Search This Blog

> Belajar Matematika dan Sains Menyenangkan

Saturday, January 31, 2026

Kue Putu Ayu Buatan Gendhis

 


“Uh, aku capek!” Gendhis meletakkan cetakan kue putu ayu dengan kasar.

“Kenapa, Ndhis? Biasanya kamu membuat kue dengan gembira,” tanya Mbak Nawang sambil mendekati Gendhis.

“Ini, Mbak. Pesanan kue Gendhis banyak sekali,” sahut Gendhis sambil memonyongkan bibirnya. “Padahal Gendhis masih ada PR Matematika. Duh, pusing!”

Kesibukan Gendhis ini berawal sejak bulan lalu. Ketika ada acara Saparan di desanya, Gendhis mencoba membuat kue putu ayu, kue tradisional Jawa Tengah yang sering disajikan ketika ada kegiatan kearifan lokal atau tradisi budaya Jawa.

Sebetulnya membuat kue putu ayu sangat mudah, tapi kata Ibu-Ibu yang mencicipi, kue putu ayu buatan Gendhis istimewa. Sejak saat itu, Gendhis sering menerima pesanan kue dari tetangga sekitar rumahnya.

“Mau Mbak bantu?” tanya Mbak Nawang.

Gendhis memikirkan tawaran Mbak Nawang.

“Ehm, sepertinya tidak usah, Mbak,” sahut Gendhis menolak dengan halus. “Minggu lalu, ketika adonan kue dibuatkan Ibu, kata Bu Puji rasanya kok agak beda, lain dari biasanya.”

“Oya? Bedanya apa?” tanya Mbak Nawang.

“Entahlah, padahal resepnya sama persis. Dan Ibu lebih jago membuat kue. Karena itu, Gendhis berusaha sebisa mungkin membuat sendiri kue-kue ini. Terima kasih sudah menawarkan bantuan, Mbak.”

Mbak Nawang mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. “Mbak bisa mengerti, kok. Mungkin karena Gendhis selalu mengadon kue sambil bersenandung dengan hati gembira, kuenya jadi istimewa,” ucap Mbak Nawang.

Gendhis merasa lega, karena Mbak Nawang bisa mengerti.

Mbak Nawang memperhatikan ketika Gendhis mulai menimbang tepung terigu untuk satu resep adonan. “Sebetulnya pesananmu berapa, Ndhis?” tanya Mbak Nawang.

“Seratus dua puluh lima, Mbak!” sahut Gendhis sambil menakar dengan teliti.

“Satu resep bisa jadi berapa buah?”

“Tiga puluh.”

“Kenapa kamu tidak menakar untuk dua atau tiga resep sekaligus. Kan bisa menghemat waktu untuk mengadon. Nanti tinggal mengukusnya saja,” usul Mbak Nawang.

“Wah, kenapa tidak terpikirkan seperti itu, ya! Mbak jenius!” katanya sambil memeluk kakak kesayangannya. “Baiklah kalau begitu! Mari berhitung!”

Mbak Nawang tertawa geli melihat tingkah Gendhis.

“Kue yang sudah jadi tiga puluh, yang sedang dikukus tiga puluh juga. Jadi aku harus membuat tiga resep lagi. Nanti jadi seratus lima puluh. Sisanya bisa dimakan ramai-ramai.”

“Wah, asyik!” seru Mbak Nawang menyambut ucapan Gendhis.

“Kita bisa pakai perkalian atau kelipatan seperti yang sudah Gendhis pelajari di sekolah kan, Mbak!” kata Gendhis bersemangat.

Mbak Nawang menganggukkan kepala sambil tersenyum lebar, karena jawaban Gendhis tepat sekali.

“Karena akan langsung membuat tiga resep, berarti semua bahan dikalikan tiga,” gumam Gendhis sambil mulai berhitung.

“Dua butir telur x 3 = 6 butir,

75 gram gula pasir x 3 = 225 gram,

125 gram tepung terigu x 3 = 375 gram,

1 sendok teh SP x 3 = 3 sendok teh,

1 sendok teh garam x 3 = 3 sendok teh,

1 sendok teh vanili bubuk x 3 = 3 sendok teh,

100 ml santan cair yang sudah direbus x 3 = 300 ml,

1 sendok makan pasta pandan x 3 = 3 sendok makan.

Kelapa muda parut untuk topping, beri garam sedikit, lalu dikukus.

Pewarna hijau secukupnya.”

“Yes, betul banget, Ndhis!” puji Mbak Nawang.

Gendhis langsung bergerak cepat. Mengambil wadah yang berukuran lebih besar, lalu mulai menimbang satu per satu bahan yang sudah disiapkan. Semuanya dikalikan tiga.

Setelah semua bahan selesai ditakar, Gendhis mengambil mixer. Pertama-tama dia mengocok telur, gula, garam, SP dan vanili sampai mengembang. Lalu, satu per satu bahan yang tersisa dimasukkan ke dalam adonan. Semangat Gendhis kembali seketika. Dia membuat adonan kue putu ayu sambil bersenandung gembira.

