Search This Blog

> Belajar Matematika dan Sains Menyenangkan

Sunday, December 28, 2025

Kuluk Drumblek Buat Seto


Beberapa waktu lalu, saya mengikuti Lomba Menulis Festival Cerita Anak Nusantara. Saya memilih tema kesenian tradisional Salatiga, drumblek, dan memadukannya dengan makanan khas Salatiga, ampyang kacang dan enting-enting gepuk. Karena saya menyukai literasi numerasi, saya masukkan sedikit hitungan matematika yang pas untuk anak usia Sekolah Dasar. Di cerita ini, saya pakai dua tokoh anak yang pernah saya pakai juga di cerita “Rumah-rumahan Buat Seto”.

Berikut ceritanya..

 

 

Kuluk Drumblek Buat Seto


“Ampyang kacang, enting-enting gepuk. Satunya dua ribu rupiah saja.” Asih setengah berteriak menawarkan jualannya. “Ampyang, enting-enting, khas Salatiga.”

Satu tangan Asih membawa keranjang jualan dan tangan lainnya menggandeng Seto, adiknya. Asih berjalan di tengah keramaian orang yang datang dari berbagai kota. Ramai sekali kirab budaya kali ini. Katanya akan ada penampilan beberapa grup drumblek, kesenian asli Salatiga.

“Lihat, pasukan drumblek sudah mulai kelihatan.” Mendengar teriakan orang-orang, Asih segera menarik Seto untuk menerobos kerumunan. Mencari tempat di bagian depan.

Dukdurukduruk plek duk, dukdurukduruk plek duk. Suara drumblek sudah mulai terdengar. Drumblek mirip drumben, tapi alat musik yang digunakan terbuat dari barang-barang bekas, seperti : tong plastik, kaleng, galon, dan bambu.

Meski alat musik yang dipakai terbuat dari barang-barang bekas, mereka tetap bisa menghasilkan suara yang indah dan menarik. Itu karena para pemain mengikuti arahan mayoret dengan baik.

“Sini, To!” Asih memberi tempat pada Seto supaya bisa melihat pasukan drumblek lebih jelas.

Seto senang sekali. Dia berjoget mengikuti irama drumblek. “Besok besar, Seto mau jadi seperti itu,” kata Seto sambil menunjuk penabuh tong plastik besar.

Satu per satu pasukan drumblek melewati mereka. Kostumnya yang ramai dan memikat, membuat barisan tampak semakin menarik. Mereka memakai mahkota besar yang terbuat dari bulu ayam atau bulu angsa. Ada yang menyebutnya kuluk. Warna bulunya berwarna-warni, senada dengan rumbai-rumbai di pakaiannya.

 “Mbak, Seto ingin itu,” rengek Seto. Dia menunjuk sebuah kuluk drumblek yang dipajang penjual dadakan di pasar kirab.

Tak tega mendengar adiknya merengek, Asih mendekati penjualnya. “Harganya berapa, Lik?” tanya Asih pada Pak Lik penjual, sambil menunjuk sebuah kuluk.

“Yang kecil Rp15.000, kalau yang besar Rp25.000. Mau beli yang mana?” tanya si penjual.

“Sebentar, Lik.” Asih menjauh untuk menghitung hasil jualannya.

“Tadi Ibu membawakan 20 ampyang dan 30 enting-enting. Harga satunya Rp2.000. Kalau habis terjual, akan mendapatkan Rp100.000,” gumam Asih sambil mengeluarkan dompetnya.

“Seto mau beli, Mbak,” rengek Seto sambil menarik baju Asih.

Asih menempelkan telunjuknya ke bibir Seto. Tanda Seto harus diam sebentar.

“Kata Ibu, semua keuntungan penjualan hari ini boleh untukku. Keuntungannya 25% = 25/100 x Rp100.000 = Rp25.000.” Asih bergumam lagi sambil berhitung. “Jadi kalau terjual semua, cukup untuk membeli kuluk.”

Tapi masih ada sisa 10 ampyang dan 10 enting-enting di dalam keranjang. Asih menunda membelikan kuluk buat Seto.

“Belum jadi beli, Lik. Uangnya belum cukup,” kata Asih berpamitan.

