Search This Blog

> Belajar Matematika dan Sains Menyenangkan

Tuesday, March 31, 2026

Tumpukan Setrikaan yang Menggunung

 


Liburan sudah selesai, besok sudah masuk sekolah. Mia menemani Ibu yang sedang menata meja untuk alas menyetrika. Seminggu ditinggal mudik, tumpukan pakaian sudah segunung. Karena butuh seragam yang rapi, mau tidak mau, Ibu harus menyetrika.

Dengan cekatan Ibu menyetrika satu per satu seragam sekolah Mia. Lalu baju kerja Ayah, lalu seragam Adik. Seragam Mia lagi, baju Ayah, daster Ibu, lalu celana Adik. Diulang-ulang, agak membosankan. Mia menguap. Setelah membetulkan posisi duduknya, Mia sekarang mengamati gerakan tangan Ibu.

“Mulai dari kerahnya, kemudian sisi yang ada sakunya, kemudian sisi lainnya. Dibalik, dikancingkan, lalu setrika bagian belakangnya. Kalau sudah licin, dilipat dengan rapi.” Sambil memperhatikan Ibu, Mia bergumam mengulangi langkah menyetrika yang dilakukan Ibu.

Ibu tersenyum melihat Mia. Sesekali Mia diajari menyetrika, tapi tetap sambil diawasi, karena terkadang Mia masih meletakkan sisi panas setrika terlalu lama. Setelah bosan belajar menyetrika, Mia kembali duduk manis di sebelah Ibu.

Mia mengamati sambil sesekali mengernyitkan dahinya. “Untuk menyetrika satu baju, kira-kira Ibu membutuhkan waktu 1 menit 30 detik.”

”Oya, sempat juga Mia menghitung,” sahut Ibu.

Mia menjawab sahutan Ibu dengan tersenyum. Dia masih mengagumi tangan Ibu yang terus bergerak cekatan meski sambil berbicara dan memandang ke arahnya.

“Oiya, karena nanti jam 4.10 Ibu ada arisan, Ibu harus selesai menyetrika jam 4.00. Kira-kira Ibu bisa menyelesaikan berapa potong baju?” tanya Ibu tiba-tiba.

Mia melirik tumpukan pakaian yang menuggu untuk disetrika, lalu melihat ke arah jam dinding. Jam menunjukkan pukul dua.

“Sekarang jam 2.00. Kalau Ibu hanya bisa menyetrika sampai jam 4.00, maka Ibu punya waktu 2 jam saja. Karena untuk menyetrika satu baju kira-kira butuh 1 menit 30 detik, maka…

Waktu menyetrika = 2 jam = 2 x 60 x 60 = 7200 detik.

Satu baju = 1 menit 30 detik = 90 detik.

Maka baju yang mungkin disetrika Ibu = 7200 : 90 = 80 potong baju.” Mia menjelaskan sambil memainkan jari-jari untuk membantunya berhitung.

“Wah lumayan banyak. Bisa selesai menyetrika hari ini, nih,” kata Ibu.

“Dengan tangan Ibu yang cekatan pasti bisa, Bu. Mia bantu sambil nonton Doraemon, ya.” Sambil tersenyum menggoda Mia beranjak menyalakan televisi.

 

*Selesai*


Monday, March 30, 2026

Ember Kuning Yangti

 



Lebaran kemarin Sunu menginap di rumah Yangti, di Payaman, Magelang. Hampir semua paman, bibi dan keluarganya datang menginap. Tradisi keluarga setiap hari raya. Tak ada kamar tak apa, yang penting semua ramai berkumpul. Anak-anak kecil akan menggelar kasur berjejer-jejer di depan televisi dan tidur seperti pindang. Orang-orang dewasa akan mengobrol sampai malam. Hangat sekali.

Sunu, Nurul, Remi, dan Dani adalah sepupu seumuran. Sama-sama kelas lima SD, hanya selisih dua sampai lima bulan saja umurnya. Karena itulah setiap kali berkumpul selalu sangat ramai mereka berempat.

“Dani aja yang manjat, jangan kamu. Mosok cewek polah-nya kayak cowok,” tegur Remi ketika Nurul mau memanjat pohon jambu di halaman rumah Yangti.

“Ah, aku bisa, kok. Zaman sekarang nggak boleh ngeremehin cewek, ya!” balas Nurul sambil cemberut. Sebelah kakinya sudah siap di batang pohon.

“Sudah! Kalau Nurul bisa, ya nggak apa,” sahut Dani. “Aku mau diambilkan yang sudah kekuningan itu, ya!” Dani menunjuk sebuah jambu yang kelihatan sudah matang.