“Wah, adonan kali ini pasti hasilnya sangat luar biasa!” puji Mbak Nawang merasakan keceriaan adiknya.

Gendhis tersenyum senang. Setelah adonan jadi, dia memasukkan pewarna makanan dengan hati-hati. “Satu tetes saja, supaya warnanya lembut dan cantik.”

Adonan berwarna hijau muda sudah tercampur sempurna, Gendhis lalu memasukkannya ke masing-masing cetakan putu ayu, yang di dalamnya sudah diberi sejumput parutan kelapa muda. Tidak lupa sebelumnya cetakan harus dioles sedikit minyak, supaya tidak lengket.

“Nah, sekarang sudah siap dikukus,” gumam Gendhis sambil memandangi adonan dalam cetakan yang sudah berjajar rapi. “Benar, Mbak Nawang. Aku jadi menghemat waktu banyak sekali. Sekarang sambil menunggu kue dikukus, aku bisa mengerjakan PR Matematikaku.”

Mbak Nawang tersenyum senang karena bisa membantu adik kesayangannya.

Gendhis memasukkan tiga puluh kue ke dalam kukusan, lalu memasang alarm. “Sekarang tinggal menunggu dua puluh lima menit ke depan.” Gendhis memeriksa besar nyala api, lalu dia meninggalkan dapur. Tak lama kemudian kembali dengan beberapa buku di tangannya.

“Yakin tidak perlu bantuan Mbak?” tanya Mbak Nawang ketika lewat dapur lagi.

“Iya, Mbak. Kalau tinggal menunggu matang, bisa dilakukan sambil mengerjakan PR,” jawab Gendhis sambil tersenyum.

“Baiklah. Kalau begitu Mbak mau ke rumah Mbak Ira dulu, ya!” kata Mbak Nawang sambil berlalu. “Jangan lupa, nanti Mbak harus mencicip kue putu ayunya lho!” gurau Mbak Nawang dari balik pintu.

“Siap, Mbak! Terima kasih. Mbak Nawang memang kakak terbaik,” balas Gendhis sambil membentuk hati dengan jarinya.

 

***SELESAI***


Thursday, January 29, 2026

Kapan Mengembalikan Selendang Sindhu?

 

Gubrak… Mayang menabrak kursi di ruang tamu.

“Ada apa sih, May? Kok buru-buru?” tegur Mbak Laras.

“Waduh, aku lupa, Mbak. Hari ini ada latihan tambahan dari Pak Seno, buat pertunjukan wayang orang bulan depan. Sepuluh menit lagi aku harus sudah di sanggar,” sahut Mayang panik.

Mayang segera menyambar tas yang biasa dibawanya ke sanggar, berlari cepat ke luar, lalu mengambil sepedanya yang diparkir sembarangan di depan rumah.

“Berangkat dulu, Mbak. Tolong pamitkan Ibu, ya!” seru Mayang tergesa mengayuh sepedanya.

Sampai di sanggar, tepat lima menit latihan akan dimulai. Pak Seno sudah mulai mempersiapkan tembang-tembang pengiring latihan. Sembilan anak lainnya sedang bersiap memakai jarik, kemben dan selendang.

Mayang membuka tas dan mengeluarkan perlengkapan menarinya. Dengan cekatan Mayang segera memakai jarik dan kemben. Setelah selesai, lalu membongkar tas lagi.

“Ya ampun, di mana selendangku?” Mayang mengeluarkan semua isi tas, tapi tetap saja selendangnya tidak ketemu. “Duh, kemarin kan kucuci!”

Dia ingat Pak Seno sudah mewanti-wanti, tidak boleh lupa perlengkapannya masing-masing. Semua anak harus belajar mandiri, mempersiapkan keperluannya sendiri.

Wajah Mayang mulai memerah karena menahan tangis. Dia sedang memberanikan diri untuk meminjam selendang pada Pak Seno, ketika tiba-tiba seorang anak mencolek lengannya.

Mayang menengok, dilihatnya seorang anak perempuan mengulurkan sebuah selendang putih bermotif batik jumputan. Dia menunjuk juga ke selendang kuning yang sudah dipakainya.

“Ah, dia membawa dua selendang,” pikir Mayang. Seperti mendapat durian runtuh, Mayang langsung menerima selendang putih dari tangan anak itu. “Terima kasih,” sahutnya.

Anak perempuan itu mengangguk sambil tersenyum.

Pak Seno memberi kode untuk memulai latihan. Semua anak bersiap di posisinya masing-masing.

Mayang lega sekali. Dia menari dengan gembira. “Setelah ini, aku akan berkenalan dengannya,” batin Mayang tak sabar.

Satu jam berlatih, saatnya istirahat. Mayang mencari-cari anak perempuan itu. “Ah, itu dia!”

