Search This Blog

> Belajar Matematika dan Sains Menyenangkan

Thursday, January 29, 2026

Kapan Mengembalikan Selendang Sindhu?

 

Gubrak… Mayang menabrak kursi di ruang tamu.

“Ada apa sih, May? Kok buru-buru?” tegur Mbak Laras.

“Waduh, aku lupa, Mbak. Hari ini ada latihan tambahan dari Pak Seno, buat pertunjukan wayang orang bulan depan. Sepuluh menit lagi aku harus sudah di sanggar,” sahut Mayang panik.

Mayang segera menyambar tas yang biasa dibawanya ke sanggar, berlari cepat ke luar, lalu mengambil sepedanya yang diparkir sembarangan di depan rumah.

“Berangkat dulu, Mbak. Tolong pamitkan Ibu, ya!” seru Mayang tergesa mengayuh sepedanya.

Sampai di sanggar, tepat lima menit latihan akan dimulai. Pak Seno sudah mulai mempersiapkan tembang-tembang pengiring latihan. Sembilan anak lainnya sedang bersiap memakai jarik, kemben dan selendang.

Mayang membuka tas dan mengeluarkan perlengkapan menarinya. Dengan cekatan Mayang segera memakai jarik dan kemben. Setelah selesai, lalu membongkar tas lagi.

“Ya ampun, di mana selendangku?” Mayang mengeluarkan semua isi tas, tapi tetap saja selendangnya tidak ketemu. “Duh, kemarin kan kucuci!”

Dia ingat Pak Seno sudah mewanti-wanti, tidak boleh lupa perlengkapannya masing-masing. Semua anak harus belajar mandiri, mempersiapkan keperluannya sendiri.

Wajah Mayang mulai memerah karena menahan tangis. Dia sedang memberanikan diri untuk meminjam selendang pada Pak Seno, ketika tiba-tiba seorang anak mencolek lengannya.

Mayang menengok, dilihatnya seorang anak perempuan mengulurkan sebuah selendang putih bermotif batik jumputan. Dia menunjuk juga ke selendang kuning yang sudah dipakainya.

“Ah, dia membawa dua selendang,” pikir Mayang. Seperti mendapat durian runtuh, Mayang langsung menerima selendang putih dari tangan anak itu. “Terima kasih,” sahutnya.

Anak perempuan itu mengangguk sambil tersenyum.

Pak Seno memberi kode untuk memulai latihan. Semua anak bersiap di posisinya masing-masing.

Mayang lega sekali. Dia menari dengan gembira. “Setelah ini, aku akan berkenalan dengannya,” batin Mayang tak sabar.

Satu jam berlatih, saatnya istirahat. Mayang mencari-cari anak perempuan itu. “Ah, itu dia!”

Ketika didekati, ternyata dia sedang berdiskusi dengan Pak Seno. Kelihatan sangat serius sampai mereka berdua menggunakan kedua tangan untuk berbicara. Tak lama kemudian Pak Seno mencontohkan beberapa gerakan, lalu anak itu menirukan dengan luwes dan indah. Mayang tak enak kalau menyela.

“Oke, waktu istirahat selesai!” seru Pak Seno.

Sebelum latihan dimulai, Pak Seno mengenalkan anak perempuan itu.

Namanya Sindhu. Pindahan dari Wonosobo. Ternyata Sindhu sudah sering menang kejuaraan tari, karena itulah gerakannya sangat luwes dan indah. Dia akan ikut dalam pertunjukan wayang orang bulan depan. Yang lebih mencengangkan lagi, Sindhu adalah seorang tunarungu. Pendengarannya memang kurang sempurna, tapi dari sayup-sayup iringan yang mampu didengarnya, dia bisa menarikan banyak tarian dengan sempurna.

