Search This Blog

> Belajar Matematika dan Sains Menyenangkan

Saturday, October 18, 2025

Merry Christine Rumainum: Ruang Bermain dan Belajar Untuk Anak-Anak Papua

  

Saya salah satu ibu yang beruntung, karena berhasil melewati fase belajar membaca anak-anak tanpa ada kendala yang berarti. Bukan berarti saya ibu yang pandai dan sabar mengajari anak-anak membaca pada usia dini, tapi kebetulan saja saya mengenal literasi cukup awal, sehingga saya bisa memanfaatkannya untuk membuat anak-anak bisa membaca tanpa paksaan.

Anak-anak suka ketika saya bercerita. Cerita yang lucu, yang seru, atau yang menegangkan. Awalnya saya mengarang-ngarang saja, sesuai kebutuhan, tapi ketika sudah tidak ada bahan cerita, mulailah saya merasa harus punya banyak buku bacaan untuk anak seusia mereka. Saya berusaha memilihkan buku anak dengan bahasa dan cerita yang kaya. Anak-anak suka. Dan entah berapa lama kami membaca bersama, tahu-tahu anak-anak sudah bisa membaca sendiri. Momen itu benar-benar saya nikmati, merasa amazing ketika mereka bisa selesai membaca sendiri satu buku sederhana. Lalu berlanjut ke buku level berikutnya, lalu level yang lebih tinggi lagi (baca: tebal dan tanpa gambar).

Saya menyadari bahwa saya berhutang banyak pada dunia literasi. Karena itulah, meski saya bukan orang yang sangat giat bergerak di dunia literasi, setidaknya saya menyenanginya.

Mengenal sosok Merry Christine Rumainum, meski cuma lewat media sosial, membuat saya kagum, betapa besar kontribusi yang sudah diberikannya untuk pergerakan literasi. Baik dalam perkembangan sastra di Papua Barat, maupun kepeduliannya pada anak-anak Papua yang membutuhkan ruang untuk bermain dan belajar dalam perkembangannya.   



Merry Christine Rumainum, Sang Penyulam Kata

“Sastra adalah rumah bagi pikir menemukan dirinya dalam untaian kata tentang rindu yang meredam jejak kenangan bahkan harapan yang tak pernah padam serta rasa yang menghidupkan setiap sudut kota.”

Adalah salah satu kutipan yang disuarakan Merry Christine Rumainum. Sang Penyulam Kata, demikian kemudian Merry disebut. Gadis bermata sendu dan berambut ikal yang sebentar lagi berusia 34 tahun itu adalah seorang penulis dan penggiat seni yang berasal dari Papua Barat. Tentu saja sebutan itu tidak muncul begitu saja. Aktivitasnya dalam dunia literasi yang sudah berlangsung sejak tahun 2016 telah menelurkan beberapa buku antologi dan buku mandiri.

Kecintaan dan kepeduliannya pada pergerakan literasi Papua Barat memantiknya untuk mendirikan Perkumpulan Sastra Papua Senja, atau sering disebut SAPASE.


Tentang Perkumpulan Sastra Papua Senja

“Generasi muda setempat memiliki potensi untuk berkarya dalam dunia sastra, sayangnya masih kekurangan wadah untuk mengembangkannya,” kata Merry sebagai Ketua Komunitas SAPASE.

Karena itu, melalui berbagai kegiatan yang menjadi program SAPASE, Merry mengharapkan untuk ke depannya hasil karya sastra anak-anak muda Papua tersebut, baik puisi, cerita, atau karya lainnya, dapat menembus skala nasional. Bisa diterima dan diterbitkan oleh penerbit-penerbit mayor di Indonesia.

Beberapa program kegiatan SAPASE diantaranya adalah pementasan sastra dan seni, lomba menulis sastra dan seni, diskusi sastra dan seni, dan berbagai kegiatan lain yang berhubungan dengan hal tersebut. Menjadi kebanggaan tersendiri ketika kemudian berhasil dibuat sebuah film animasi tiga dimensi “Tom dan Regi”.