Asih masih merayu Seto supaya tidak merengek terus, ketika Bu Dhe Nur memanggilnya, “Sih, sini. Bu Dhe beli ampyangnya. Sisa berapa? Enting-entingnya juga sekalian, Bu Dhe beli semua.” Bu Dhe Nur senang melihat Asih yang giat membantu ibunya.

“Jadi berapa semuanya?” tanya Bu Dhe Nur.

“Semua Rp40.000, Bu Dhe,” jawab Asih sambil membungkus semua ampyang dan enting-enting di keranjangnya.

“Oke, sebentar Bu Dhe ambilkan uangnya, ya.”

Ketika menunggu, Asih melihat banyak bulu ayam berserakan di dekat kandang ayam Bu Dhe Nur. Tiba-tiba Asih punya ide.

“Ini, Sih. Sisanya buat jajan Asih dan Seto saja,” kata Bu Dhe Nur sambil memberikan selembar lima puluh ribuan.

“Wah, terima kasih banyak, Bu Dhe,“ sahut Asih berbinar. “Oiya, Bu Dhe, Asih boleh minta bulu-bulu ayam itu?”

“Ambil saja yang banyak,” kata Bu Dhe Nur.

“Terima kasih, Bu Dhe.”

Asih memilih bulu-bulu yang masih bagus dan bersih. Setelah dirasa cukup, Asih segera berpamitan.

“To, kita langsung pulang, ya. Nanti Mbak buatkan kamu sesuatu yang bagus,” ajak Asih.

Seto masih cemberut, tapi menurut ketika Asih menggandengnya pulang.

Sampai di rumah, Asih segera mengambil karton sisa prakaryanya, memotong seukuran kepala Seto. Lalu Asih menempelkan bulu-bulu ayam yang sudah dibersihkan. Berjajar rapi mulai dari pinggir sampai ujung kepala, sampai ke pinggir lagi, begitu seterusnya sampai membentuk mahkota besar yang indah.

Melihat yang dibuat mbaknya, Seto menari-nari kegirangan. “Asyik, Seto punya kuluk.”

Selesai membuat, kuluk dipakaikan di kepala Seto. Pas. Seto senang sekali.

“Tunggu dulu,” kata Asih sambil berlari ke belakang rumah.

Asih mengambil sebuah tong plastik bekas yang sudah dibersihkan, lalu memasangkan tali di sekelilingnya. Jadilah drum kecil. Asih mengalungkannya di pundak Seto, lalu memberinya sepasang kayu sebagai pemukul.

“Yak, Seto si pemain drumblek, dukdurukduruk plek duk, dukdurukduruk plek duk,” ucap Asih.

Sisa hari itu, Seto bermain dengan hati riang.

Ibu ikut senang melihatnya. Asih pun tak kalah senang. Karena adiknya gembira, dan karena keuntungan jualan hari ini bisa ditabungnya.

 


**Selesai**


Rata-rata Nilai Wayan

 


Ulangan Akhir Semester baru saja berakhir. Nilai-nilai hasil ulangan mulai dibagikan.

“Bu, Wayan dapat nilai 90 untuk pelajaran matematika,” kata Wayan.

“Wah, bagus sekali. Ibu lihat kamu juga semangat belajar waktu ulangan matematika kemarin,” puji Ibu bangga.

“Wayan suka matematika soalnya, Bu. Bikin penasaran,” sahut Wayan bersemangat. “Tapi Wayan sebal, seharusnya Wayan bisa dapat nilai sempurna. Sayangnya salah hitung, 5 + 3 malah 15.” Wayan menunjukkan kekecewaan dengan memonyongkan ujung bibirnya.

“Ya sudah, nggak apa-apa. Bagus tahu salahnya di mana. Jadi lain kali harus lebih teliti.” Ibu mengelus pipi anak semata wayangnya dengan lembut.

Wayan menganggukkan kepala. “Siap. Ulangan yang akan datang harus lebih teliti!” seru Wayan mengulang ucapan ibunya.

“Terus selain matematika, ada nilai pelajaran lain yang sudah diumumkan juga?” tanya Ibu.

Wayan cengengesan. “Sudah sebagian, Bu. Tapi nggak sebagus matematika.” Wayan mengeluarkan selembar kertas berisi tabel mata pelajaran dan nilainya.