“Karena Sindhu juga harus berlatih di sekolahnya, dia akan datang latihan di sanggar setiap tiga hari sekali. Sedangkan kalian seperti biasa tetap latihan dua hari sekali, sampai hari pertunjukan tiba. Semua bersemangat, ya!” seru Pak Seno yang disambut dengan sorakan anak-anak.

Pak Seno mengakhiri latihan ketika jam tua di sanggarnya berdentang lima kali. Suara tembang iring-iringan sudah terdengar lirih, ketika Mayang selesai membereskan perlengkapannya. Sudut matanya mencari-cari Sindhu. Dia hendak mengembalikan selendang yang dipinjamkan kepadanya. Tapi, Sindhu tidak kelihatan.

“Pak Seno, Sindhu di mana, ya?” tanya Mayang pada Pak Seno.

“Oh, baru saja pamit pulang. Katanya sudah ditunggu Bapaknya,” jawab Pak Seno.

“Lho, kok sudah pulang?” gumam Mayang.

“Kenapa memangnya?” tanya Pak Seno.

Mayang takut kalau mengaku mau mengembalikan selendang Sindhu, jadi dia bilang hanya ingin berkenalan. Dan Pak Seno juga belum tahu di mana rumahnya.

“Ya sudah kalau begitu. Latihan selanjutnya saja kukembalikan,” batin Mayang. 

***

Tapi, latihan berikutnya tak ada Sindhu. Mayang baru ingat kalau Sindhu ke sanggar tiap tiga hari sekali.

“Lalu kapan ketemu lagi? Kelamaan meminjam jadi nggak enak.” Mayang bercerita ke Mbak Laras.

“Kamu sudah pernah belajar Kelipatan Persekutuan Terkecil atau KPK?” tanya Mbak Laras.

“Oiya, aku tahu,” sahut Mayang. “Ada soal cerita yang persis seperti kisahku. Aku latihan setiap 2 hari sekali dan Sindhu latihan setiap 3 hari sekali. Jika kami bertemu hari Kamis, 6 Juli, kapan kami bertemu lagi?”

“Jadi jawabnya?” pancing Mbak Laras.

“Faktorisasi prima dari 2 adalah 2. Faktorisasi prima dari 3 adalah 3. Lalu KPKnya = 2 x 3 = 6. Artinya, 6 hari lagi setelah 6 Juli. Jadi, aku dan Sindhu akan bertemu lagi hari Rabu, 12 Juli,” jawab Mayang. “Betul kan, Mbak?”

“Yak, betul!” jawab Mbak Laras sambil mengacungkan ibu jarinya. 

***

Hari Rabu, 12 Juli, Mayang datang latihan awal. Dia senang sekali ketika Sindhu terlihat memasuki halaman sanggar. Mayang segera menyambutnya dengan sukacita. Dia juga sudah belajar sedikit tentang bahasa isyarat, supaya Sindhu mengerti apa yang akan dikatakannya.

“Terima kasih untuk selendang yang sudah kaupinjamkan. Maaf karena lama mengembalikan,” kata Mayang menggunakan bahasa isyarat yang sudah dilatihnya.

Berdua mereka segera menjadi akrab. Kendala bahasa tidak menjadi halangan mereka untuk berteman.

Dan yang lebih mengembirakan lagi, ternyata rumah Sindhu sangat dekat dengan rumah Mayang. Hanya berjarak dua rumah dan satu kebun saja.

“Owalah, tahu begitu dari kemarin selendang Sindhu kuantarkan langsung ke rumahnya sajaaaa…!” 

**SELESAI**


*cerpen ini disunting sedikit, sudah pernah dimuat di buku antologi berjudul "Kebun Bunga Opa dan Cerita Seru Lainnya", Penerbit Forsen Books, Maret 2024.

Kapan Mengembalikan Selendang Sindhu?

  Gubrak… Mayang menabrak kursi di ruang tamu. “Ada apa sih, May? Kok buru-buru?” tegur Mbak Laras. “Waduh, aku lupa, Mbak. Hari ini ada...