Dan belum lama ini, Komunitas Sastra Papua Senja berkolaborasi dengan Kemendikbudristek mengadakan Festival Pesta Menulis dan Pesta Perasaan, yang merupakan keberlanjutan program sebelumnya, yaitu pembuatan film animasi tiga dimensi “Tom dan Regi” untuk anak-anak kecil.

 


Selain program tersebut adalah Sastra Tanah Kasuari. Sebagai salah satu program unggulan dari Perkumpulan Sastra Papua Senja untuk membuka ruang diskusi sastra dan apresiasi sastra atau Alih Wahana Sastra bagi karya-karya sastra Papua dan Sastra terbaik Indonesia, program ini juga bertujuan untuk mempromosikan sastra Papua Barat, khususnya Manokwari, serta membangun ekosistem sastra yang kuat di Papua barat. Kegiatan ini didukung oleh Kementrian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Penguatan Komunitas tahun 2025.

 


Untuk Anak-Anak Papua yang Kekurangan Ruang Bermain dan Belajar

Suatu hari dalam sebuah acara bincang-bincang, Merry berkata, “Perempuan itu berkontribusi untuk membangun tanah Papua. Pintu masuknya adalah pendidikan. Mulailah dari rumahnya sendiri, mulailah dari hidupmu sendiri. Membangun tanah Papua itu, kita tidak perlu menjadi hebat, tetapi kita bisa menjadi perempuan-perempuan yang berpengaruh. Berpengaruh yang bagaimana? Kita bisa berpengaruh dengan apa yang kita miliki, yang sudah diberikan Tuhan pada kita.”

Gadis manis sastrawan Papua Barat itu menjadi duta baca Papua Barat tahun 2018-2020. Sebagai lulusan S1-Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Papua, yang sempat menjadi dosen, melihat banyaknya anak Papua yang tidak mendapatkan ruang untuk bermain dan belajar, Merry yang saat itu berumur 27 tahun berinisiatif membuat Pondok Baca Senja Papua Cerdas.

 


Aktivitas di Pondok Baca Senja Papua Cerdas cukup bervariasi. Dari Selasa sampai dengan Jumat Cerdas, anak-anak akan belajar membaca, menulis, berhitung, menggambar, belajar bahasa Inggris, bahkan ada pembelajaran karakter. Lalu kegiatan dalam seminggu itu akan diakhiri dengan Sabtu Kreatif.

 


Para pengajar yang memberi pembelajaran pun datang dari berbagai komunitas dan mahasiswa. Mereka dengan senang hati memberikan bantuan dalam menjalankan aktivitas-aktivitas dan program Pondok Baca Senja Papua Cerdas.


Anak-anak Papua yang memang sangat membutuhkan ruang bermain dan belajar menyambut dengan sangat gembira adanya Pondok Baca Senja Papua Cerdas. Mereka mengikuti berbagai kegiatan dengan penuh semangat dan hati gembira. 


Selanjutnya kiprah dan kepedulian Merry Christine Rumainum sebagai founder Pondok Baca Senja Papua Cerdas ini membawanya menjadi salah satu penerima Apresiasi SATU Indonesia Award Provinsi Papua Barat tahun 2024 di bidang Pendidikan, dengan judul kegiatannya: Literasi Papua Cerdas Pondok Baca Senja Papua Cerdas.


 

Sumber:

Tuesday, October 7, 2025

Tebak Usia

  

Persamaan Linear Tiga Variabel adalah persamaan matematis yang terdiri dari tiga variabel berpangkat satu yang saling terkait. Bentuk umumnya adalah ax + by + cz = d, dengan a, b, c adalah koefisiennya, sedangkan x, y, z adalah variabelnya, dan d adalah konstanta. Beberapa kumpulan persamaan linear tiga variabel disebut Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel (SPLTV). SPLTV ini digunakan untuk mencari nilai-nilai dari variabel x, y, dan z yang memenuhi semua persamaan dalam sistem tersebut.

 



Hari ini sedang ada acara Kumpul Keluarga di rumah Oma-Opa. Ternyata ramai sekali kalau semua bisa datang.

Ella, Atha, dan Om Didi sedang bermain bersama Dek Aoki ketika Nino datang ikut bergabung. Cukup lama mereka tertawa-tawa melihat tingkah Aoki, sampai akhirnya Aoki tiba-tiba menangis. Berempat mereka kebingungan, lalu datanglah Tante Dian.

