Gubrak…
Mayang menabrak kursi di ruang tamu.
“Ada
apa sih, May? Kok buru-buru?” tegur Mbak Laras.
“Waduh,
aku lupa, Mbak. Hari ini ada latihan tambahan dari Pak Seno, buat pertunjukan
wayang orang bulan depan. Sepuluh menit lagi aku harus sudah di sanggar,” sahut
Mayang panik.
Mayang
segera menyambar tas yang biasa dibawanya ke sanggar, berlari cepat ke luar,
lalu mengambil sepedanya yang diparkir sembarangan di depan rumah.
“Berangkat
dulu, Mbak. Tolong pamitkan Ibu, ya!” seru Mayang tergesa mengayuh sepedanya.
Sampai
di sanggar, tepat lima menit latihan akan dimulai. Pak Seno sudah mulai
mempersiapkan tembang-tembang pengiring latihan. Sembilan anak lainnya sedang
bersiap memakai jarik, kemben dan selendang.
Mayang
membuka tas dan mengeluarkan perlengkapan menarinya. Dengan cekatan Mayang
segera memakai jarik dan kemben. Setelah selesai, lalu membongkar tas lagi.
“Ya
ampun, di mana selendangku?” Mayang mengeluarkan semua isi tas, tapi tetap saja
selendangnya tidak ketemu. “Duh, kemarin kan kucuci!”
Dia
ingat Pak Seno sudah mewanti-wanti, tidak boleh lupa perlengkapannya
masing-masing. Semua anak harus belajar mandiri, mempersiapkan keperluannya sendiri.
Wajah
Mayang mulai memerah karena menahan tangis. Dia sedang memberanikan diri untuk
meminjam selendang pada Pak Seno, ketika tiba-tiba seorang anak mencolek lengannya.
Mayang
menengok, dilihatnya seorang anak perempuan mengulurkan sebuah selendang putih bermotif
batik jumputan. Dia menunjuk juga ke selendang kuning yang sudah dipakainya.
“Ah,
dia membawa dua selendang,” pikir Mayang. Seperti mendapat durian runtuh,
Mayang langsung menerima selendang putih dari tangan anak itu. “Terima kasih,”
sahutnya.
Anak
perempuan itu mengangguk sambil tersenyum.
Pak
Seno memberi kode untuk memulai latihan. Semua anak bersiap di posisinya
masing-masing.
Mayang
lega sekali. Dia menari dengan gembira. “Setelah ini, aku akan berkenalan
dengannya,” batin Mayang tak sabar.
Satu
jam berlatih, saatnya istirahat. Mayang mencari-cari anak perempuan itu. “Ah,
itu dia!”
Ketika
didekati, ternyata dia sedang berdiskusi dengan Pak Seno. Kelihatan sangat
serius sampai mereka berdua menggunakan kedua tangan untuk berbicara. Tak lama
kemudian Pak Seno mencontohkan beberapa gerakan, lalu anak itu menirukan dengan
luwes dan indah. Mayang tak enak kalau menyela.
“Oke,
waktu istirahat selesai!” seru Pak Seno.
Sebelum
latihan dimulai, Pak Seno mengenalkan anak perempuan itu.
Namanya
Sindhu. Pindahan dari Wonosobo. Ternyata Sindhu sudah sering menang kejuaraan tari,
karena itulah gerakannya sangat luwes dan indah. Dia akan ikut dalam
pertunjukan wayang orang bulan depan. Yang lebih mencengangkan lagi, Sindhu adalah
seorang tunarungu. Pendengarannya memang kurang sempurna, tapi dari sayup-sayup
iringan yang mampu didengarnya, dia bisa menarikan banyak tarian dengan
sempurna.
“Karena
Sindhu juga harus berlatih di sekolahnya, dia akan datang latihan di sanggar setiap
tiga hari sekali. Sedangkan kalian seperti biasa tetap latihan dua hari sekali,
sampai hari pertunjukan tiba. Semua bersemangat, ya!” seru Pak Seno yang
disambut dengan sorakan anak-anak.
Pak
Seno mengakhiri latihan ketika jam tua di sanggarnya berdentang lima kali.
Suara tembang iring-iringan sudah terdengar lirih, ketika Mayang selesai
membereskan perlengkapannya. Sudut matanya mencari-cari Sindhu. Dia hendak
mengembalikan selendang yang dipinjamkan kepadanya. Tapi, Sindhu tidak
kelihatan.
“Pak
Seno, Sindhu di mana, ya?” tanya Mayang pada Pak Seno.
“Oh,
baru saja pamit pulang. Katanya sudah ditunggu Bapaknya,” jawab Pak Seno.
“Lho,
kok sudah pulang?” gumam Mayang.
“Kenapa
memangnya?” tanya Pak Seno.
Mayang
takut kalau mengaku mau mengembalikan selendang Sindhu, jadi dia bilang hanya
ingin berkenalan. Dan Pak Seno juga belum tahu di mana rumahnya.
“Ya sudah kalau begitu. Latihan selanjutnya saja kukembalikan,” batin Mayang.
***
Tapi,
latihan berikutnya tak ada Sindhu. Mayang baru ingat kalau Sindhu ke sanggar
tiap tiga hari sekali.
“Lalu
kapan ketemu lagi? Kelamaan meminjam jadi nggak enak.” Mayang bercerita ke Mbak
Laras.
“Kamu
sudah pernah belajar Kelipatan Persekutuan Terkecil atau KPK?” tanya Mbak Laras.
“Oiya,
aku tahu,” sahut Mayang. “Ada soal cerita yang persis seperti kisahku. Aku latihan
setiap 2 hari sekali dan Sindhu latihan setiap 3 hari sekali. Jika kami bertemu
hari Kamis, 6 Juli, kapan kami bertemu lagi?”
“Jadi
jawabnya?” pancing Mbak Laras.
“Faktorisasi
prima dari 2 adalah 2. Faktorisasi prima dari 3 adalah 3. Lalu KPKnya = 2 x 3 =
6. Artinya, 6 hari lagi setelah 6 Juli. Jadi, aku dan Sindhu akan bertemu lagi
hari Rabu, 12 Juli,” jawab Mayang. “Betul kan, Mbak?”
“Yak, betul!” jawab Mbak Laras sambil mengacungkan ibu jarinya.
***
Hari
Rabu, 12 Juli, Mayang datang latihan awal. Dia senang sekali ketika Sindhu
terlihat memasuki halaman sanggar. Mayang segera menyambutnya dengan sukacita. Dia
juga sudah belajar sedikit tentang bahasa isyarat, supaya Sindhu mengerti apa
yang akan dikatakannya.
“Terima
kasih untuk selendang yang sudah kaupinjamkan. Maaf karena lama mengembalikan,”
kata Mayang menggunakan bahasa isyarat yang sudah dilatihnya.
Berdua
mereka segera menjadi akrab. Kendala bahasa tidak menjadi halangan mereka untuk
berteman.
Dan
yang lebih mengembirakan lagi, ternyata rumah Sindhu sangat dekat dengan rumah
Mayang. Hanya berjarak dua rumah dan satu kebun saja.
“Owalah, tahu begitu dari kemarin selendang Sindhu kuantarkan langsung ke rumahnya sajaaaa…!”
**SELESAI**