Langsung dengan sigap Nurul memanjat dan mengambilkan jambu yang diminta Dani. “Tuh, kan. Gampang!” seru Nurul sambil melemparkan jambu ke arah Dani.

“Oh, maaf sudah meremehkan. Ternyata kamu jago banget,” kata Remi. “Kalau gitu ambilkan aku juga, ya!” Dari bawah Remi berteriak yang disambut acungan jempol Nurul.

Tak lama kemudian, datang Sunu membawa sebuah keranjang kosong. “Ini untuk tempat jambunya. Kata Yangti, selesai panen jambu, kita disuruh bantuin menimba air untuk mandi bocil-bocil.”

Keranjang sudah penuh dengan jambu yang sudah matang. Sunu dan Dani sudah ada di depan sumur, sedangkan Nurul dan Remi mengambil sebuah ember kuning besar dari kamar mandi.

Semua sudah terbiasa, di rumah Yangti kalau mau mandi harus mengisi ember kuning besar. Air diambil dari sumur di belakang rumah. Yang menimba dari sumur harus orang dewasa, sedang anak-anak yang sudah bisa berhati-hati akan ikut membantu sambil bermain air. Seru sekali.

Sore itu Sunu sengaja membawa sebuah meteran dari kotak perkakas Bapak. Dia penasaran ingin mengukur ember kuning besar milik Yangti.

Ketika Nurul dan Remi datang, Sunu mulai mengukur. “Ember kuning Yangti berbentuk tabung dengan diameter 70 cm dan tinggi 80 cm. Sedangkan air dari sumur diambil menggunakan ember kecil yang berdiameter 35 cm dan tinggi 40 cm. Butuh berapa kali menimba air dari sumur untuk memenuhi ember kuning Yangti?” tanya Sunu.

“Kita harus penuhin dululah, baru bisa kita jawab,” sahut Dani.

“Jangan diisi dulu! Coba tebak saja butuh berapa ember kecil! Atau ada yang bisa menghitung dengan tepat? Nanti Paman kasih coklat.” Tiba-tiba Paman Doli sudah ada di belakang mereka.

“Enam kali,” teriak Remi.

“Lima kali kayaknya cukup,” jawab Nurul.

“Enam setengah,” kata Dani.

“Oke. Dikunci jawabannya. Sunu?” tanya Paman Doli ketika melihat Sunu komat-kamit sendiri di pinggir sumur.

“Ehm, delapan,” sahut Sunu.

“Oke. Ada yang punya alasan buat jawabannya?” Paman Doli bertanya lagi.

Nurul, Remi, dan Dani saling berpandangan, lalu menggelengkan kepala bersamaan.

“Aku pake hitungan matematika, Paman,” sahut Sunu bersiap menjelaskan.

“Oke, baik. Mari kita dengarkan apa kata Sunu,” kata Paman Doli dengan nada seperti reporter televisi.

“Ember kuning diameternya 70 cm, maka jari-jari r = 35 cm; tinggi t = 80 cm; p = 22/7.

Volume ember kuning = p x r2 x t = 22/7 x 35 x 35 x 80 = 308.000 cm3.

Ember sumur diameternya 35 cm; t = 40 cm.

Volume ember sumur = ¼ x p x d2 x t = ¼ x 22/7 x 35 x 35 x 40 = 38.500 cm3.

Untuk memenuhi ember kuning Yangti, maka harus mengambil air dari sumur sebanyak = 308.000 : 38.500 = 8 kali,” jelas Sunu.

“Wah, keren banget liburan tapi masih belajar matematika,” celetuk Dani sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Emang kamu, libur ato enggak, nggak pernah kepikiran matematika,” tukas Nurul yang disambut gelak tawa yang lainnya.

“Baiklah, memang benar jawabnya delapan kali. Dan seperti yang dijelaskan Sunu, bisa pakai rumus volume tabung untuk menghitungnya. Nah, karena tepat menjawab, Sunu dapat tiga coklat, sementara yang lain tetap dapat dua coklat.” Paman Doli mulai membagikan coklat dari kantongnya.

“Ember kuning Yangti sudah penuh, belum? Bocil-bocil sudah nungguin, nih!” teriak Bibi Titi dari dalam kamar mandi.

“Ah, iyaaaaa…” Bersamaan Paman Doli dan keempat keponakannya berteriak panik. Sambil cekikikan mereka segera menimba dan mengisi ember kuning Yangti.

 

*Selesai*


Tumpukan Setrikaan yang Menggunung

  Liburan sudah selesai, besok sudah masuk sekolah. Mia menemani Ibu yang sedang menata meja untuk alas menyetrika. Seminggu ditinggal mudik...