Ketika didekati, ternyata dia sedang berdiskusi dengan Pak Seno. Kelihatan sangat serius sampai mereka berdua menggunakan kedua tangan untuk berbicara. Tak lama kemudian Pak Seno mencontohkan beberapa gerakan, lalu anak itu menirukan dengan luwes dan indah. Mayang tak enak kalau menyela.

“Oke, waktu istirahat selesai!” seru Pak Seno.

Sebelum latihan dimulai, Pak Seno mengenalkan anak perempuan itu.

Namanya Sindhu. Pindahan dari Wonosobo. Ternyata Sindhu sudah sering menang kejuaraan tari, karena itulah gerakannya sangat luwes dan indah. Dia akan ikut dalam pertunjukan wayang orang bulan depan. Yang lebih mencengangkan lagi, Sindhu adalah seorang tunarungu. Pendengarannya memang kurang sempurna, tapi dari sayup-sayup iringan yang mampu didengarnya, dia bisa menarikan banyak tarian dengan sempurna.

“Karena Sindhu juga harus berlatih di sekolahnya, dia akan datang latihan di sanggar setiap tiga hari sekali. Sedangkan kalian seperti biasa tetap latihan dua hari sekali, sampai hari pertunjukan tiba. Semua bersemangat, ya!” seru Pak Seno yang disambut dengan sorakan anak-anak.

Pak Seno mengakhiri latihan ketika jam tua di sanggarnya berdentang lima kali. Suara tembang iring-iringan sudah terdengar lirih, ketika Mayang selesai membereskan perlengkapannya. Sudut matanya mencari-cari Sindhu. Dia hendak mengembalikan selendang yang dipinjamkan kepadanya. Tapi, Sindhu tidak kelihatan.

“Pak Seno, Sindhu di mana, ya?” tanya Mayang pada Pak Seno.

“Oh, baru saja pamit pulang. Katanya sudah ditunggu Bapaknya,” jawab Pak Seno.

“Lho, kok sudah pulang?” gumam Mayang.

“Kenapa memangnya?” tanya Pak Seno.

Mayang takut kalau mengaku mau mengembalikan selendang Sindhu, jadi dia bilang hanya ingin berkenalan. Dan Pak Seno juga belum tahu di mana rumahnya.

“Ya sudah kalau begitu. Latihan selanjutnya saja kukembalikan,” batin Mayang. 

***

Tapi, latihan berikutnya tak ada Sindhu. Mayang baru ingat kalau Sindhu ke sanggar tiap tiga hari sekali.

“Lalu kapan ketemu lagi? Kelamaan meminjam jadi nggak enak.” Mayang bercerita ke Mbak Laras.

“Kamu sudah pernah belajar Kelipatan Persekutuan Terkecil atau KPK?” tanya Mbak Laras.

“Oiya, aku tahu,” sahut Mayang. “Ada soal cerita yang persis seperti kisahku. Aku latihan setiap 2 hari sekali dan Sindhu latihan setiap 3 hari sekali. Jika kami bertemu hari Kamis, 6 Juli, kapan kami bertemu lagi?”

“Jadi jawabnya?” pancing Mbak Laras.

“Faktorisasi prima dari 2 adalah 2. Faktorisasi prima dari 3 adalah 3. Lalu KPKnya = 2 x 3 = 6. Artinya, 6 hari lagi setelah 6 Juli. Jadi, aku dan Sindhu akan bertemu lagi hari Rabu, 12 Juli,” jawab Mayang. “Betul kan, Mbak?”

“Yak, betul!” jawab Mbak Laras sambil mengacungkan ibu jarinya. 

***

Hari Rabu, 12 Juli, Mayang datang latihan awal. Dia senang sekali ketika Sindhu terlihat memasuki halaman sanggar. Mayang segera menyambutnya dengan sukacita. Dia juga sudah belajar sedikit tentang bahasa isyarat, supaya Sindhu mengerti apa yang akan dikatakannya.

“Terima kasih untuk selendang yang sudah kaupinjamkan. Maaf karena lama mengembalikan,” kata Mayang menggunakan bahasa isyarat yang sudah dilatihnya.

Berdua mereka segera menjadi akrab. Kendala bahasa tidak menjadi halangan mereka untuk berteman.

Dan yang lebih mengembirakan lagi, ternyata rumah Sindhu sangat dekat dengan rumah Mayang. Hanya berjarak dua rumah dan satu kebun saja.

“Owalah, tahu begitu dari kemarin selendang Sindhu kuantarkan langsung ke rumahnya sajaaaa…!” 

**SELESAI**


*cerpen ini disunting sedikit, sudah pernah dimuat di buku antologi berjudul "Kebun Bunga Opa dan Cerita Seru Lainnya", Penerbit Forsen Books, Maret 2024.

Aduh, Itu Saya!

  Siang itu, kabut tipis terbang rendah . Di daerah dataran tinggi seperti Dieng, Wonosobo, hampir setiap waktu panasnya siang bercampur den...