Pelajaran

Nilai

PKn

75

Bahasa Indonesia

80

Matematika

90

IPA

85

IPS

70

Olahraga

80

“Nggak apa-apa, yang penting kamu sudah berusaha yang terbaik,” kata Ibu yang mengerti kalau Wayan lemah di pelajaran hafalan. “Lalu, berapa nilai rata-rata Wayan sekarang?” Tiba-tiba Ibu bertanya.

“Wah, iya. Bisa tahu nilai rata-rata sementaranya, ya. Sebentar Wayan hitung.” Segera Wayan mengeluarkan pensil dari tasnya. “Semua nilai dijumlah, lalu dibagi banyaknya nilai kan, Bu?”

Ibu mengangguk sambil tersenyum melihat Wayan yang semangat menghitung.

“Nilai rata-rata Wayan 

Wah, ternyata nilai rata-rata Wayan masih ada di atas nilai rata-rata kelas,” kata Wayan setelah selesai menghitung. “Semester depan harus lebih giat lagi, ah. Supaya bisa dapat hasil yang lebih bagus.”

Ibu tersenyum sambil membelai kepala Wayan. “Nah, gitu, dong. Harus jadi lebih semangat belajarnya, ya. Kalau mau berusaha, tidak ada yang sia-sia, kok. Pokoknya semangat aja dulu.”

Wayan memeluk ibunya. Lalu, tiba-tiba,  “Eh, Bu, kok seperti bau hangus, ya.”

“Owalah, tempe goreng ...”

 

**Selesai**

Saturday, November 29, 2025

Rumah-rumahan Buat Seto

 

Beberapa waktu yang lalu saya mengirim sebuah cerpen anak ke Festival Cerita Anak Nusantara yang berjudul “Kuluk Drumblek Buat Seto”. Asih dan Seto adalah dua tokoh anak yang ada di dalam cerita tersebut. Tokoh yang sama dengan Asih – Seto dalam cerita “Rumah-rumahan Buat Seto”, yang dimuat di Nusantara Bertutur, 25 April 2021. ^^

 


“Yang di nampan ini juga dibungkus ya, Bu?” tanya Asih yang disambut anggukan Ibu. Di tangannya ada satu nampan berisi enting-enting gepuk dan ampyang kacang buatan ibunya. Makanan khas Salatiga, Jawa Tengah ini, pesanan Bu Yayuk, kawan Ibu.

Asih selesai memasukkan ampyang terakhir ke dalam plastik, ketika adiknya, Seto, masuk ke dalam rumah sambil menangis.

“Ibu, Seto ingin rumah-rumahan seperti milik Arga. Belikan ya, Bu!” pinta Seto.

“Rumah-rumahan apa, to?” tanya Ibu seraya mengampiri Seto yang masih menangis sesenggukan.

“Itu! Mainan baru Arga,” tunjuk Seto ke arah rumah Arga. “Rumah-rumahan yang untuk piknik. Setinggi ini, jadi Seto bisa bermain dan tidur di dalamnya,” lanjut Seto sambil mengangkat tangan setinggi dadanya.

“Oh, tenda maksudnya, Bu,” sahut Asih. “Yang dijual Pak Badu di pinggir jalan itu.”

Ibu menghela napas panjang, lalu mengelus kepala Seto. “Nanti tunggu Bapak pulang, ya. Kita tanya Bapak dulu,” kata Ibu menenangkan Seto.

Seto mengangguk perlahan. Tangisnya sudah reda, tapi bibirnya masih tampak cemberut.

Ibu tersenyum pada Seto, lalu berdiri dan melanjutkan pekerjaannya. Sinar mata Ibu menunjukkan kemurungan. Asih melihatnya sekilas. Wajah Ibu yang tampak sedih.

Sejak pandemi, Bapak diberhentikan dari pekerjaannya di pabrik sepatu. Beruntung Bapak diajak kawannya untuk menarik ojek. Setiap hari masih mendapat penghasilan, meskipun tidak sebanyak sebelumnya. Ibu yang cukup mahir membuat makanan kecil juga mulai menerima pesanan. Hasilnya lumayan untuk menambah pemasukan.

Bapak dan Ibu mengajari Asih dan Seto untuk berhemat. Barang yang tidak benar-benar diperlukan sebaiknya tidak dibeli. “Pasti nanti Bapak tidak mengizinkan Seto membeli tenda seperti milik Arga. Mahal harganya,” batin Asih.

Tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepala Asih. Dia segera mengampiri Seto dan mengajaknya ke kamar Ibu. Mengambil beberapa kain dan selimut tipis, lalu membawanya ke ruang tengah.

“Kain dan selimut ini buat apa, Mbak?” tanya Seto.

“Ayo, kita buat rumah-rumahan yang besar. Yang bisa buat main dan tidur Seto,” ajak Asih.

Mata Seto langsung berbinar senang. Dia dengan girang membantu menyiapkan segala yang dibutuhkan untuk membuat rumah-rumahannya. Ibu yang awalnya tampak kebingungan pun ikut senang. Berusaha membantu jika Asih dan Seto membutuhkan.

Tak berapa lama kemudian, di ruang tengah, tampak sebuah rumah-rumahan milik Seto. Bagian bawah meja makan yang cukup luas ditutup kain melingkar. Kanan kirinya dibatasi kursi kayu. Satu bagian dibiarkan agak terbuka untuk pintu. Di lantainya diberi tikar, lalu dilapisi karpet. Seto membawa bantal gulingnya ke dalam rumah-rumahan. Siang itu, dia ingin bermain dan tidur di rumahnya.

Sebelum beranjak tidur, Seto memeluk Asih dan berkata, “Terima kasih, Mbak. Rumahku bagus.”

 


**SELESAI**

Butuh Membeli Berapa Gulung?

  


Nek Suli suka membuat kerajinan macrame. Dengan bahan tali kur, Nek Suli membuat simpul-simpul dari mulai yang sederhana sampai simpul rumit untuk menciptakan pola dan desain yang cantik dan menarik. Hasil kerajinan macrame Nek Suli bermacam-macam, mulai dari kantong koin kecil, tempat botol minum, sampai tas dengan berbagai ukuran.

Karena hasil kerajinan macrame Nek Suli rapi dan cantik, banyak yang memesan minta dibuatkan.

“Nenek sedang apa? Sibuk sekali kelihatannya,” sapa Nia ketika melihat neneknya sibuk mencari-cari sesuatu.

Menyadari kedatangan cucu kesayangannya, Nek Suli berhenti membongkar stok tali kur di lemarinya. “Ada yang memesan tas macrame. Tapi stok tali dengan warna yang diminta habis.”

“Nia mau ke Toko Satria membeli bahan prakarya untuk sekolah besok. Kalau Nenek mau, bisa sekalian Nia belikan.” Nia menawarkan bantuannya.

“Wah, kebetulan sekali,” sahut Nenek berbinar. “Sebentar Nenek hitung dulu, ya. Butuh membeli berapa gulung tali.”


Nia mengikuti Nenek ke meja kerjanya. Nenek mengambil selembar kertas dan sebuah bolpoin lalu mulai menulis.

“Untuk membuat satu tas bercorak batik butuh dua warna tali. Kali ini warnanya abu-abu dan biru tua. Nantinya tiap warna akan dipotong sepanjang 175 cm sebanyak 30 potong.”

Nia ikut mengambil selembar kertas dan pensil.

“Tali warna abu-abu 30 x 175 cm = 5.250 cm. Tali warna biru tua 30 x 175 cm = 5.250 cm. Lalu satu gulung panjangnya berapa meter, Nek?” Nia membantu Nenek menghitung tali yang akan dibeli.

“Satu gulung panjangnya 15 meter. Jadi harus beli berapa gulung?” Nenek bertanya pada Nia.

“Tali warna abu-abu butuh 5250 cm = 52,5 meter. Satu gulung 15 meter. Jadi 52,5 : 15 = 3,5 gulung tali. Karena tidak boleh membeli setengah gulung, maka harus membeli 4 gulung.” Nia menjelaskan pada Nenek. “Karena panjang tali warna biru tua juga jumlahnya sama, maka butuh membeli 4 gulung juga.”

“Wah, cepat juga hitungan cucu nenek!” tukas Nenek bangga. “Ini Nenek bawakan uang Rp100.000. Kalau tidak salah harga satu gulung tali Rp9.000.” Nenek memberikan selembar uang seratus ribuan.