“Sini Aoki, makan dulu lalu bobok, ya,” kata Tante Dian sambil menggendong Aoki.

“Oh, lapar ternyata,” tukas mereka berempat hampir bersamaan.

“Ayo sambil dimakan jajanannya.” Tiba-tiba Oma muncul dari kamarnya, lalu mendekati mereka berempat. “Oiya, dua hari lalu ada yang ulang tahun, nih.” Oma tersenyum sambil memberi selamat pada Ella dan Atha.

“Oiya, betul!” Nino menyahut sambil ikut memberi salam. “Terus sekarang umur berapa?” tanya Nino.

“Hehehe, kira-kira umur berapa, ya? Coba tebak,” sahut Ella iseng.

“Eh, daripada cuma tebak-tebakan, Om kasih soal cerita matematika aja,” kata Om Didi tiba-tiba.

“Apaan, Om. Masa acara kumpul-kumpul juga dikasih soal cerita matematika. Kayak di sekolah aja,” keluh Nino sambil cemberut.

“Yah, buat asyik-asyikan aja. Nanti kalau berhasil jawab, Om kasih hadiah, deh,” kata Om Didi.

Mendengar kata hadiah, tiba-tiba Nino bersemangat. “Oke, baik, Om. Tapi boleh kerja sama, ya. Meski Kak Ella dan Kak Atha sudah tahu jawabannya,” jawab Nino menawar.

“Bolehlah, bolehlah,” sahut Om Didi. Om Didi berpikir sebentar, lalu mulai memberi pertanyaan. “Lima tahun yang lalu jumlah usia Ella, Atha, dan Om Didi adalah 53 tahun. Tahun ini, usia Om Didi 17 tahun lebihnya dari usia Atha, sedangkan jumlah usia Ella dan Om Didi adalah 51 tahun. Jika sekarang tahun 2025, maka berapa usia Ella dan Atha sekarang?”

Ella segera minta selembar kertas dan bolpoin ke Oma, lalu bertiga dengan Atha dan Nino berdiskusi, berusaha menggarap soal cerita dari Om Didi.

E = Ella; A = Atha; Om = Om Didi

Tahun 2020 : E + A + Om = 53

Tahun 2025 : E + A + Om = 53 + (3 x 5)

   E + A + Om = 68 à persamaan 1

   Om = A + 17 à persamaan 2

   E + Om = 51 à persamaan 3

 

Substitusi persamaan 2 ke persamaan 1 :

E + A + Om = 68

ó E + A + (A + 17) = 68

ó E + 2 A + 17 = 68

ó E + 2 A = 68 – 17  

ó E + 2 A = 51 à persamaan 4

 

Substitusi persamaan 2 ke persamaan 3 :

E + Om = 51

ó E + (A + 17) = 51

ó E + A = 51 – 17

ó E + A = 34 à persamaan 5

 

Eliminasi persamaan 4 dan 5 :

E + 2 A = 51

E + A    = 34

___________ _

       A   = 17

 

Substitusi nilai A ke persamaan 5 :

E + A = 34

ó E + 17 = 34

ó E = 34 – 17 = 17

 

Tak lama kemudian, Nino menunjukkan hasil hitungan tersebut ke Om Didi. “Jadi sekarang umur Kak Ella 17 tahun dan umur Kak Atha 17 tahun juga.”

“Kok sama, ya?” tanya Om Didi.

“Ya iyalah, kembar!” seru Ella, Atha, dan Nino bersamaan.

Om Didi tertawa sambil mengeluarkan tiga lembar uang berwarna biru.

“Wah, asyik! Makasih ya, Om. Sering main tebak-tebakan sama Om Didi bisa kaya nih, kita,” gurau Atha yang disambut gelak tawa Om Didi.

 

**SELESAI**

Happy Sweet Seventeen, Dear Ella-Atha. Love youuuu banyak-banyak..

Rumah-rumahan Buat Seto

  Beberapa waktu yang lalu saya mengirim sebuah cerpen anak ke Festival Cerita Anak Nusantara yang berjudul “Kuluk Drumblek Buat Seto”. Asih...