Yang di nampan ini juga dibungkus ya, Bu?” tanya Asih yang disambut anggukan Ibu. Di tangannya ada satu nampan berisi enting-enting gepuk dan ampyang kacang buatan ibunya. Makanan khas Salatiga, Jawa Tengah ini, pesanan Bu Yayuk, kawan Ibu.

Asih selesai memasukkan ampyang terakhir ke dalam plastik, ketika adiknya, Seto, masuk ke dalam rumah sambil menangis.

“Ibu, Seto ingin rumah-rumahan seperti milik Arga. Belikan ya, Bu!” pinta Seto.

“Rumah-rumahan apa, to?” tanya Ibu seraya mengampiri Seto yang masih menangis sesenggukan.

“Itu! Mainan baru Arga,” tunjuk Seto ke arah rumah Arga. “Rumah-rumahan yang untuk piknik. Setinggi ini, jadi Seto bisa bermain dan tidur di dalamnya,” lanjut Seto sambil mengangkat tangan setinggi dadanya.

“Oh, tenda maksudnya, Bu,” sahut Asih. “Yang dijual Pak Badu di pinggir jalan itu.”

Ibu menghela napas panjang, lalu mengelus kepala Seto. “Nanti tunggu Bapak pulang, ya. Kita tanya Bapak dulu,” kata Ibu menenangkan Seto.

Seto mengangguk perlahan. Tangisnya sudah reda, tapi bibirnya masih tampak cemberut.

Ibu tersenyum pada Seto, lalu berdiri dan melanjutkan pekerjaannya. Sinar mata Ibu menunjukkan kemurungan. Asih melihatnya sekilas. Wajah Ibu yang tampak sedih.

Sejak pandemi, Bapak diberhentikan dari pekerjaannya di pabrik sepatu. Beruntung Bapak diajak kawannya untuk menarik ojek. Setiap hari masih mendapat penghasilan, meskipun tidak sebanyak sebelumnya. Ibu yang cukup mahir membuat makanan kecil juga mulai menerima pesanan. Hasilnya lumayan untuk menambah pemasukan.

Bapak dan Ibu mengajari Asih dan Seto untuk berhemat. Barang yang tidak benar-benar diperlukan sebaiknya tidak dibeli. “Pasti nanti Bapak tidak mengizinkan Seto membeli tenda seperti milik Arga. Mahal harganya,” batin Asih.

Tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepala Asih. Dia segera mengampiri Seto dan mengajaknya ke kamar Ibu. Mengambil beberapa kain dan selimut tipis, lalu membawanya ke ruang tengah.

“Kain dan selimut ini buat apa, Mbak?” tanya Seto.

“Ayo, kita buat rumah-rumahan yang besar. Yang bisa buat main dan tidur Seto,” ajak Asih.

Mata Seto langsung berbinar senang. Dia dengan girang membantu menyiapkan segala yang dibutuhkan untuk membuat rumah-rumahannya. Ibu yang awalnya tampak kebingungan pun ikut senang. Berusaha membantu jika Asih dan Seto membutuhkan.

Tak berapa lama kemudian, di ruang tengah, tampak sebuah rumah-rumahan milik Seto. Bagian bawah meja makan yang cukup luas ditutup kain melingkar. Kanan kirinya dibatasi kursi kayu. Satu bagian dibiarkan agak terbuka untuk pintu. Di lantainya diberi tikar, lalu dilapisi karpet. Seto membawa bantal gulingnya ke dalam rumah-rumahan. Siang itu, dia ingin bermain dan tidur di rumahnya.

Sebelum beranjak tidur, Seto memeluk Asih dan berkata, “Terima kasih, Mbak. Rumahku bagus.”

 


**SELESAI**

Butuh Membeli Berapa Gulung?

  


Nek Suli suka membuat kerajinan macrame. Dengan bahan tali kur, Nek Suli membuat simpul-simpul dari mulai yang sederhana sampai simpul rumit untuk menciptakan pola dan desain yang cantik dan menarik. Hasil kerajinan macrame Nek Suli bermacam-macam, mulai dari kantong koin kecil, tempat botol minum, sampai tas dengan berbagai ukuran.

Karena hasil kerajinan macrame Nek Suli rapi dan cantik, banyak yang memesan minta dibuatkan.

“Nenek sedang apa? Sibuk sekali kelihatannya,” sapa Nia ketika melihat neneknya sibuk mencari-cari sesuatu.

Menyadari kedatangan cucu kesayangannya, Nek Suli berhenti membongkar stok tali kur di lemarinya. “Ada yang memesan tas macrame. Tapi stok tali dengan warna yang diminta habis.”

“Nia mau ke Toko Satria membeli bahan prakarya untuk sekolah besok. Kalau Nenek mau, bisa sekalian Nia belikan.” Nia menawarkan bantuannya.

“Wah, kebetulan sekali,” sahut Nenek berbinar. “Sebentar Nenek hitung dulu, ya. Butuh membeli berapa gulung tali.”


Nia mengikuti Nenek ke meja kerjanya. Nenek mengambil selembar kertas dan sebuah bolpoin lalu mulai menulis.

“Untuk membuat satu tas bercorak batik butuh dua warna tali. Kali ini warnanya abu-abu dan biru tua. Nantinya tiap warna akan dipotong sepanjang 175 cm sebanyak 30 potong.”

Nia ikut mengambil selembar kertas dan pensil.

“Tali warna abu-abu 30 x 175 cm = 5.250 cm. Tali warna biru tua 30 x 175 cm = 5.250 cm. Lalu satu gulung panjangnya berapa meter, Nek?” Nia membantu Nenek menghitung tali yang akan dibeli.

“Satu gulung panjangnya 15 meter. Jadi harus beli berapa gulung?” Nenek bertanya pada Nia.

“Tali warna abu-abu butuh 5250 cm = 52,5 meter. Satu gulung 15 meter. Jadi 52,5 : 15 = 3,5 gulung tali. Karena tidak boleh membeli setengah gulung, maka harus membeli 4 gulung.” Nia menjelaskan pada Nenek. “Karena panjang tali warna biru tua juga jumlahnya sama, maka butuh membeli 4 gulung juga.”

“Wah, cepat juga hitungan cucu nenek!” tukas Nenek bangga. “Ini Nenek bawakan uang Rp100.000. Kalau tidak salah harga satu gulung tali Rp9.000.” Nenek memberikan selembar uang seratus ribuan.

“Oke, Nek. Kalau begitu nanti kembalinya 100.000 – (8 x 9.000) = 100.000 – 72.000 = 28.000. Rp28.000 ya, Nek.” seru Nia sambil melambaikan tangan di depan pintu.

“Iya betul. Uang kembaliannya boleh untuk membeli es krim. Jangan lupa belikan Nenek juga, ya!” seru Nenek sambil tertawa.

 

**Selesai**

Rumah-rumahan Buat Seto

  Beberapa waktu yang lalu saya mengirim sebuah cerpen anak ke Festival Cerita Anak Nusantara yang berjudul “Kuluk Drumblek Buat Seto”. Asih...