“Oke, Nek. Kalau begitu nanti kembalinya 100.000 – (8 x 9.000) = 100.000 – 72.000 = 28.000. Rp28.000 ya, Nek.” seru Nia sambil melambaikan tangan di depan pintu.

“Iya betul. Uang kembaliannya boleh untuk membeli es krim. Jangan lupa belikan Nenek juga, ya!” seru Nenek sambil tertawa.

 

**Selesai**

Saturday, October 18, 2025

Merry Christine Rumainum: Ruang Bermain dan Belajar Untuk Anak-Anak Papua

  

Saya salah satu ibu yang beruntung, karena berhasil melewati fase belajar membaca anak-anak tanpa ada kendala yang berarti. Bukan berarti saya ibu yang pandai dan sabar mengajari anak-anak membaca pada usia dini, tapi kebetulan saja saya mengenal literasi cukup awal, sehingga saya bisa memanfaatkannya untuk membuat anak-anak bisa membaca tanpa paksaan.

Anak-anak suka ketika saya bercerita. Cerita yang lucu, yang seru, atau yang menegangkan. Awalnya saya mengarang-ngarang saja, sesuai kebutuhan, tapi ketika sudah tidak ada bahan cerita, mulailah saya merasa harus punya banyak buku bacaan untuk anak seusia mereka. Saya berusaha memilihkan buku anak dengan bahasa dan cerita yang kaya. Anak-anak suka. Dan entah berapa lama kami membaca bersama, tahu-tahu anak-anak sudah bisa membaca sendiri. Momen itu benar-benar saya nikmati, merasa amazing ketika mereka bisa selesai membaca sendiri satu buku sederhana. Lalu berlanjut ke buku level berikutnya, lalu level yang lebih tinggi lagi (baca: tebal dan tanpa gambar).

Saya menyadari bahwa saya berhutang banyak pada dunia literasi. Karena itulah, meski saya bukan orang yang sangat giat bergerak di dunia literasi, setidaknya saya menyenanginya.

Mengenal sosok Merry Christine Rumainum, meski cuma lewat media sosial, membuat saya kagum, betapa besar kontribusi yang sudah diberikannya untuk pergerakan literasi. Baik dalam perkembangan sastra di Papua Barat, maupun kepeduliannya pada anak-anak Papua yang membutuhkan ruang untuk bermain dan belajar dalam perkembangannya.   



Merry Christine Rumainum, Sang Penyulam Kata

“Sastra adalah rumah bagi pikir menemukan dirinya dalam untaian kata tentang rindu yang meredam jejak kenangan bahkan harapan yang tak pernah padam serta rasa yang menghidupkan setiap sudut kota.”

Adalah salah satu kutipan yang disuarakan Merry Christine Rumainum. Sang Penyulam Kata, demikian kemudian Merry disebut. Gadis bermata sendu dan berambut ikal yang sebentar lagi berusia 34 tahun itu adalah seorang penulis dan penggiat seni yang berasal dari Papua Barat. Tentu saja sebutan itu tidak muncul begitu saja. Aktivitasnya dalam dunia literasi yang sudah berlangsung sejak tahun 2016 telah menelurkan beberapa buku antologi dan buku mandiri.

Kecintaan dan kepeduliannya pada pergerakan literasi Papua Barat memantiknya untuk mendirikan Perkumpulan Sastra Papua Senja, atau sering disebut SAPASE.


Tentang Perkumpulan Sastra Papua Senja

“Generasi muda setempat memiliki potensi untuk berkarya dalam dunia sastra, sayangnya masih kekurangan wadah untuk mengembangkannya,” kata Merry sebagai Ketua Komunitas SAPASE.

Karena itu, melalui berbagai kegiatan yang menjadi program SAPASE, Merry mengharapkan untuk ke depannya hasil karya sastra anak-anak muda Papua tersebut, baik puisi, cerita, atau karya lainnya, dapat menembus skala nasional. Bisa diterima dan diterbitkan oleh penerbit-penerbit mayor di Indonesia.

Beberapa program kegiatan SAPASE diantaranya adalah pementasan sastra dan seni, lomba menulis sastra dan seni, diskusi sastra dan seni, dan berbagai kegiatan lain yang berhubungan dengan hal tersebut. Menjadi kebanggaan tersendiri ketika kemudian berhasil dibuat sebuah film animasi tiga dimensi “Tom dan Regi”.

Dan belum lama ini, Komunitas Sastra Papua Senja berkolaborasi dengan Kemendikbudristek mengadakan Festival Pesta Menulis dan Pesta Perasaan, yang merupakan keberlanjutan program sebelumnya, yaitu pembuatan film animasi tiga dimensi “Tom dan Regi” untuk anak-anak kecil.

 


Selain program tersebut adalah Sastra Tanah Kasuari. Sebagai salah satu program unggulan dari Perkumpulan Sastra Papua Senja untuk membuka ruang diskusi sastra dan apresiasi sastra atau Alih Wahana Sastra bagi karya-karya sastra Papua dan Sastra terbaik Indonesia, program ini juga bertujuan untuk mempromosikan sastra Papua Barat, khususnya Manokwari, serta membangun ekosistem sastra yang kuat di Papua barat. Kegiatan ini didukung oleh Kementrian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Penguatan Komunitas tahun 2025.

 


Untuk Anak-Anak Papua yang Kekurangan Ruang Bermain dan Belajar

Suatu hari dalam sebuah acara bincang-bincang, Merry berkata, “Perempuan itu berkontribusi untuk membangun tanah Papua. Pintu masuknya adalah pendidikan. Mulailah dari rumahnya sendiri, mulailah dari hidupmu sendiri. Membangun tanah Papua itu, kita tidak perlu menjadi hebat, tetapi kita bisa menjadi perempuan-perempuan yang berpengaruh. Berpengaruh yang bagaimana? Kita bisa berpengaruh dengan apa yang kita miliki, yang sudah diberikan Tuhan pada kita.”

Gadis manis sastrawan Papua Barat itu menjadi duta baca Papua Barat tahun 2018-2020. Sebagai lulusan S1-Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Papua, yang sempat menjadi dosen, melihat banyaknya anak Papua yang tidak mendapatkan ruang untuk bermain dan belajar, Merry yang saat itu berumur 27 tahun berinisiatif membuat Pondok Baca Senja Papua Cerdas.

 


Aktivitas di Pondok Baca Senja Papua Cerdas cukup bervariasi. Dari Selasa sampai dengan Jumat Cerdas, anak-anak akan belajar membaca, menulis, berhitung, menggambar, belajar bahasa Inggris, bahkan ada pembelajaran karakter. Lalu kegiatan dalam seminggu itu akan diakhiri dengan Sabtu Kreatif.

 


Para pengajar yang memberi pembelajaran pun datang dari berbagai komunitas dan mahasiswa. Mereka dengan senang hati memberikan bantuan dalam menjalankan aktivitas-aktivitas dan program Pondok Baca Senja Papua Cerdas.


Anak-anak Papua yang memang sangat membutuhkan ruang bermain dan belajar menyambut dengan sangat gembira adanya Pondok Baca Senja Papua Cerdas. Mereka mengikuti berbagai kegiatan dengan penuh semangat dan hati gembira. 


Selanjutnya kiprah dan kepedulian Merry Christine Rumainum sebagai founder Pondok Baca Senja Papua Cerdas ini membawanya menjadi salah satu penerima Apresiasi SATU Indonesia Award Provinsi Papua Barat tahun 2024 di bidang Pendidikan, dengan judul kegiatannya: Literasi Papua Cerdas Pondok Baca Senja Papua Cerdas.


 

Sumber:

Tuesday, October 7, 2025

Tebak Usia

  

Persamaan Linear Tiga Variabel adalah persamaan matematis yang terdiri dari tiga variabel berpangkat satu yang saling terkait. Bentuk umumnya adalah ax + by + cz = d, dengan a, b, c adalah koefisiennya, sedangkan x, y, z adalah variabelnya, dan d adalah konstanta. Beberapa kumpulan persamaan linear tiga variabel disebut Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel (SPLTV). SPLTV ini digunakan untuk mencari nilai-nilai dari variabel x, y, dan z yang memenuhi semua persamaan dalam sistem tersebut.

 



Hari ini sedang ada acara Kumpul Keluarga di rumah Oma-Opa. Ternyata ramai sekali kalau semua bisa datang.

Ella, Atha, dan Om Didi sedang bermain bersama Dek Aoki ketika Nino datang ikut bergabung. Cukup lama mereka tertawa-tawa melihat tingkah Aoki, sampai akhirnya Aoki tiba-tiba menangis. Berempat mereka kebingungan, lalu datanglah Tante Dian.

“Sini Aoki, makan dulu lalu bobok, ya,” kata Tante Dian sambil menggendong Aoki.

“Oh, lapar ternyata,” tukas mereka berempat hampir bersamaan.

“Ayo sambil dimakan jajanannya.” Tiba-tiba Oma muncul dari kamarnya, lalu mendekati mereka berempat. “Oiya, dua hari lalu ada yang ulang tahun, nih.” Oma tersenyum sambil memberi selamat pada Ella dan Atha.

“Oiya, betul!” Nino menyahut sambil ikut memberi salam. “Terus sekarang umur berapa?” tanya Nino.

“Hehehe, kira-kira umur berapa, ya? Coba tebak,” sahut Ella iseng.

“Eh, daripada cuma tebak-tebakan, Om kasih soal cerita matematika aja,” kata Om Didi tiba-tiba.

“Apaan, Om. Masa acara kumpul-kumpul juga dikasih soal cerita matematika. Kayak di sekolah aja,” keluh Nino sambil cemberut.

“Yah, buat asyik-asyikan aja. Nanti kalau berhasil jawab, Om kasih hadiah, deh,” kata Om Didi.

Mendengar kata hadiah, tiba-tiba Nino bersemangat. “Oke, baik, Om. Tapi boleh kerja sama, ya. Meski Kak Ella dan Kak Atha sudah tahu jawabannya,” jawab Nino menawar.

“Bolehlah, bolehlah,” sahut Om Didi. Om Didi berpikir sebentar, lalu mulai memberi pertanyaan. “Lima tahun yang lalu jumlah usia Ella, Atha, dan Om Didi adalah 53 tahun. Tahun ini, usia Om Didi 17 tahun lebihnya dari usia Atha, sedangkan jumlah usia Ella dan Om Didi adalah 51 tahun. Jika sekarang tahun 2025, maka berapa usia Ella dan Atha sekarang?”

Ella segera minta selembar kertas dan bolpoin ke Oma, lalu bertiga dengan Atha dan Nino berdiskusi, berusaha menggarap soal cerita dari Om Didi.

E = Ella; A = Atha; Om = Om Didi

Tahun 2020 : E + A + Om = 53

Tahun 2025 : E + A + Om = 53 + (3 x 5)

   E + A + Om = 68 à persamaan 1

   Om = A + 17 à persamaan 2

   E + Om = 51 à persamaan 3

 

Substitusi persamaan 2 ke persamaan 1 :

E + A + Om = 68

ó E + A + (A + 17) = 68

ó E + 2 A + 17 = 68

ó E + 2 A = 68 – 17  

ó E + 2 A = 51 à persamaan 4

 

Substitusi persamaan 2 ke persamaan 3 :

E + Om = 51

ó E + (A + 17) = 51

ó E + A = 51 – 17

ó E + A = 34 à persamaan 5

 

Eliminasi persamaan 4 dan 5 :

E + 2 A = 51

E + A    = 34

___________ _

       A   = 17

 

Substitusi nilai A ke persamaan 5 :

E + A = 34

ó E + 17 = 34

ó E = 34 – 17 = 17

 

Tak lama kemudian, Nino menunjukkan hasil hitungan tersebut ke Om Didi. “Jadi sekarang umur Kak Ella 17 tahun dan umur Kak Atha 17 tahun juga.”

“Kok sama, ya?” tanya Om Didi.

“Ya iyalah, kembar!” seru Ella, Atha, dan Nino bersamaan.

Om Didi tertawa sambil mengeluarkan tiga lembar uang berwarna biru.

“Wah, asyik! Makasih ya, Om. Sering main tebak-tebakan sama Om Didi bisa kaya nih, kita,” gurau Atha yang disambut gelak tawa Om Didi.

 

**SELESAI**

Happy Sweet Seventeen, Dear Ella-Atha. Love youuuu banyak-banyak..

Kuluk Drumblek Buat Seto

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti Lomba Menulis Festival Cerita Anak Nusantara. Saya memilih tema kesenian tradisional Salatiga, drumblek,...